Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 49


__ADS_3

PoV Bramanstya.


Emosi! Itulah yang aku rasakan ketika menerima kiriman foto istriku dalam pelukan Zaidan, yang dikirimkan Felicia. Aku tahu jika itu ulah Felicia, untuk menghancurkan pernikahan kami. Tetapi, aku pria biasa yang punya rasa cemburu. Pasalnya hingga saat ini aku belum bisa mendapatkan maaf dari Dewi. Aku tidak ingin yang muluk-muluk berharap agar istriku bisa menerima cintaku, tetapi Dewi memberi maaf pun aku sudah bersyukur.


Aku yakin istriku bukan orang yang mudah jatuh cinta kepada pria lain contohnya aku. Tetapi Zaidan, bisa saja kan dia mencintai Dewi. Itulah yang membuatku ragu dengan supir aku itu. Dia bukan supir biasa selain tampan juga tidak akan sulit mendapatkan wanita cantik di manapun.


Kenapa pria-pria terdekat istriku orang yang masih muda dan tampan? Sedangkan aku, hanya pria rusak seperti apa yang istriku katakan.


Kepalaku pusing sekali memikirkan itu, setelah beberapa saat merenung aku ingat kenapa tidak mengecek cctv. Yah, itulah jika otak tidak berpikir dengan jernih pikiranku menjadi buntu. Tidak membuang waktu segara aku check cctv.


Ya Allah... aku jitak sendiri pelipis ku, setelah melihat rekaman cctv. Sedetik kemudian aku segera ke kamar Dewi.


Beberapa saat aku mondar mandir di depan kamar Dewi, rasanya malu sekali karena sudah marah-marah padahal belum tahu kebenarannya.


"Bismillah"


Tidak ada acara mengetuk terlebih dahulu aku segera membuka handle pintu kamar istriku, dia sedang serius dengan buku bacaan. Istriku ini memang lebih suka membaca daripada main game atau apalah yang banyak bertebaran di google.


Kamar istri? Heemm... lucu sekali jika dipikir, suami istri tetapi tidur terpisah.


"Prirus..." Ucapnya. Mendengar derit pintu ia segera menoleh ke arahku lantas meletakan buku di depanya. Aku tersenyum tiap kali dia memanggil aku Prirus hatiku senang dengan panggilan itu, walaupun artinya tidak baik.


"Sudah selesai marah-marah nya..." Dia menyindir dua sisi bibirnya tertarik ke bawah, sungguh menggemaskan sekali.


"Maaf." Ucapku.


"Felicia kemarin kesini?" Sambungku walaupun aku sudah melihat semua kejadian di cctv.

__ADS_1


"Iya... ibu tirimu itu menakutkan tahu nggak?! Zaidan tidak bersalah. Seharusnya kamu mencari tahu dulu jangan main tuduh ikut-ikutan ibu tirimu itu." Omel nya. "Andai kamu tahu, Zaidan melakukan ini karena menahan tubuhku agar jangan sampai jatuh karena didorong Felicia. Jika sampai aku jatuh apa yang akan terjadi dengan anakku," Ucapnya panjang lebar. Ia usap perutnya yang belum terlihat menonjol.


Aku tidak bermaksud memotong ucapan nya, mendengarkan saja saat ia setengah berceramah, karena aku memang bersalah.


"Maaf aku salah..." Aku pegang kedua telapak tangannya kami saling pandang. Lalu aku ceritakan jika sudah memasang cctv di apartemen ini. Dari tatapan mata nya ia sangat kecewa mungkin karena aku sudah memarahi Zaidan.


"Aku mau pulang, kalau kamu tetap ngotot ingin aku tetap disini, aku bisa minta bantuan Ami mengurus paspor," Ujarnya nggak mau dibantah.


"Mantan pacarmu itu orang yang nekat, aku tidak ingin anak aku menjadi sasaran." Imbuhnya. Air matanya menggenang di pelupuk. Aku sekarang sadar bahwa selama hampir satu bulan tanpa aku sadari telah memenjarakan dirinya.


"Iya, iya... dalam waktu dekat kita akan pulang ke Indonesia, sekarang aku mau menyelesaikan masalah Felicia dulu." Jawabku tidak main-main. Lalu aku usap air matanya yang sudah jatuh ke pipi dengan telunjuk, kemudian aku rengkuh tubuhnya hingga tenggelam di dada ku.


Beberapa menit kemudian, aku melepas pelukan, pandanganku tertuju pada buku yang tergeletak di atas meja.


"Kamu lagi baca apa honey?" Aku mengalihkan lalu duduk di sofa di sebelahnya. Aku ambil buku itu membaca sekilas cover buku tersebut ternyata yang dia baca buku tentang kehamilan.


"Kok tangan kamu berkeringat honey... padahal AC nya dingin, kok." Aku yang sedang berjongkok memegang lutut dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan menggenggam punggung tangan, mendongat memandang wajah cantiknya bersemu merah, aku tahu jika dia tersipu malu.


Ya ampuuunn... kenapa dadaku berdentam-dentam seperti gendang yang di tabuh. Rupanya tidak hanya dia yang berkeringat, aku pun sama. Semua urat-urat ku menegang. Waduuh... bisa bahaya jika terus begini.


"Banyak sih, jenis buku yang aku baca, termasuk cerita fiksi," Rupanya dia mengalihkan juga. Seketika aku tersadar segera kembali duduk ke tempat semula. Kami pun banyak membahas tentang buku rupanya dia senang sekali.


Tanganku memberikan sentuhan-sentuhan lembut jika biasanya dia menepis tetapi kali ini tidak. Aku baru tahu untuk membuat istriku bahagia tidak perlu yang mahal. Mengambil tema obrolan yang dia suka dan sederhana ternyata mampu membuat istriku tersenyum.


************


Sejak pagi hingga siang pasutri itu mulai nyaman berbicara. Saat siang hari mereka makan salad sayuran segar buatan Ami. Setelah makan mereka ngobrol santai di atas ranjang. Kata-kata konyol Bram tak jarang mengundang tawa Dewi. Hingga Bram pun tertidur mungkin karena lelah, Dewi tidak mau mengganggu suaminya itu.

__ADS_1


Hingga tiba waktu sore, Bram sudah bersiap-siap hendak ke rumah membuat perhitungan dengan Felicia.


"Jangan emosi menghadapi Felicia." Pesan Dewi. Ia takut Bram nekat lalu berbuat kekerasan, seperti yang dilakukan kepada Zaidan tadi pagi.


"Memang kenapa? Selama ini aku sudah cukup mengalah kok, sekali-kali wanita itu harus diberi pelajaran."


"Kamu mau anak dalam perut aku ini nggak punya Bapak." Sungut Dewi.


Bram terkejut dengan ucapan Dewi, ditatapnya lekat wajah istrinya itu. "Apa hubungannya dengan bayi kita." Sahut Bram kemudian.


"Ya, aku sih khawatir saja, sudah berapa kali kamu menghajar orang." Dewi ingat ketika Bram menendang Ember saat sedang marah dengan Felicia, saat sedang bertengkar dengan Firmansyah, dan baru tadi pagi menampar Zaidan.


"Kalau sampai kamu kehilangan kendali, lantas memukul, apa lagi sampai menembak, terus kamu..." Dewi tidak melanjutkan ucapanya. Kata-kata adalah do'a, Dewi tidak ingin terjadi sesuatu dengan suaminya.


Bram tidak lagi menyahut menaikkan resleting jaket yang ia kenakan.


"Lagi pula pamali kalau istrinya sedang hamil lalu bapaknya main kasar." Dewi menambahkan.


"Iya Tuan putri... aku berangkat ya... muach,"


Dewi memundurkan wajahnya merasakan bibirnya terasa dingin lantaran Bram tiba-tiba mencuri ciuman. "Iihh..."


Bram terkekeh lalu ke luar apartemen bersama Zaidan menuju kediamannya.


Tiba di tempat, Bram melangkah cepat kemudian menggedor-gedor pintu rumahnya sendiri. Kontan seisi rumah berlarian ke arah pintu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2