Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 68


__ADS_3

"Kenapa Bu?" Tanya pak Gatot yang sedang menikmati kopi dan cemilan bersama Firmansyah melihat wajah istrinya uring-uringan.


"Katanya ibu mau belanja? Mana sayurannya?" Firmansyah menyambung.


"Tidak jadi belanja, malas mendengar ibu-ibu pada gibah pagi-pagi," Kilah Laras, malu ingin jujur kepada anak dan suaminya. Pantas saja Firmansyah tidak mau dekat-dekat dengan Surti ternyata ini alasannya.


Firmansyah dan pak Gatot saling pandang. "Syukurlah kalau ibu sudah menyadari." Jawab pak Gatot santai lalu kembali menyeruput kopi pahit.


"Mbok..." Panggil Laras kencang kepada art.


"Saya Bu." Hanya hitungan menit art sudah menghampirinya.


"Kamu belanja sana, lauknya daging, beli setengah kg. Sayuranya terserah kamu," Laras memberikan lembaran uang merah.


*********


4 bulan kemudian, selama itu rumah tangga Dewi dengan Bram adem ayem. Mereka sudah pindah rumah sejak tiga bulan yang lalu. Suami istri itu saling menyayangi dan melengkapi. Bram selalu memberi perhatian khusus untuk anak dan istrinya.


Namun selama satu bulan ini, Bram selalu sibuk mengurus cabang usaha dagang yang baru satu bulan ini ia dirikan. Tidak jarang Bram pulang malam. Dewi tentu memahami kesibukan suaminya itu.


"Oeeekk... oeeekk..." Calvin saat ini sudah bisa tengkurap dan ngoceh membuat gemas. Namun, sore ini Calvin sangat rewel sudah diberi asi tetapi masih menangis terus.


"Sayang... jangan nangis ya..." Dewi memegang dahi putranya ternyata panas sekali. "Ya Allah, sayang... kita telepon ayah ya," Ucap Dewi, meraih handphone di atas meja menekan nomor suaminya hingga berkali-kali namun tidak juga di angkat.


"Oeeekk... oeeekk..."


"Ya Allah... angkat Mas... angkat..." Dewi prustasi lalu meninggalkan pesan untuk suaminya itu bahwa Calvin panas dan akan membawanya ke rumah sakit.


"Sebentar sayang kita ke dokter ya," Dewi kebingungan. Sambil menggendong Calvin ia ambil tas dan dompet hendak ke rumah sakit dengan taksi saja.

__ADS_1


"Bi Ami... Calvin panas sekali badanya," Kata Dewi dengan mata mengembun.


"Ya Allah... mau tumbuh gigi kali Non," Kata Ami menenangkan Dewi. Padahal Ami tahu jika hendak tumbuh gigi walaupun panas tetapi hanya sumeng saja.


"Saya mau ke dokter, tetapi telepon Mas Bram tidak di angkat Bi." Dewi rasanya ingin menangis saja. Sebab, Calvin menangis kejer.


"Bibi simpan nomor Zaidan nggak?" Imbuh Dewi, sambil menggerak-gerakan tubuhnya agar Calvin tenang di gendongan.


"Ada Non," Ami tidak banyak berpikir langsung menghubungi Zaidan, sekali dua kali tidak diangkat. Ami belum menyerah mengulangi kembali. Namun, masih sama tidak di angkat pada akhirnya menyerah juga.


"Mari Non, saya temani." Kata Ami tanpa disuruh sudah tanggap memesan taksi. Namun, sudah setengah jam menunggu di pinggir jalan taksi baru konfirmasi membatalkan pesanan.


"Oeeeekkk... oeeekk..."


"Astagfirullah... bagaimana ini Bi? Kalau pesan ojek saja Bi."


Saat kebingungan seorang pria pengendaran motor berhenti di depan Dewi. Pria itu membuka helm. "Dewi... kenapa anak kamu menangis terus?" Pria itu turun dari motor mendekati Dewi.


"Calvin panas sekali Mas Firman, aku mau ke rumah sakit, tetapi pesanan taksi tiba-tiba dibatalkan," Tutur Dewi diliputi kesediaan.


"Ayo aku antar," Kata Firman segera naik ke atas motor yang belum dia matikan.


"Tidak usah Mas, bibi sudah pesan ojek kok, mungkin sebentar lagi tiba," Tolak Dewi halus. Ibu muda itu tidak ingin suaminya marah lantaran berboncengan dengan mantan pacar.


Hingga beberapa saat mereka membantu Dewi menenangkan Calvin sambil menunggu ojek. Namun yang ditunggu-tunggu tidak juga datang. Di desa tentu tidak cepat seperti di kota jika membutuhkan transportasi seperti sekarang.


"Sudahlah Wi ayo, biar cepat sampai rumah sakit. Kamu tidak kasihan anakmu menangis terus gitu," Ucapan Firman memang benar.


"Non... benar kata Nak Firman, nanti kalau Tuan datang, saya beri tahu supaya menyusul," Bi Ami menambahkan, lalu ke dalam rumah ambil helm.

__ADS_1


"Oeeeekkk... oeeekk..." Dewi memandangi putranya tampak kesakitan, ditambah lagi waktu sudah menjelang magrib, tidak mau membuang waktu lagi, Dewi segera naik ke atas motor Firman.


"Ini helmnya Non." Ami berlari memberikan helm. Setelah Dewi mengucapkan terimakasih Firman melajukan motornya cepat.


"Biar aku saja yang daftar Wi," Kata Firman ketika mereka tiba di rumah sakit. Dewi mengangguk lalu mencari tempat yang tertutup untuk memberi asi Calvin. 30 menit Dewi menunggu, handphone Dewi bergetar.


"Ini pasti ayah yang telepon sayang..." Dewi bersemangat. Namun, begitu dilihat ternyata Firman yang menghubungi mengatakan bahwa nama Calvin sudah dipanggil.


"Iya Mas," Dewi menutup panggilan lalu berjalan terburu-buru sambil menggendong Calvin yang sedang merintih.


"Ayo Wi." Firman mengantar Dewi ke dokter ibu dan balita yakni dokter Yunia. Calvin segera diperiksa.


"Mbak, tolong teteskan ini ya," dokter Yunia memberikan botol kecil.


"Iya Dok." Dewi membuka tutup botol lalu meneteskan obat turun panas ke mulut Calvin.


Semantara Yunia sedang berbincang-bincang dengan Firman. "Sakit apa Calvin dok?" Firman tampak khawatir.


"Jangan khawatir, anak Anda mengalami gejala flu biasa kok, Syukurlah Anda cepat membaw ke sini," Dokter Yunia memberikan obat yang sudah diracik oleh perawat.


Firman melirik Dewi, hanya bisa menarik napas panjang. Andai saja apa yang dikatakan dokter itu benar, alangkah bahagianya. Namun, semua sudah berakhir. Firman mengaku kalah, bunga desa yang dia idam-idamkan telah dipetik orang.


"Terimakasih Dok," Ucap Dewi tersenyum lalu kembali pulang.


Malam harinya Dewi turun dari motor Firman, bersamaan dengan itu, Bram pun baru saja turun dari mobil.


.


.

__ADS_1


__ADS_2