
Dewi terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang dulu pernah menyengsarakan hidupnya. Kehadiran wanita itu membuat luka hati Dewi yang sudah mengering kembali menganga. Dewi menggengam telapak tangan Bram lalu meremas nya, kala wanita itu mendekat berdiri di hadapannya.
"Selamat Bram... Dewi..." Ucap wanita paruh baya itu lembut.
Hening, di atas panggung Bram dengan Dewi merasa bingung akan perubahan wanita yang dulu garang kini menjelma menjadi wanita alim. Dewi mengencangkan pegangan tangan agar Bram berbicara dengan wanita itu.
"Mami tau darimana, kalau saya sedang ada pesta?" Tanya Bram, ternyata pria itu tidak pernah mengundang wanita itu.
"Jesi yang memberi tahu saya. Syukurlah Bram, Dewi... kalau kalian sudah menjadi suami istri," Jawab wanita itu yang tak lain adalah Arinta."Maaf, jika saya lancang datang kesini," Imbuhnya.
"Tidak Mam, kami senang karena Mami menyempatkan diri untuk hadir." Dewi menatap lekat wanita yang sedang berbicara dengan Bram sepertinya sudah tidak seperti dulu lagi. "Kenapa Mami tidak berangkat bersama Jesi?" Dewi pun akhirnya bertanya.
"Kami tinggal di rumah yang berbeda Wi," Arinta menjelaskan, tidak lama di tempat itu kemudian pamit pulang.
"Mas... bukanya Mami di tahanan ya?" Dewi penasaran, sebelum Dewi pulang ke Surabaya, yang dia tahu Arinta telah di penjara.
"Mungkin sudah bebas honey..." Jawab Bram memang tidak tahu. Sebab, setelah mengenal Dewi, Bram sama sekali tidak pernah bertemu maupun berurusan dengan Arinta lagi.
__ADS_1
Tamu-tamu terus menerus berdatangan bagusnya Calvin banyak yang mengurus. Ibu Endang, tante Ela, dan juga bi Ami, menggendong Calvin bergantian mana yang membuat bayi itu betah. Sebelum naik ke panggung, Dewi sudah menyimpan beberapa botol asi hingga ibu muda itu merasa tenang.
Jika tadi Dewi dikejutkan dengan Arinta yang telah menyeburkan dirinya ke lumpur dosa. Namun, yang datang kali ini berbeda. Yakni, segerombolan orang-orang yang dulu telah membangunkan Dewi sebelum terperosok jauh ke lumpur tersebut.
"Emaaak... hu huuuu..." Tangis Dewi pecah langsung menghambur ke pelukan Mak Ningrum. Dewi sudah menganggap Ningrum dan pak Agus seperti orang tuanya sendiri. Bahkan satu tahun yang lalu pernah tinggal bersama, dalam suka maupun duka.
Bram hanya menatap tamunya satu persatu, Mak Ningrum dengan pak Agus yang belum Bram kenal, disusul Daniswara dengan Banuwati rekan bisnis nya, dan yang terakhir adalah Arga dan Ratri.
"Dewi... jangan menangis Nak, nanti muke up kamu luntur loh," Mak Ningrum merenggangkan pelukan lalu mengusap air mata Dewi. "Mak tadi sudah bertemu anak kamu loh." Ningrum mengatakan jika bertemu Calvin yang sedang digendong Ela.
"Oh..." Dewi manggut-manggut tidak mampu lagi berkata-kata lantas menoleh Bram.
"Oh... jadi, kalian suka gibahin bapak Wi," Kelakar pak Agus, membuat Dewi tersenyum.
"Pak... Bu..." Sapa Bram sopan, lalu bersalaman dengan keduanya. Pak Agus dan Mak Ningrum berbicara dengan Bram sebentar lalu maju.
"Nyoya... Tuan..." Dewi menyapa sopan kepada pria dan wanita kaya tetapi tidak sombong itu, kemudian menyandak tangan Banuwati menempelkan di hidung. Setelan berbincang-bincang sebentar, Banuwati pun maju. Daniswara ngobrol sebentar dengan Bram kemudian menyusul Banuwati.
__ADS_1
Yang terakhir adalah Ratri bersama Arga mengucapkan selamat, dua pasang pria dan wanita itu pun ngobrol tentang rencananya pulang ke Jawab Timur.
"Dewi... besok kalau pulang ke Surabaya, kita barengan ya," Ajak Ratri.
"Siap Kak," Dewi antusias.
"Kalau gitu, aku mau mencari makan dulu ya Wi," Pamit Ratri.
"Oh silakan,"
Sejenak di panggung sepi, ketika Ratri sudah menjauh dari tempat itu.
Doooorrr...
"Aaaggghhh..."
.
__ADS_1
.