Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 61


__ADS_3

Dua pria yang sangat mencintai Dewi itu bersi teggang. Sebab, Firmansyah menuduh Bram telah menyakiti Dewi. Jelas Bram marah, padahal yang membuat Dewi sedih adalah orang tua Firman sendiri.


"Jaga mulutmu!" Tandas Bram menatap tajam ke arah Firman. Pria itu mengepalkan satu telapak tangan, jika bukan sedang menggendong Calvin rasanya ingin menonjok Firman.


"Cek! Kayak anak kecil saja!" Dewi melengos kesal lalu meninggalkan Bram dan Firman menuju mobil.


"Jangan urus keluarga saya lagi, ajarin ibu Anda supaya bisa berbicara sopan!" Bram berkata ketus sebelum akhirnya meninggalkan Firman.


"Aagghhh... apa lagi sih?! Yang dilakukan Ibu," Firman menggerutu sambil berjalan mencari sosok orang tuanya. Ia percaya dengan ucapkan Bram pasti ibunya menyakiti Dewi, maka Dewi menangis.


Firman tidak habis pikir, entah setan apa yang merasuki ibunya hingga sifatnya berubah 180 derajat. Padahal Laras dulu baik bahkan sangat menyayangi Dewi, tetapi jika sudah kecewa dan tidak suka kepada seseorang terlalu ditunjukkan hingga tak jarang menyakiti perasaan orang lain.


Firman hendak mencari kedua orangtua nya ke kamar inap Surti. Tetapi ketika di depan lift banyak yang antri, Firman memilih berjalan melalui tangga saja. Langkah Firman melambat ketika pendengaran nya menangkap samar-samar suara yang ia kenal.


"Kapan sih bu, kamu bisa merubah sikap kamu." Seru pak Gatot, tetapi tidak kencang tentu malu jika di dengar oleh orang lain. Pak Gatot menatap istrinya kecewa.


"Kenapa Ayah malah membela orang lain sih?!" Sungut Laras, melipat kedua tangan di dada seperti menantang.


Mereka pun akhirnya bertengkar tidak tahu jika anak laki-laki nya mengelus dada. Firman dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit. Ingin marah tetapi Laras adalah orang tuanya. Jika mendiamkan itu artinya mendukung perbuatan buruk sang ibu. Dengan menahan rasa kesal Firman mendekati keduanya.


"Ayah... mari kita pulang, kita selesaikan masalah ini di rumah." Ujarnya. Lalu balik badan kembali ke tempat parkir diikuti pak Gatot. Sementara Laras tertinggal di belakang.


Tiba di tempat parkir, Firmansyah mencari sosok Dewi tetapi sudah tidak terlihat. "Apa mereka sudah pulang?" Tanya nya dalam hati.


"Mencari siapa Firman." Pak Gatot mengejutkan Firmansyah.

__ADS_1


"Nggak mencari siapa-siapa, aku duluan, Yah" Ujarnya sembari menarik motor, kemudian melezat pergi. Tidak menghiraukan panggilan Laras agar Firman menjenguk Surti dulu sebelum pulang.


Tiba di rumah, Firman disibukan dengan pekerjaan mendesain kerangka kursi untuk salah satu kampus sesuai pesanan hingga sore hari. Setelah selesai pria itu segera menghubungi anak buahnya yang di lantai bawah.


"Saya Mas," Kata anak buahnya sudah tiba di ruang kerja.


"Buat pesanan kursi ini dengan teman-teman mu sesuai gambar, paling lambat 3 bulan," Perintahnya, memberikan kertas kepada anak buahnya.


"Baik Mas Firman."


Firman lantas bersandar di kursi memejamkan mata. Seklebat bayangan Dewi yang sedang menangis terlintas. Andai saja wanita cantik itu bukan milik orang lain rasanya ingin menghapus air matanya, dan menyerahkan pundaknya untuk bersandar. Namun, semuanya hanya dalam angan. "Aku tidak boleh begini." Gumamnya.


Tok tok tok


"Masuk..." Jawabnya masih tetap betah dengan posisi badan menempel di kursi.


Firman segera duduk tegak lurus ternyata pak Gatot yang masuk lalu duduk di depannya.


"Fir, jangan dengarkan ibumu, jika ibumu memaksa kamu menikahi Surti," Pak Gatot membuka pembicaraan.


Firman terkejut menatap lekat wajah ayahnya, yang sudah banyak garis penuaan di wajah beliau. "Memang Surti sakit apa Yah?" Firman ingin tahu. Sebenci apapun dirinya dengan Surti, Firman bukan orang jahat tentu ada rasa kasihan.


"Ayah tadi mendengar percakapan budhe mu dengan dokter Fir, Surti menderita penyakit ke**min."


"Astagfirullah..." Firman merasa ngeri mendengarnya.

__ADS_1


"Makanya itu Fir, kamu jangan menuruti ibumu. Ibumu belum tahu penyakit yang diderita Surti. Ayah akan berbicara denganya nanti kalau ibumu sedang tidak marah," Kini gantian pak Gatot yang menyenderkan tubuhnya di kursi.


"Fir, Ayah tadi sudah bertemu dengan Dewi. Ayah perhatikan Dewi sudah bahagia dengan suaminya Nak. Ayah mohon jangan lagi memikirkan Dewi. Carilah wanita lain yang baik untuk kamu." Nasehat pak Gatot panjang lebar.


***********


Di dalam rumah seorang pria sejak siang tidak berani berkata apa-apa melihat wajah istrinya uring-uringan terus sejak di rumah sakit hingga sekarang.


"Honey... sudah dong ngambeknya, masa aku tidak salah apa-apa didiamkan sih." Ujarnya memelas. Ia peluk istrinya yang baru saja selesai menyusui setelah Calvin tidur Dewi membaringkan di box.


"Aku tuh kesel! Kenapa sih... sikap bu Laras seperti itu sama aku, apa salahku coba." Sungut Dewi lalu duduk di ranjang, diikuti suaminya.


"Dewi... namanya juga manusia tidak semuanya baik. Karena memang begitu isi dunia ini. Makanya ada dosa besar dan dosa kecil, seringkali manusia melanggar. Contohnya aku sering berbuat dosa besar di masa lalu. Lalu contoh dosa kecil seperti kamu sekarang, kamu kesal sama siapa, aku yang kena imbas." Nasehat Bram, membuat Dewi terkejut melempar tatapan ke wajah Bram.


"Kenapa?" Bram merasa aneh dengan tatapan Dewi.


"Ini beneran kamu yang ngomong," Ledek Dewi, tidak percaya suaminya yang begajulan itu bisa berkata bijak.


"Orang yang sudah berbuat kesalahan itu, ibarat baju putih yang terkena noda Wi, walaupun di cuci bersih tetap saja masih tampak kusam. Begitu juga denganku, walaupun aku sudah memperbaiki toh kamu masih juga tidak percaya." Katanya melankolis.


"Iya, iya... sekarang tidur ah, jangan cengeng." Dewi menarik selimut.


"Tapi boleh malam ini kan? Ya... boleh ya..." Bram menyusup ke dalam selimut Dewi.


.

__ADS_1


.


__ADS_2