
Bram menekan bel apartemen tidak lama kemudian Ami muncul tersenyum kepada boss nya itu. Namun, senyum Ami tiba-tiba hilang kala Bram tampak dingin tidak mau membalas senyum bibi.
Ami segera menyandak tas dari tangan Bram yang sudah mendahuluinya. Ia tidak berani berkata apa-apa lagi. Jika sikap boss yang ia asuh sejak SMP itu raut wajah tidak seperti biasa, Ami tahu pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Zaidan kemana?" Tanya Bram kemudian, kali ini melirik Ami yang sedang berjalan bersama menuju sofa.
"Ada di kamarnya Tuan," Jawab Ami mendongak, karena tinggi badannya terpaut jauh dengan Bram.
"Pangil kesini Bi," Titahnya lalu duduk bersandar di sofa.
"Baik Tuan." Ami pun menuju kamar Zaidan yang bersebelahan dengan kamar Ami. Ami bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan Bram? Mengapa tidak cepat-cepat menemui Dewi di kamar, justru minta dipanggilkan Zaidan.
Tidak lama kemudian Ami sudah kembali bersama Zaidan.
"Tuan memanggil saya?" Tanya Zaidan sopan.
Plak!
Satu tamparan mengenai pipi Zaidan. Remaja itu tidak berkata-kata hanya mengusap pipinya yang sakit. Zaidan tidak tahu kesalahan apa yang dirinya buat, hingga memicu emosi boss. Sementara Ami menatap Zaidan sendu, dadanya terasa deg degan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan dengan istriku?!" Bentak Bram menatap horor wajah supirnya itu.
"Ma-maksud Tuan apa?" Jawab Zaidan terbata.
"Jangan pura-pura tidak tahu, kamu Zaidan! Saya beri kamu tanggungjawab menjaga istri saya, tetapi kamu rupanya main-main dengan saya," Suara Bram mengglegar.
Bram tidak tahu jika di dalam kamar Dewi mendengar bentakan itu walaupun kurang jelas.
"Ada apa di luar? Sepertinya Prirus pulang?" Dewi berguman, segera meletakan buku yang dia baca ke atas meja, kemudian beranjak.
"Apa yang kamu lakukan dengan Dewi?!" Kali ini suara Bram tampak jelas terdengar, ketika Dewi menempelkan telinga ke lubang kunci.
Dada Dewi bergemuruh mendengar Bram menyebut foto otaknya langsung bisa menangkap apa yang menjadi masalah. Sudah pasti, Bram salah sangka ketika melihat fotonya dengan Zaidan yang dikirimkan Felicia.
Dewi membuka pintu perlahan berjalan rindik menghampiri Bram yang sedang menunjukan foto ke arah Zaidan sambil terus marah-marah.
"Prirus..." Saya Dewi di belakang sofa di mana Bram duduk. Smua mata beralih menatap Dewi, begitu juga dengan Bram.
"Zaidan, sebaiknya kamu ke luar dulu." Titah Dewi, jika bisa Dewi akan bicara empat mata dengan suaminya itu.
__ADS_1
"Baik Non" Zaidan segera menyingkir. Karena kedatangan Dewi, Zaidan merasa lolos dari kandang singa. Begitu juga dengan Ami mereka berdua keluar apartemen, mungkin duduk di teras.
Dewi lalu duduk di samping suaminya, melirik wajah Bram tampak muram durja. Bram sama sekali tidak mau menoleh istrinya itu.
"Bagaimana kabar Ibu?" Tanya Dewi, memecah keheningan diantara mereka.
"Baik." Jawab Bram pendek.
Dewi kembali diam bingung entah mau mulai darimana, ia akan memulai meluruskan persoalan ini. Rupanya Bram tidak bisa diajak bicara sekarang. Lebih baik, ia membiarkan suaminya itu istirahat, dengan begitu otaknya akan merasa tenang.
"Sebaiknya kamu mandi, terus istirahat." Kata Dewi pelan. Namun, tidak ada jawaban dari Bram.
"Kalau sudah istirahat, ada yang ingin aku sampaikan," Ucap Dewi, lalu ambil gelas yang biasa digunakan suaminya minum. Satu gelas air sudah tersedia di depan Bramanstya.
"Minum dulu," Kata Dewi lalu kembali duduk.
"Terimakasih," Jawab Bram, lalu meneguk segelas air putih menghilangkan dahaga. Dewi tersenyum lalu meletakan gelas kembali ke tempatnya.
"Kalau sudah istirahat, aku tunggu di kamar." Pungkas Dewi lalu meninggalkan suaminya itu kembali ke kamar.
__ADS_1
"Yeeess!" Bram pun beranjak dari tempat duduknya, senyum tipis terukir di bibirnya, tanpa Dewi tahu.
...~Bersambung~...