
Di sela-sela isak tangis Surti menceritakan pekerjaannya yang dia jalani selama merantau dua tahun di Jakarta. Saat ia bekerja sebagai kupu-kupu malam, tidak ada lagi yang Surti tutup-tutupi.
Kendati hati sang ibu hancur mendengar cerita anaknya yang ia gadang-gadang sungguh tidak percaya apa yang Surti lakukan.
"Kamu tega Surti... kamu tega sama ibu Nak..." Budhe menangis tergugu, berdiri di depan jendela menatap lampu-lampu gemerlap.
"Maafkan Surti Bu..." Lirih Surti sambil menyusut air matanya. Namun budhe tidak menghiraukan.
Budhe seketika ingat Dewi, saat pertama kali ke Jakarta, Surti yang mengajaknya, dan pulang dalam keadaan hamil. Pikiran buruk melintas di benak. Ia kemudian balik badan kembali ke ranjang.
"Jangan-jangan kamu juga mengajak Dewi bekerja seperti itu Sur?" Budhe menahan amarah.
Surti tidak berani menatap sang ibu yang sedang marah terdengar dari intonasi suaranya meninggi.
"Jawab Surti!" Tandas budhe, wanita 40 tahun itu sebenarnya tidak mau berkata kasar, mengingat Surti sedang sakit, tetapi budhe memendam rasa kecewa yang dalam.
Hingga beberapa saat budhe menunggu Jawaban Surti dalam hati ia berharap jawaban putrinya tidak mengecewakan. Budhe sangat menyayangi Dewi seperti anaknya sendiri, jika sampai hal itu terjadi budhe tidak bisa memaafkan putrinya.
"Jawab Surti!" Kesabaran budhe terasa habis.
"I-iya Bu." Surti terbata-bata.
__ADS_1
Plak!
Tangan kapalan budhe menyambar pipi Surti. "Kurangajar! Kamu Surti!" Wajah budhe merah membara. "Apa yang ada di otak kamu Surti?!" Air mata budhe kembali mengalir, ia ingat ketika warga menghakimi Dewi walaupun budhe sendiri tidak ikut campur. Tetapi ternyata anaknya sendiri sumber dari penderitaan Dewi.
"Pukul Surti Bu, ibu bunuh Surti pun sudah tidak takut mati. Daripada aku hidup lama-lama di dunia hanya akan menambah dosaku semakin besar."
"Kenapa kamu bisa berubah seperti ini Surti...." Budhe yang awalnya berdiri di samping ranjang menjatuhkan lututnya di lantai. Ia bersalah, Surti sudah menyebabkan keluarga Endang diusir dengan tidak hormat, dan hingga kini belum kembali.
"Aku iri Bu... kenapa semua orang menyayangi Dewi, termasuk ibu." Surti mengingat semua bagaimana sikap ibunya kepada Dewi. Surti iri, mengapa dia selalu menjadi yang nomer dua. Bahkan kasih sayang ibunya selalu dibagi dua dengan Dewi. Jika membeli sesuatu untuk Surti selalu di bagi dua dengan Dewi.
"Jadi selama ini kamu iri dengan Dewi hanya karena ibu menyayanginya Surti. Kamu salah Nak, jika kamu menganggap kamu menjadi yang nomor dua. Ibu sayang kepada Dewi karena dia sahabat kamu yang baik." Budhe ingin Dewi bisa membawa Surti ke arah yang positif. Tetapi budhe tidak menyangka bahwa putrinya justru mengajak Dewi masuk ke dalam jurang.
Dua wanita ibu dan anak itu saling merenung, berkelana dalam pikiran masing-masing.
"Besok... kamu harus minta maaf kepada Dewi Nak," Suara budhe kini sudah kembali lembut. Menatap pipi Surti memerah bekas gambar tanganya, menyesal.
"Tapi Surti tidak berani Bu, aku malu," Jujur Surti.
"Sekarang kamu istirahat dulu, kalau badan kamu sudah sehat, ibu yang akan mengantarkan kamu ke sana,"
***********
__ADS_1
Malam bergulir begitu cepat, wanita cantik merasakan tubuhnya kedinginan saat terjaga dari tidurnya. Ia terkesiap kala memandangi seluruh tubuhnya tanpa pakaian. Pantas saja kedinginan, karena kamarnya saat ini sudah di pasang ac oleh Bram. Padahal tanpa ac pun daerahnya sudah sangat sejuk. Ya, dia adalah Dewi, menoleh suaminya di sebelah masih mendengkur halus.
Dewi ambil piama yang tergeletak di lantai kemudian mengenakan sebelum akhirnya ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lelah karena tadi malam suaminya minta nambah hingga 3 kali. Rupanya suaminya itu balas dendam hingga tidak memberi kesempatan dirinya berpakaian. Dewi mandi wajib karena sebentar lagi adzan subuh.
Sementara di luar kamar mandi.
"Oeeeekkk... oeeekk..." Tangis Calvin melengking membangunkan ayahnya yang belum berubah dari posisi tidurnya, lantaran dia nyenyak setelah buka puasa kurang lebih delapan bulan.
"Oeeeekkk... oeekkk..." Tangis Calvin semakin kencang.
"Sayang..." Bram segera turun dari ranjang mengangkat anaknya dari box.
"Oeeeekkk.... oeeekk..." Walaupun sudah di gendong, Calvin tidak mau berhenti dari tangisnya.
"Sebentar ya... bunda sedang mandi." Hingga 10 menit Calvin tidak juga diam, Bram bingung. Ia hendak memanggil Dewi ke kamar mandi. Namun, istrinya itu sudah keluar mengenakan handuk kimono dengan rambut basah. Bram meneguk saliva. Rupanya perang ranjang tadi malam belum juga membuatnya puas.
"Anak bunda sudah bangun, ayo minum susu," Dewi ambil alih putranya dari gendongan Bram lalu duduk di ranjang memberi asi.
"Mas mandi sana, kok malah lihatin aku gitu sih," Dewi heran, sebentar lagi adzan tapi suaminya justru memandanginya terus.
"Aku masih mau lagi," Bram terkekeh.
__ADS_1
.
.