
Pagar terbuka lebar mata bulat tampak kagum memandang sekitar rumah mewah, walaupun desain rumah sudah agak tertinggal tetapi tampak kokoh. Halaman luas namun tidak banyak pepohonan hanya beberapa tanaman hias dan pohon palem tampak dari kejauhan.
"Rumah ini sepertinya sudah lama sekali ya Bu." Tebak Dewi. Rumah lantai tiga dengan pengikat bagian depan. Jika di pikir aneh sekali, rumah hingga berlantai tiga untuk apa sebenarnya, apa mungkin suaminya itu keluarga besar. Pikir Dewi.
"Benar Non, menurut almarhum Nyonya, rumah ini sudah turun temurun dari kakek Bram, turun kepada papa Bram, mungkin nantinya setelah turun ke suami kamu, juga turun kepada anak Non," Tutur Ami.
"Keluarga Bram banyak ya Bu?" Selidik Dewi.
Ami menoleh cepat. "Hehehe. Non lucu sekali, memang Tuan tidak menceritakan siapa dirinya, Non?" Ami balik bertanya. Ami merasa aneh, biasanya pria dan wanita sebelum menikah akan menanyakan siapa keluarga pasangannya, tetapi pasangan tuanya berbeda.
Dewi tersenyum kecut jelas tidak tahu menahu karena pertemuannya dengan Bram musibah bagi Dewi.
"Tuan itu anak Nyonya Anindya dan Tuan Andro satu-satunya Non." Ami menceritakan bahwa Bram hanya mempunyai tiga paman. Uncle adik Andro dan kedua tante dari Jakarta adik kandung Anindya.
Dewi mengangguk-angguk. Langkah kaki mereka berhenti kala tiba di teras bangunan kuno itu.
"Selamat datang Non, ini rumah suami kamu," Kata Ami. Ami tekan benda bulat di samping pintu tidak lama kemudian gadis berseragam muncul dari balik pintu.
"Selamat pagi Elly" Sapa Ami, kepada teman seprofesi nya tetapi Elly bekerja belum lama.
"Selamat pagi Bi" Elly tersenyum sekilas, lalu mengalihkan pandanganya kepada wanita di sebelah Ami.
Merasa di perhatikan Dewi tersenyum, beberapa menit kemudian, Dewi memijak lantai bersamaan dengan dua wanita di sebelahnya berjalan masuk ke ruangan luas, yakni ruang tamu.
"Mari Non, saya perkenalkan dengan teman saya." Ami mengikuti Elly ke belakang. Dewi hanya menurut saja akan dibawa kemana oleh Ami.
"Hallo semua." Sapa Aminah kepada dua wanita berseragam dua-duanya mengenakan celemek sepertinya dua wanita bertubuh gemuk itu sebagai koki di rumah ini.
__ADS_1
"Kenalkan, ini istri Tuan Bramanstya," Ucap Ami dengan bahasa inggris agar Dewi mengerti. Dua wanita itu mengangguk santun kepada Dewi. Dewi pun tersenyum balik.
"Mari Non" Setelah berkenalan, Ami mengajak Dewi naik lift, menuju lantai dua. Dewi lagi-lagi heran, rumah ini terlalu resmi menurut Dewi, seperti kantor saja harus ada lift.
"Ini kamar Tuan Bramanstya, Non Dewi baiknya istirahat dulu ya" Ami mendorong kenop pintu hingga terbuka membiarkan nona barunya masuk, lalu meninggalkan Dewi.
Dewi memindai sekeliling kamar, cat dinding kamar ini pun seperti di apartemen, yakni berwarna coklat. Dewi tahu, warna cokelat memberi sensasi teduh kepada siapapun yang melihatnya. Itu artinya Bram cenderung memiliki sifat yang ramah dan mudah didekati. Tetapi mengapa Bram mempunyai sifat buruk? Dewi geleng-geleng sendiri tidak mengerti.
Dinding tampak polos tanpa hisasan hanya ada satu bingkai foto keluarga. Anak laki-laki berpakaian seragam putih biru di dampaingi pria berwajah asing dan wanita cantik asal Indonesia. Dewi sudah bisa menerka bahwa keluaga kecil itu, adalah Bram dan kedua orang tuanya. Ia mengusap bingkai tanpa ada debu sedikitpun itu artinya terawat sekali.
Dewi pun ambil handphone dari tas foto narsis di depan lemari dan di tempat tidur lalu ia kirimkan kepada ibunya. Ia memarkan kamar mewah itu agar ibunya senang. Tidak masalah bagi Dewi pura-pura bahagia yang penting orang tuanya senang.
"Hoaaamm..." Tidak sampai lima menit Dewi terasa dibelai kasur empuk lalu tidur pagi.
Di lantai satu Ami segera ambil kacang-kacangan dari kidchen Set. Ia membungkuk ambil kotak kacang-kacangan tersebut yang ia bawa dari Jakarta, meletakan di atas wastafel.
"Iya Non Felicia, saya disuruh Tuan Bramanstya ambil ini untuk istrinya yang lagi hamil." Ami tersenyum menunjukan wadah.
"Apa? Istri Bram hamil?" Wajah Felicia merah padam, menatap Ami tidak bersahabat. Ami begidik ngeri lantas mengangguk kemudian mengemasi tiga wadah ke dalam tas jinjing.
"Apa benar yang Bibi katakan, jika Bram itu memang sudah menikah, dan bahkan sudah hamil?" Cecar Felicia mengulangi karena tidak yakin apa yang dikatakan Bram ketika bertemu di Cafe kemarin.
"Betul Non Elis, saya sudah diberi tahu Tuan." Jawab Ami. Tetapi Ami tidak mau cerita jika Dewi datang ke rumah ini. Ami tahu seperti apa sifat Felicia khawatir jika wanita ini berlaku kasar kepada Dewi.
"Tuan Bramanstya memang sudah menikah Non, istrinya ikut kesini kok, sekarang di kamar atas." Asisten yang membuka pintu ketika Ami datang tadi buka suara. Ami seketika menatap Elly kecewa. Pasalnya, Felicia segera menghentakkan kaki berjalan cepat ke lantai dua.
"Duh... kenapa kamu katakan jika istri Tuan ikut saya kesini Elly." Sesal Ami, meraup wajahnya gusar.
__ADS_1
"Loh, memang kenapa Bi?" Tanya Elly polos, karena ia asisten baru di rumah ini tentu belum tahu tabiat Felicia.
Di dalam lift Felicia geram, kenapa Bram menikah tidak memberi tahu dirinya. "Kurangajar!" Umpatnya. Ia tahu jika selama ini Bram benci kepadanya, tetapi seharusnya dia menganggap bahwa dirinya itu ada. Bukan malah menikah diam-diam.
Braak!
Benturan pintu mengenai tembok bersamaan dengan kehadiran wanita membawa kilat marah siap meledakan petir.
Dewi seketika bangun lalu beringsut mundur hingga mentok di tembok. Melihat wanita yang pernah Dewi jumpai di mall itu menahan rasa gondok.
Sayang sekali wanita dengan fostor tubuh tinggi semampai, namun mempunyai perangai buruk. Dewi hanya Istigfar dalam hati menatap wanita yang berdiri di pinggir ranjang, melipat tangan di dada.
"Anda" Sapa Dewi dengan bahasa inggris, memperhatikan bahasa tubuh Felicia, ia tahu bahwa suasana hati wanita itu menunjukan karakter asli yang sombong dan angkuh.
"Siapa yang menyuruh kamu berada di kamar ini?!" Tandas Felicia.
"Bi Ami" Jawab Dewi enteng.
"Kamu pikir siapa kamu, dengan lancangnya tidur di kamar Bramanstya!" Ketus Felicia.
"Karena saya istri Bram." Jawab Dewi lancar bukan berarti tidak takut dengan wanita yang sedang berdiri dengan posisi miring itu. Namun hanya dengan cara ini untuk menutupi rasa takutnya.
"Hahahaha..." Felicia tertawa devil.
"Asal kamu tahu! Bram menikahi kamu hanya untuk dijadikan budaknya! Apa kamu yakin? Jika Bram benar-benar mencintai kamu?! Jangan mimpi! Bram itu dulu kekasih saya. Kami saling mencintai hingga kini. Bahkan kami sering tidur bersama, jika saya menikah dengan Papa nya, itu hanya karena saya ingin hartanya." Tutur Felicia dengan tidak tahu malu mengatakan bahwa "hanya mau hartanya"
...~Bersambung~...
__ADS_1