
Dengan langkah cepat Dewi bergegas ke kamar mandi rasanya mau muntah tidak kuat mencium bau rokok. Ia kesal duduk di ranjang setelah mengeluarkan isi perutnya padahal baru saja selesai makan. Mengapa Bram merokok di sofa bukan di luar saja. Sebenarnya Dewi bukan orang yang anti rokok. Sebab, saat tinggal di kos Surti, Surti juga merokok tetapi Dewi biasa saja mungkin karena kehamilannya ia menjadi sensitif.
Ingat rokok, Dewi ingat dua pria di Jakarta, yakni sang bapak dan juga Firman, kedua pria itu tidak seperti pria pada umumnya, karena keduanya sama-sama tidak merokok.
Dewi menunduk sedih memorinya dengan Firmansyah kembali menguasi benak. Dewi belum bisa move on, walaupun berusaha mengubur masalalunya dengan Firmansyah, nyatanya pria itu masih bertahta di hatinya.
"Honey... sudah aku buang rokoknya" Bram rupanya sudah duduk di sebelahnya. "Maaf, aku tidak tahu kalau kamu tidak suka bau rokok." Dengan hati-hati Bram menjelaskan.
"Bau ahh... sikat gigi dulu sana!" Usir Dewi, memencet hidung.
"Okay..." Bram segera keluar hendak sikat gigi tidak mau berdebat lagi.
"Dewi tidak suka bau rokok ya Bi?" Tanya Bram ketika melintas di ruang tamu.
"Kadang wanita hamil itu suka begitu, Tuan. Jangankan bau rokok, makanan favorit saja ketika sedang hamil menjadi tidak doyan, mual dan ingin muntah. Tetapi sebaliknya Tuan, kadang makanan yang tidak di sukai malah menjadi istimewa." Terang Ami.
"Gitu ya Bi." Bram menggaruk tengkuknya lalu pergi ke wastafel melaksanakan perintah istrinya.
Srooott... Srooott...
Setelah terasa segar ia ambil pernyemprot mulut agar bau rokok hilang sama sekali, kemudian mengendus kemeja kiri dan kanan memastikan bahwa bau rokok tidak tertinggal disana.
"Aku sudah wangi..." Bram memamerkan gigi putihnya.
"Aahh... parvum kamu baunya tidak enak..." Rengek Dewi, benar-benar menguji kesabaran Bram.
"Tidak mungkin tidak enak honey... parvum yang aku pakai ini paling mahal di negara ini," Jawab Bram tidak habis pikir.
"Mau mahal kek, murah kek! Pokoknya aku nggak mau dekat-dekat sama kamu, titik." Dewi menjauhi Bramanstya masuk ke balkon. Bram menatap Dewi dari belakang menarik napas berat, lagi-lagi ia harus salin baju.
Drama sore berakhir, mereka pun berangkat. Begitu membuka pintu apartemen, Dewi dikejutan oleh pria bertubuh gempal menyilangkan tangan di punggung.
__ADS_1
"Selamat sore Tuan" Sapa pria itu mengangguk hormat kepada Bram.
"Selamat sore." Bram menjawab pendek dan dingin tanpa menoleh. Belum hilang rasa terkejutnya, Dewi melihat dua bodyguard berada di dua titik sebelum masuk lift dan setelah keluar lift. Dua bodyguard itu pun rupanya mengenal Bram.
"Hai... kok di apartemen kamu banyak bodyguard sih?" Tanya Dewi pada akhirnya ketika sudah tiba di mobil.
"Aku nggak tahu," Bram mengedikkan pundak. Sebenarnya bodyguard itu orang suruhannya agar menjaga apartemennya. Bram tidak mau kecolongan jika sampai Felicia datang ke apartemen, dan mengganggu Dewi. Namun, Bram tidak mau memberitahukan kepada istrinya.
"Honey... kamu jangan hahe-hahe kalau memanggil suami kamu." Protes Bram, sudah berapa hari tnggal bersama tetapi Dewi tidak mau menyebut namanya, segitu bencikah Dewi kepadanya.
Dewi hanya diam, sadar bahwa lidahnya kelu untuk menyebut nama Bram. "Terus maunya di panggil apa?" Dewi melirik Bram di sebelahnya tampak jakunya naik turun.
"Panggil apa saja yang penting jangan he."
"Ya deh, mulai sekarang aku panggil kamu 'Prirus" Jawab Dewi lalu menoleh ke kiri menyembunyikan senyum.
"Prirus?" Dahi Bram berkerut menatap Dewi, ia merasa aneh dengan panggilan itu, sebab tidak ada di negara manapun.
Zaidan memperlambat laju kendaraan, kala rumah sakit ternama sudah nampak di pinggir jalan. Bramanstya segera menuju laboratorium di rumah sakit tersebut, sementara Dewi disuruh Bram menunggu.
Bram menerima amplop berwarna putih, tanganya gemetar. Pria itu duduk di depan lap menarik lambat isi amplop tersebut. Namun, ia masukan lagi hingga berkali-kali.
Bram takut menerima kenyataan jika ia memang terpapar virus yang ditularkan melalui hubungan dengan banyak wanita itu.
"Ya Allah..." Gumamnya.
Kertas yang sudah keluar masuk entah berapa kali itupun akhirnya ia buka. "Bismillah..." Ia memantapkan diri kertas yang dilipat menjadi empat bagian itupun akhirnya Bram buka lebar. Mata elangnya membaca dari atas sampai bawah.
"Alhamdulillah..." Bram tersenyum, urat-urat yang telah mengendur kini kembali kencang, tanganya melipat kertas lalu menemui Dewi di ruang tunggu.
"Honey... hasilnya negatif..." Seru Bram lalu merangkul pundak Dewi dari belakang, membuat sang empu terkesiap. Suara kencang Bram menjadi pusat perhatian semua mata yang berada di tempat itu melirik ke arahnya. Walaupun mereka tidak tahu arti kata yang di serukan oleh Bram.
__ADS_1
"Sekarang kita jalan-jalan yuk" Bram pun berputar di depan Dewi membantunya berdiri.
"Kemana, tapi aku mau ke toilet dulu," Jawab Dewi sejak tadi sudah menahan buang air seni.
"Ayo, aku antar" Kata Bram.
"Tidak usah, pegang ini saja." Potong Dewi tidak sungkan meletakan tas di tangan Bram kemudian berlalu.
Ceo sukses di dua negara itu, menerima tas dari tangan Dewi santai saja, tidak perduli orang-orang berbisik membicarakan dirinya. Toh tidak mengurangi kewibawanya hanya karena memegang tas istri.
Tuling lung, tuling lung.
Handphone Dewi ada pangilan masuk, awalnya Bram membiarkan saja hingga panggilan mati sendiri.
Satu menit kemudian, handphone berdering kembali. Kali ini sudah berkali-kali berbunyi, Bram terpaksa membuka tas Dewi, walaupun ragu-ragu. Ia ambil benda pipih itu netranya menatap layar handphone panggilan nomor tanpa nama. Untuk menghilangkan rasa penasaran Bram menggeser tombol lalu menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum..." Salam dari seorang pria, tentu Bram diam saja menunggu entah apa yang akan di katakan oleh pria misterius itu.
"Dewi... kamu sekarang dimana? Aku datangi rumahmu tetapi kosong. Tolong sayang... tunjukkan alamat kamu dimana, aku kangen sama kamu Wi. Apa kamu tidak ingat kita akan segera menikah dalam waktu dekat. Jika orang tuaku tetap tidak merestui kita, abaikan saja Wi, karena kita yang akan menjalani bukan orang tuaku."
Tut!
Bram mematikan sambungan telepon lalu memblokir nomor si penelepon tanpa izin Dewi. "Awas kau, jika berani mengganggu apa yang sudah menjadi miliku" Gumam Bram mengepalkan tangan. Bram pun meneliti nomor yang tersimpan di handphone istrinya hanya ada beberapa nomor saja, termasuk nomor miliknya.
Bram menyipitkan mata kala nama Bram yang ia tulis di handphone Dewi, di ganti nama 'Prirus'
Bram berpikir apa arti panggilan prirus. 'Prirus, prirus. Oh... Pria Rusak' Bram geleng-geleng kepala.
Cepat-cepat Bram mengembalikan handphone karena Dewi sudah berjalan mendekat.
"Honey... besok aku harus ke Indonesia untuk beberapa hari." Ucap Bram tiba-tiba, ketika Dewi baru saja ambil alih tas.
__ADS_1
...~Bersambung~...