
Dewi menatap wajah Bram ketika baru saja dari toilet rumah sakit merasa aneh. Pasalnya, suaminya itu sedikit berubah entah apa penyebabnya. Padahal sebelum Dewi ke toilet, Bram tampak kegirangan karena tidak terbukti mengidap virus yang menyeramkan banyak orang itu.
Terlebih lagi, Bram tiba-tiba hendak pulang ke Indonesia. Padahal ketika Dewi ingin pulang ke negaranya tersebut, Bram menolak dengan tegas. Yang menjadi pertanyaan Dewi, mengapa Bram tidak membicarakan rencana keberangkatannya. Dewi berprasangka suaminya sengaja tidak memberi tahu agar Dewi tidak ikut.
"Ngapain Prir, tiba-tiba mau pulang ke Indonesia?" Tanya Dewi membuktikan panggilanya dengan embel-embel Prir, setelah duduk di sebelah Bram.
Bram tersenyum mendengar panggilan istrinya, ternyata tidak main-main tetapi lucu juga.
"Kamu lucu honey... aku tahu apa artinya kamu memanggil aku Prirus." Bram mengulum senyum.
"Apa?" Dewi mencebik.
"Prirus itu pria rusak, seperti saat kamu mengolok-olok aku ketika di Jakarta itu kan?" Memori Bram kembali ke Jakarta saat wanita di depanya ini memakinya mengatai pria rusak, tetapi Bram tidak membalas.
"Bisa pria rusak, tetapi masih ada sebutan yang tepat untuk kamu," Kata Dewi.
"Apa itu?" Tanya Bram ingin tahu.
"Pria Tak Terurus," Tegas Dewi.
"Hahaha..."
Hup!
__ADS_1
Mulut Bramanstya dibungkam Dewi dengan telapak tangan Dewi. "Di sini rumah sakit tahu," Bisik Dewi, melempar tatapan kepada orang-orang yang sedang memperhatikan suaminya.
"Habisnya kamu lucu honey, kita pergi dari sini yuk, cari tempat untuk kita ngobrol" Bram mengait jari Dewi, melangkah bersama. Bibir Bram terus tersenyum sejak dari lantai tiga rumah sakit hingga tiba di parkiran. Entah sadar atau tidak Dewi tidak melepas tangan Bram.
"Prirus, kau tadi belum menjawab pertanyaan saya," Ujar Dewi ketika mereka sudah di dalam mobil.
"Pertanyaan yang mana?" Bramanstya mengingat-ingat.
"Ada apa, pulang ke Indonesia? Kamu sengaja nggak ngebolehin aku ikut kan?" Dewi cemberut.
"Bukan begitu honey... ada masalah perusahaan yang harus aku selesaikan cepat..." Jawab Bram masuk akal. Tetapi sebenarnya bukan hanya itu. Bram tidak ingin Dewi kembali bersama Firmansyah. Mendapat telepon Firman tadi, itu salah satu alasan Bram ingin cepat ke Indonesia.
"Tetapi kenapa mendadak?" Perasaan Dewi masih mengganjal, walaupun ia tahu bahwa Bram memang mengurus dua perusahaan yang sama-sama membutuhkan perhatiannya.
"Nggak mendadak juga kok, cuma aku belum sempat cerita sama kamu. Sudahlah sekarang kita nikmati waktu kita berdua" Bram mengalihkan.
"Tidak untuk saat ini honey...," Bram tak kalah tegas, yakin akan keputusannya.
"Iya, terus kenapa?" Dewi ingin tahu alasannya mengapa dirinya nggak boleh ikut.
"Honey... dengarkan aku." Bram menarik pundak Dewi, setelah berhadapan menekan kedua pipi istrinya. Iris mata mereka saling bertemu, Bram menatap lekat mata Dewi, sementara Dewi cepat menunduk masih enggan membalas tatapan Bram.
"Sebaiknya kamu disini dulu honey..." Bram menasehati Dewi, jika pulang saat ini bukan waktu yang tepat. Bram akan membersihkan nama Dewi dulu seperti yang sudah ia janjikan.
__ADS_1
Dewi pun akhirnya mengalah, benar juga apa yang dikatakan Bram. Dengan tinggal disini untuk sementara waktu, mungkin bisa cepat melupakan Firman.
Di dalam mobil mereka saling diam merenung dalam pikiran masing-masing. Sore itu Bram mengajak Dewi jalan-jalan ke tempat wisata untuk menghibur hati istrinya yang masih belum bisa move on dengan kekasihnya.
Tanpa Dewi cerita pun Bram tahu, namun Bram tidak bisa memaksa hati Dewi untuk cepat melupakan Firman. Masalah hati memang tidak bisa dipaksa. Dengan mengulur waktu lebih lama tinggal di sini, Bram berharap Dewi sedikit demi sedikit bisa melupakan Firman.
Pemandangan sore di kota Amsterdam, dikarenakan banyak kanal air, menjadikan siloit yang terpantul dipermukaanya tampak indah. Di tempat ini Bram mengajak Dewi.
Hingga waktu bergulir malam pun tiba mereka menikmati pemandangan di malam hari dimana lampu-lampu kota mulai menyala.
Bram menyewa private boat, untuk menyusuri kanal tersebut mereka arungi berdua. Keduanya mulai ngobrol santai, Dewi menjadi pendengar setia apa yang dikatakan Bramanstya. Terlebih di selingi canda tawa Bram lambat laun hati Dewi mulai menerima Bram selayaknya sahabat.
Bramanstya juga tidak melewatkan makan malam romantis. Walaupun sebenarnya hanya tempatnya yang romantis. Sebab Dewi tentu belum bisa diajak romantis. Tiap melihat Dewi tersenyum pun Bram sudah senang.
Malam itu sebenarnya Bram hendak mengajak menginap di hotel, namun Dewi menolak. Bagi Dewi buat apa, toh di apartemen pun sudah lebih mewah daripada hotel. Puas putar puter mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Hoaaamm... capek sekali" Gumam Dewi, setelah tiba di apartemen membersihkan badan kemudian merebahkan tubuhnya di kasur empuk.
Di kamar yang berbeda, Bram pun sudah selesai mandi. Kaos oblong dan celana pendek sudah melekat di badan.
Senandung lirih lagu cinta terdengar dari bibirnya, senyum indah pun selalu mengembang. Kakinya melangkah lambat namun pasti menuju kamar wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu.
Bram membuka pintu kamar Dewi perlahan, ia akan menagih janji karena terbukti aman. Malam inilah saatnya Bram akan mengulangi momen bersama Dewi. Jika dulu Dewi melakukan karena keterpaksaan, sudah pasti malam ini akan ikhlas melayani.
__ADS_1
Dada Bramanstya berdebar kencang kala sudah di samping ranjang Dewi. Ia menelan saliva kala daster yang Dewi pakai tersingkap ke atas hanya terlihat pakaian dalam. Perlahan-lahan Bram merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
...~Bersambung~...