
Tiba di rumah sakit, mata Dewi menangkap sosok sahabatnya sedang di lobby mengenakan pakaian pasien. Dewi terperangah menatap wanita yang dulu selalu kemana-mana berdua itu. Kini duduk di kursi roda ditemani ibunya yang mendorong roda tersebut. Wajah Surti yang awalnya glowing, kini tampak pucat. Entah sakit apa yang sedang Surti derita.
"Mas... itu Surti bukan?" Dewi meyakinkan dirinya sendiri. Sahabatnya yang dulu selalu periang kini nampak murung tidak bersemangat.
"Iya... kenapa tuh Dia? Kena karma kali." Tandas Bram.
"Iiihhh... nggak boleh bicara begitu! Memang Mas pikir, Mas ini siapa?" Dewi membalikan kata-kata Bram. Seketika Bram bungkam. Ia menyadari yang dikatakan Dewi memang benar bahwa dirinya tidak lebih baik dari Surti. Namun, yang ia pikirkan bukan dirinya melainkan Dewi. Bram ingat ketika Surti tega menjual sahabatnya sendiri, hatinya terasa sakit.
"Kita dekati dia Mas," Ajak Dewi menarik tangan Bram yang masih diam di tempat. Bram menurut saja tetapi ketika hampir tiba menghentikan langkahnya.
"Mau apa kita ke sana honey?" Bram masih tidak percaya apa yang akan dilakukan Dewi kepada Surti. Ia heran mengapa istrinya ini sudah disakiti masih mau berbaik hati mendekati Surti.
"Lihat apa Mas, Surti itu sekarang sedang sakit." Dewi menjelaskan. Pada akhirnya Bram mengalah mereka menghampiri Surti yang sedang menunggu lift terbuka.
"Surti?" Sapa Dewi. Surti yang sedang menunggu lift terbuka ditemani ibunya, menoleh ke arah suara yang tidak asing di telinganya.
"Dew-Dewi..." Surti terbata-bata tatapan matanya tertuju pada bayi dalam gendongan Bramastya dengan tangan kiri. Surti memutar kelopak mata menatap tangan kanan Bram yang memeluk pundak Dewi.
Surti menunduk tidak kuat lama-lama melihat keromantisan sahabatnya itu. Surti menepuk dadanya yang kian sesak, kenapa nasib baik selalu berpihak kepada Dewi, sementara dirinya?
"Surti... kamu sakit apa?" Tanya Dewi. Namun, Surti membuang wajahnya merasa malu atau apa hingg enggan menatap Dewi, hanya Surti yang tahu.
__ADS_1
"Hahaha... aku sakit apa! Apa perduli kamu wi?! Kamu senangkan melihat keadaanku sekarang?!" Surti tertawa dibuat-buat.
"Budhe... Surti sakit apa?" Merasa tidak ada jawaban dari Surti, Dewi bertanya kepada ibunya Surti yang selalu Dewi panggil budhe itu.
"Anu Dewi... Surti sa..." Budhe menghentikan ucapanya kala Surti menoleh ke arahnya seolah berkata 'jangan katakan' entah sakit apa yang Surti derita.
"Dewi... anak kamu sudah lahir Nak?" Budhe mengalihkan. Melepas roda mendekati bayi dalam gendongan Bram. Wanita yang seusia dengan bu Endang itu menatap lekat wajah Calvin. Bram hanya bersikap cuek karena sama sekali tidak mengenal ibu di depanya.
"Alhamdulillah Budhe... anak saya laki-laki. Kenalkan Budhe... ini suami saya," Dewi meremas telapak tangan Bram agar bersalaman dengan orang tua Surti. Dewi sangat menghormati budhe sebenarnya beliu orang baik.
"Bramanstya," Ucap Bram, mengulurkan tangan. Budhe hanya menjawab dengan senyuman, kemudian kembali mendorong roda karena lift menuju lantai tiga sudah terbuka. Di sana lah Surti dirawat. Dewi hanya memandangi Surti dari belakang hingga pintu lift tertutup.
"Ayo" Kata Bram, mengajak Dewi menuju ruang pemeriksaan anak. Mereka menunggu sejenak, menunggu dipanggil Karena Dewi sudah mendaftar melalui telepon.
"Sepertinya serius penyakitnya, Mas," Dewi melirik Bram yang tak memberi reaksi ucapanya kesal.
"Ih! diajak ngomong kok diam saja." Dewi melengos kesal.
"Lah, kamu tanya sama aku. Mana aku tahu, Dia sakit apa." Jawab Bram, sambil memainkan pipi Calvin yang sudah sedikit berisi karena minum asi terlalu kuat.
"Oh iya mas, aku mau tanya sesuatu, tapi jawab dengan jujur." Kata Dewi serius, membuat wajah Bram segera berpaling dari Calvin.
__ADS_1
"Mau tanya apa?" Bram melirik istrinya.
"Ngomong-ngomong..." Dewi menunda pertanyaan lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Bram. "Eemmm... Mas pernah tidur dengar Surti?" Pertanyaan ini yang sejak lama ingin Dewi sampaikan. Bram nampak tenang akan pertanyaan istrinya.
"Maass... Ih!" Dewi merasa diabaikan merengut kesal .
"Idih! Amit-amit, aku setiap mau meniduri wanita bukan sembarang wanita. Aku seleksi dulu dengan baik." Jujur Bram.
"Alaah... Seleksi! Kayak orang mau melamar kerja saja, Mas. Namanya di tempat seperti itu, mana bisa pilih-pilih," Dewi tidak percaya dengan ucapan Bram.
"Ada. Contohnya kamu," Bram terkekeh merasa mendapat poin penuh berdebat dengan Dewi.
"Ngomong-ngomong masalah tidur meniduri, kamu sudah hampir dua bulan paska melahirkan, berarti aku sudah waktunya menagih janji sama kamu." Bram menaik turunkan alis. Sementara wajah Dewi berubah merah.
"Calvin Aldo Bramanstya" Panggilan dari dalam. Bram segera masuk ruang dokter ibu dan balita di ikuti Dewi.
"Kenapa ini dedek Calvin?" Tanya dokter Indira seraya tersenyum menatap bayi dalam gendongan Bram.
"Tadi malam rewel Dok," Jawab Dewi lalu menuturkan jika mereka baru pulang dari perjalanan jauh. Dokter wanita tersebut manggut-manggut lalu memeriksa Calvin. Setelah Calvin dinyatakan sehat. Dokter kemudian memeriksa Dewi. Dewi pun dinyatakan sehat.
"Terimakasih Dok," Dewi mengangguk santun sebelum akhirnya ke luar dari ruang periksa.
__ADS_1
Tiba di depan lift, langkah kaki Dewi berhenti menahan tangan Bram ketika sosok pria bersama wanita yang sangat ia kenal baru ke luar dari lift.
...~Bersambung~...