Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 56


__ADS_3

Mau tak mau Dewi pun akhirnya bercerita kepada adiknya jika sudah melahirkan disalah satu rumah sakit di Jakarta.


"Prirus... ibu mau kesini," Kata Dewi setelah selesai telepon dengan Jati Wibowo.


"Tidak apa-apa, kalau gitu aku telepon ajudan." Belum dijawab Dewi, Bram menghubungi Jonathan agar mengantarkan mertuanya ke Jakarta, dengan menumpang pesawat saja. Dengan kehadiran bu Endang Bram berharap, Dewi bisa lebih tenang.


"Ibu diantar pakai mobil ya Prir." Dewi merasa lega mendengarkan ibunya akan diantar, tentu keselamatannya terjamin.


"Iya, tapi hanya sampai bandara." Mereka pun ngobrol membicarakan tentang orang tua Dewi, Bram sedikit lega, karena Dewi sudah mulai cerewet mungkin karena bu Endang dan pak Adi akan datang, semangat Dewi sedikit pulih.


Malam harinya tepatnya jam tujuh malam, Dewi baru saja menjenguk putranya bersama Bram. "Sekarang kamu makan dulu," Bram menyuapi Dewi dengan masakan yang sudah disediakan oleh rumah sakit, setelah kembali ke kamar.


"Kamu juga makan, Prirus." Dewi perhatian.


"Jangan pikirkan aku honey... aku pasti makan." Bram menyuapi Dewi. Sesekali memergoki Dewi sedang meringis seperti menahan rasa sakit.


"Kamu kenapa honey... apa ada yang sakit?" Bram meletakan sendok lalu memegang telapak tangan Dewi.


"Anuku ngebet banget Prirus..." Dewi tentu masih merasa canggung memperlihatkan anggota tubuhnya kepada Bram jika bukan karena terpaksa.


"Ngebet? Apa itu?" Bram tidak tahu arti kata ngebet.


"Anu aku sakit banget." Dewi memegang dadanya.


Bram terkejut, sangking banyak yang dipikirkan hingga tidak memperhatikan jika dua buah jambu Dewi membesar. Baju Dewi pun basah lantaran air susu sampai tumpah. Bram hanya bisa meneguk saliva. *Empat puluh hari lagi Bram, yang sabar*.


"Lah... terus bagaimana biar airnya berkurang? Apa harus aku sedot? Coba aku lihat." Bram hendak menyentuh dada Dewi, yang lebih besar dua kali lipat daripada sebelumnya, membuat jiwa laki-laki Bram menegang.


"Iiihh apaan sih...!" Sungut Dewi, menggunakan kedua tangannya untuk menutup dua buah dada nya.


"Aku cuma mau lihat sedikiiit... saja, masa nggak boleh sih," Bram pun nekat menyingkirkan tangan Dewi dari dada.


"Sudah ahh, sini aku habiskan nasinya," Dewi ambil alih piring dari tangan Bram, lalu makan sendiri. Selesai makan Dewi akhirnya tidur.


Bram memandangi Dewi yang sudah terlelap tersenyum lebar. Diciumnya pipi Dewi yang sedikit cubby itu, lalu ikut berbaring di sebelah Dewi. Bram sedikit lega rupanya hanya mendengar jika sang ibu mertua akan datang, suasana hati istrinya membuncah.


***********


Keesokan harinya, pak Adi bersama istri sudah tiba di rumah sakit, lalu bertanya kepada resepsionis di mana wanita yang bernama Dewi dirawat. Lalu naik ke lantai tiga mencari ruangan yang sudah di tunjukkan petugas.


"Mencari siapa Bu," Tanya Ami ketika melihat pasutri mengedarkan pandanganya mencari nama ruangan sesuai petunjuk. Kebetulan Ami yang menyambut.


"Saya mencari ruang VVIP Mbak, pasien yang bernama Dewi," Jawab Ami.

__ADS_1


"Oh... kebetulan saya art Non Dewi Bu" Ami duduk di depan ruang inkubator, menyalami kedua orang tua Dewi.


"Jadi... ibu ini orang tua Dewi?" Tanya Ami. Setelah bu Endang memperkenalkan diri.


"Iya Mbak."


Mereka bertiga pun ngobrol menceritakan masalah anak Dewi. Mengajak pak Adi dan bu Endang melihat cucunya dari luar kaca. Bu Endang sedih membayangkan bagaimana perasaan Dewi saat ini. Wanita itu pun bergegas ke kamar Dewi diikuti pak Adi. Ami, mengantar bu Endang sampai pintu yang ingin segera melihat keadaan putrinya.


Tok tok tok


"Ada yang mau masuk Prirus...." Dewi pagi ini pun sedang merasakan cenut-cenut dadanya yang lebih besar dari tadi malam. Sementara Bram toal toel tanganya selalu menggoda Dewi, tidak mau diam.


Tok tok tok.


"Prirus... cepetan bukain pintu." Dewi setengah mengusir.


"Iya, iyaa..." Bram mengalah lalu berdiri.


Dewi menatap Bram yang sudah menjauh merasa lega, kala berhasil menyingkirkan tangan suaminya yang selalu usil sejak bangun tidur. Dewi menatap tangan Bram yang sedang membuka pintu ingin tahu siapa yang datang.


Tampak dua orang yang Dewi rindukan disambut oleh Bram. Bram tampak berbicara sesuatu entah apa itu hingga beberapa menit kemudian menghampiri Dewi.


"Bapaak... Ibuuu... hu huuuu..." Dewi menangis di pelukan sang Ibu. Sekuat apapun anak perempuan, rasa manja terhadap ibu pasti tidak akan berkurang.


"Kok Ibu saja yang kamu peluk, bapak iri dong." Kelakar pak Adi yang hanya terpaku di sebelah Bram, memandangi dua wanita yang beliu sayangi.


"Bapak... sekarang gemukan" Dewi akhirnya tersenyum memperhatikan pak Adi, badanya mulai berisi.


"Ibu kamu itu yang bikin perut Bapak jadi buncit." Pak Adi terkekeh mengusap perutnya.


"Makanya... kamu harus menjadi istri seperti ibumu, selalu memasak yang enak untuk suami kamu," Pak Adi melirik Bram di sebelahnya.


Dewi memutar bola matanya ke arah Bram, yang sedang memamerkan gigi putihnya kepada Dewi. Dewi baru sadar, jika menjadi istri itu harus melayani suami. Memasak untuknya, menyiapakan keperluan sehari-hari, tetapi selama ini Dewi belum melakukan itu. Sebab, segala sesuatunya sudah dilakukan Ami.


"Bagaimana, kamu sudah seperti ibumu belum?" Tanya pak Adi.


"Dewi itu istri saya Pak Adi, bukan pembantu saya." Bram menjawab serius, pandanganya tertuju kepada Dewi yang sedang gelagapan untuk menjawab.


"Bapak kamu kan kerjanya sekarang lebih santai Wi, nggak kudu ke pasar malam-malam seperti dulu" Bu Endang menimpali.


"Iyakah?" Dewi memainkan urat tangan pak Adi yang berwarna hijau.


Bu Endang pun menceritakan keadaannya sekarang. Setelah diusir dari kampung ternyata ada hikmah yang harus dipetik. Yakni justeru bisa bekerja di restoran dengan gaji UMR. Tiap hari tidak pernah memasak. Untuk Jati dan Galih selalu membawa makanan dari restoran.

__ADS_1


"Alhamdulillah... kenapa tiap ibu telepon tidak pernah mememberi tahu aku?" Dewi menatap ibu dan bapak bergantian.


"Hehehe... kejutan" Bu Endang tertawa.


"Ada satu lagi Wi, pasti kamu juga belum tahu." Sela pak Adi.


"Ada apa Pak?" Tanya Dewi ingin tahu.


"Suami kamu ini sudah merenovasi rumah kita Wi, sekarang bagus banget," Imbuh pak Adi.


"Prirus... kamu kok nggak bilang sih..." Dewi menoleh Bram.


"Apa itu Prirus?" Potong pak Adi dan bu Endang bersamaan. Beliau merasa aneh mendengar panggilan Dewi kepada Bram.


"Dewi manggil saya pria rusak masa bu," Adu Bram. Hanya ingin menghibur Dewi.


"Dewi..." Pak Adi geleng-geleng kepala. Sementara Dewi hanya senyum-senyum saja.


Bram bersama pak Adi ngobrol di sofa, sementara Dewi memberi tahu ibunya jika dadanya membengkak.


"Mendingan asi kamu segera di kasih ke bayi kamu Wi," Saran bu Endang.


"Tapi apa diijinkan dokter Bu," Dewi ragu-ragu.


"Kenapa tidak? Bayi kamu yang kuning itu, akan cepat normal dengan pemberian asi." Tutur Bu Endang sudah berpengalaman maka beliu tidak begitu panik dengan kejadian seperti itu, karena saat Dewi lahir pun mengalami hal yang sama.


"Prirus..." Panggil Dewi dari ranjang.


"Hus! Rubah panggilan kamu itu Nak, tidak sopan" Bu Endang menasehati Dewi.


"Sekarang ibu mau tanya, apa selama ini, Bram masih seperti dulu sebelum menikahi kamu?" Selidik bu Endang. Sebenarnya Endang yakin dengan janji menantunya bahwa akan berubah demi Allah. Tetapi yang namanya manusia bisa saja khilaf.


"Aku rasa Prirus sudah berubah Bu." Dewi meyakinkan ibunya.


"Nah, itu kamu tahu, sekarang ini kalian sudah menjadi orang tua, jangan bersikap seperti anak kecil." Nasehat bu Endang panjang lebar.


"Ada apa honey..." Bram pun menghentikan obrolan ibu dan anaknya itu.


"Tolong antar aku memberi asi dedek," Pinta Dewi.


"Okay..." Bram bergerak lebih cepat ambil kursi roda, lalu mendekatkan kepada Dewi.


"Tidak usah pakai roda Mas, aku bukan orang sakit." Tolak Dewi. Seketika Bram menghentikan mendorong roda sebelum sampai di depan Dewi. Bukan menuruti kata-kata Dewi yang menolak pakai roda, tetapi panggilan Dewi itu yang membuat Bram terperangah.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2