
Tidak mau berdebat terlalu lama dengan Larasati mengingat beliau adalah ibu yang melahirkan dirinya, Firman pun mengeluarkan motor dari garasi, melesat pergi menuju suatu tempat yang sering ia kunjungi bersama Dewi.
Setelah parkir di pinggir jalan, Firman melangkah gontai menuju kali kecil di bawah bukit. Di sinilah tempat yang paling tenang untuk menyendiri. Namun, tanpa Firman tahu ada wanita yang mengikutinya.
"Firman." Sapa wanita yang mengenakan celana jins pendek selutut dan kaos tanpa lengan, rambut tergerai menghampiri Firman yang sedang duduk di atas batu. Batu yang menjadi saksi cintanya kepada Dewi gadis cantik luar dalam.
"Dewi... kamu kemana?" Ia usap batu yang dulu sering Firman duduki berdua bersama Dewi, tidak mendengar panggilan wanita itu.
"Firman..." Wanita itu mengulangi panggilan. Namun, Firman bergeming sudah hafal suara siapa itu. Firmansyah kesal, niat hati ingin menyendiri tetapi justeru datang setan yang menyerupai wanita. Wanita yang paling Firman benci.
"Kamu ngapain nongkrong disini Firman, mendingan kita jalan-jalan ke kota yuk" Surti pun duduk di sebelah Firman. Namun, jangankan meyahut menoleh pun Firman tidak sudi.
"Firman... heee... kok diam saja sih?" Surti mengguncang tangan Firman.
"Jangan sentuh tangan saya, dengan tangan kotor mu itu!" Firman menepis tangan Surti. "Ingat, Surti! Jangan kamu pikir saya mau menikahi wanita seperti kamu! Mungkin kamu bisa menundukkan ribuan pria untuk kamu jadikan teman tidur! Tetapi tidak untuk saya. Ngerti kamu!" Firman menatap nyalang wanita yang sudah menghancurkan hidup Dewi itu.
"Kamu wanita jahat Surti! Demi uang tega menjual sahabat yang sudah percaya sama kamu seratus persen." Wajah Firman merah padam.
"Apa maksudmu Firman?" Tanya Surti, pura-pura tidak tahu. "Sudah Mengarang cerita apa Dewi sama kamu Firman?" Sanggah Surti.
"Apa kamu pikir, saya ini pria bodoh Surti! Tanpa Dewi cerita pun saya tahu, kalau kamu itu wanita yang sudah buta mata dan hati."
"Saya tunggu etikat baik kamu selama 24 jam untuk membersihkan nama Dewi di desa ini. Jika tidak, saya sendiri yang akan melakukannya!" Pungkas Firmansyah lalu loncat dari batu meninggalkan tempat itu.
"Firmansyah..." Teriak Surti, tetapi Firman sama sekali tidak mau menoleh. Ia mempercepat jalanya daripada melihat wajah Surti, kali ini memilih melihat kuntilanak penghuni bukit.
***********
Di dalam kamar apartemen dimana mertuanya tinggal. Bram menyewa untuk sementara waktu di sebelah.
Bramanstya sedang beristirahat sejak perjalanan dari Amsterdam hanya tidur selama dua jam. Tetapi pria itu tidak bisa memejamkan mata. Ia sedang rindu, bahkan rindu berat kepada istri tercinta.
Bram ambil benda canggih meneliti layar, barang kali istrinya menghubungi dirinya, tetapi ternyata tidak. "Mana mungkin Dia mau menghubungi aku," Ucapnya memelas.
Bram segera menghubungi Dewi, seperti janjinya ketika masih di Amsterdam.
__ADS_1
"Honey..." Bram tersenyum memandangi handphone kala sedang vidio call. "Aku sudah sampai..." Ucapnya berseri-seri. Menampilkan wajahnya di depan layar.
"Iiiihhh... kok kamu nggak pakai baju sih." Suara cempreng Dewi seperti priwitan itu yang selalu membuat Bram terkekeh.
"Kamu harusnya senang mempunyai suami maco seperti ini." Bram memperlihatkan dada dan sekitarnya.
"Nggak mauuu... pakai baju dulu, kalau nggak... saya tutup ini," Ancam Dewi.
"Iya, iyaaa... gitu saja ngambek." Bram meletakan handphone kemudian mengenakan pakaian kembali.
"Si tampan sudah keren..." Bram memamerkan dadanya yang sudah berpakaian.
"Beh, tampan," Dewi mencibir.
"Oh iya, saya juga baru saja selesai telepon Ibu, katanya kamu baru pulang dari pak rt ya?" Dewi menceritakan apa yang dikatakan bu Endang kepada suaminya. Namun, Dewi belum selesai ngobrol dengan sang ibu, sambungan telepon pun terputus.
"Kok kamu nggak telepon aku," Protes Bram, pura-pura kesal.
"Mau telepon sih... tapi kan kamu sudah telepon duluan." Jujur Dewi. Hati Bram membuncah hanya karena mendengar bahwa Dewi akan telepon.
"Nanti siang, pak rt mau mengumpulkan warga, ibu sudah cerita sama kamu?"
Bram menceritakan bahwa dirinya akan menepati janji kepada Dewi. Membersihkan citra buruk masyarakat itu. "Kalau semua sudah tenang, aku akan menjemput kamu," Bram serius.
"Beneran ya..." Dewi tersenyum senang, membayangkan pulang ke Indonesia dan segera bertemu sang Ibu.
Sebenarnya Dewi juga sering berjauhan dengan ibu dan bapak, tetapi tentu tidak seberat ini. Mungkin karena masih di Indonesia contohnya di Jakarta tempo hari.
"Benar, tetapi ada syarat nya, kamu tidak boleh lagi berhayal tentang mantan pacar kamu," Tegas Bram.
Keduanya langsung diam, sepertinya ada yang mereka pikirkan masing-masing entah apa itu.
"Berarti... lusa kamu sudah kembali kesini menjemput aku?" Dewi antusias, sudah tidak sabar ingin segera di jemput.
"Ya nggak secepat itu juga Honey... aku kan harus ke Jakarta dulu," Bram tentu akan mengecek perusahaan sekaligus menghadiri rapat di Jakarta terlebih dahulu.
__ADS_1
"Paling lambat minggu depan ya, kamu rupanya sudah kangen sekali sama suami tampan mu ini." Kelakar Bramanstya tersenyum.
"Heeemmm... gr saja terus..."
Pasangan unik itu pun bercerita tentang keadaan masing-masing. Bram rupanya tidak segera menyudahi obrolan.
Teng tong teng tong.
"Honey... nanti aku telepon lagi ya, ada tamu." Bram mengakhiri video call setelah mendengar bel berbunyi.
"Selamat pagi Tuan" Sapa ajudan Bram. Ternyata dia yang datang. "Tuan memanggil saya?" Tanya ajudan Bram setelah disuruh masuk.
"Cari lokasi tanah kosong di Surabaya, yang tidak jauh dari pedesaan." Titah Bramastya. Rupanya pria itu tidak hanya jatuh cinta kepada Dewi, tetapi juga cinta dengan suasana desa yang masih sejuk tanpa polusi.
"Baik Tuan."
Bram minta dicarikan tanah yang cocok untuk tempat tinggal keluarga kecilnya. Ia tidak ingin tinggal di apartemen yang hanya melihat gedung-gedung tinggi. Tentu minta lokasi yang strategis dengan sekolah untuk masa depan anak-anaknya kelak.
"Saya permisi Tuan," Ajudan Bram pergi menjalankan tugas.
Bramanstya pun akhirnya tidur, setelah video call rasa rindunya kepada Dewi sedikit terobati. Hingga siang hari, samar-samar merdengar bel berbunyi.
Bram bangun dari tidur lalu membasuh wajahnya di wastavel sebelum menemui siapa yang datang.
"Bapak... Ibu... mari masuk." Ucap Bram ternyata yang datang adalah mertuanya.
"Tidak usah Nak Bram, kami hanya memberi tahu, kami sudah siap berangkat ke desa." Kata pak Adi.
"Oh iya Pak, sebentar." Bram pun salin baju shalat dzuhur kemudian berangkat bersama mertua. Di antar ajudan yang sengaja Bram panggil dari Jakarta.
Satu jam perjalan dari desa ke kota, menantu bersama mertua itu tiba di balai desa. Masyarakat rupanya sudah menunggu Ceo tampan itu.
"Assalamualaikum..."
Semua mata menatap kagum kepada pria yang berjalan di belakang pak Adi dan bu Endang.
__ADS_1
"Bram..." Lirih salah satu wanita yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Wanita itu terperangah tidak menyangka jika Bram akan datang ke desanya.
...~Bersambung~...