Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 22


__ADS_3

Setelah mengadakan rapat antar beberapa negara membahas tentang perdagangan. Bram memutuskan untuk pulang. Ia ingin segera bertemu dengan wanita yang membuatnya bangkit dari kehancuran moralnya sejak awal kuliah.


"Dewi ku..." Gumamnya begitu masuk ke dalam lift. Walaupun semarah apapun Dewi tidak akan dia ambil hati. Dengan semangat ia segera menemui Zaidan di tempat parkir.


"Antar saya ke apartemen Zai." Perintahnya seraya masuk ke dalam mobil.


"Mari Tuan."


Di dalam mobil Bram hanya diam bersandar di jok tengah. Ketika mengingat Dewi, pikiranya kembali ke masa lalu, ketika Bram kecil selalu dimanja sang mama. Mama yang amat sangat sayang padanya. Mendidik dengan lemah lembut membuatnya terlena seolah tidak ingin kehilangan wanita yang melahirkan dirinya.


Namun, ketika menginjak kelas tiga SMA, Bram sering memergoki mamanya sedang menangis, murung, banyak diam, dan sering menyendiri.


"Mama kenapa?" Tanya Bram ketika baru pulang sekolah mama sedang sesegukan di kamar.


"Eemm... tidak apa-apa Bram," Jawab Anindya sang mama, menyusut air matanya cepat.


"Mama sedih karena Papa jarang pulang?" Tanya Bram merangkul Anindya yang sedang berdiri di jendela kamar menatap keluar. Andro papa Bram sebagai pengusaha sukses, tentu Bram tahu jika papanya selalu sibuk hingga Anindia sering kesepian.


"Tidak sayang... Papa kan cari uang untuk kita, kenapa harus kesepian," Dalih Anindya.


Tidak puas dengan jawaban sang mama. Bram menyelidiki Andro papanya, tanpa sepengetahuan papa dan mama. Hingga puncaknya, Andro sudah sepekan tidak pulang. Dengan mobinya, Bram membuntuti Andro, hingga tiba di salah satu hotel. Betapa terkejutnya Bram, ketika tangan sang papa merangkul pinggang wanita yang masih sesuai dengannya masuk ke dalam kamar hotel.


"Jadi ini yang membuat Mama aku selalu sedih!" Gumam Bramanstya mengepalkan kedua tangan lalu pulang ke rumah. Tiba di rumah, Bram mendapat laporan dari art bahwa Anindya sakit.


"Sakit apa Bi." Tanya Bram kepada Aminah.


"Badanya sakit Tuan, mau saya antar ke dokter, Nyonya tidak mau," Tutur Ami. Bram melempar tas ke sofa ruang tamu, kemudian berlalu ke kamar Anindya.

__ADS_1


"Mama..." Sapa Bram begitu tiba di kamar, sang mama meringkuk bergulung selimut. Tidak ada jawaban dari Anindya, Bram mendekat tanganya meraba dahi sang mama sangat panas.


"Mama... astagfirullah...." Bram menghubungi Ami agar memanggil Imam sang supir yang tak lain adalah suami Aminah. Bram menggendong Anindya melarikan ke rumah sakit.


Semenjak saat itu, Anindya sering sakit-sakitan. Wajah cantiknya berubah menjadi pucat, makin hari badanya semakin kurus seperti mayat hidup. Bram dengan telaten mengurus mamanya sementara Andro kian hari kian menghilang asik dengan wanita selingkuhanya.


Begitu pulang, Andro datang bersama wanita yang bernama Felicia yang pernah di pergoki Bram di hotel ketika itu. Terlebih, Andro mengumpulkan semua keluarga dan mengatakan bahwa Felicia adalah istri keduanya.


"Brengsek kau wanita busuk! Ku bunuh kau!" Bramanstya marah besar. Wajahnya berubah menyeramkan segera ia ambil aksesori yang terbuat dari kristal hendak memukul Felicia.


"Hentikan!" Bentak Andro menghalangi Felicia yang sadang bersembunyi di belakang Andro. Pertengkaran antara papa dan anak itu membuat dada Anindya yang susah sesak karena kehadiran madunya, kini semakin sesak kala melihat putra satu-satunya melawan suaminya.


"Mamaaaa...!!!" Jerit tangis Bramanstya saat melihat sang mama jatuh tersungkur di lantai dan saat itu juga menghembuskan napas terakhir.


"Mamaa... jangan pergi Maaa..." Bram memeluk tubuh sang mama. Kini mama yang sangat ia sayangi telah pergi. Pergi untuk selamanya, dan tidak akan kembali lagi.


Bram mengumpulkan semua kekuatan, lalu pulang ke Indonesia. Namun bukan Bram anak mama yang penurut. Bram ke Indonesia membawa dendam, menundukkan para wanita, tentu hanya untuk bersenang-senang.


Ia kuliah di Indonesia merangkap Ceo di perusahaan peninggalan oppa yang awalnya di urus oleh Uncle. Wajah tampan dan berduit, mampu menaklukkan gadis kampus tetapi hanya memberikan harapan palsu, setelah berhasil maka Bram akan puas.


Walaupun begitu, Bram bisa menamatkan kuliah hingga S2 tidak pernah mengunjungi Andro sang papa ke negara B. Terakhir mendapat kabar dari Uncle bahwa Andro meniggal, Bram kemudian pulang.


Bukan tidak menyesal, Bram kehilangan sang papa. Namun hatinya tertutup dendam.


Tidak hanya sampai di situ, Bram juga menjadi Casanova setiap wanita yang ia tiduri menagih dan terkesan murahan.


Begitulah Bram, hampir 10 tahunan menjadi pria yang kehilangan arah. Selalu foya-foya untuk bersenang-senang dan hingga akhirnya Arin menyuguhkan gadis cantik, apa adanya yaitu Dewi.

__ADS_1


Saat bertemu Dewi di dalam kamar, hati Bram berdesir, seketika ingat Anindya. Melihat Dewi seolah sang mama hidup kembali. Awalnya Bram tidak tega melakukannya, namun antara hati dan na*su berperang, dan na*su lah akhirnya yang menang.


Bram menarik napas panjang, kini pria itu menyesal. Melukai hati Dewi berarti melukai hati mamanya.


"Zai, sebelum kita ke apartemen antar saya ke kuburan Mama dulu," Titahnya.


"Baik Tuan." Zaidan belok arah menuju pemakaman muslim di negara B. Tiba di tempat, Bram tidak bisa membaca doa ziarah kubur. Yang ia ingat, surah Al fatihah dan tiga surah pendek, yang selalu Anindya ajarkan ketika SD. Setelah ke kuburan papa dan mamanya yang hanya bersebelahan, Bramanstya pun pulang.


Bramanstya adalah seorang Ceo meneruskan usaha dagang almarhum Andro sang papa yang didirikan sejak tahun 1962 oleh sang oppa. Perusahaan turun temurun Andro, tidak hanya di negara B, tetapi di Indonesia pun maju pesat. Andro sang papa berasal dari negara B, lalu menikah dengan gadis Jakarta yang bernama Anindya.


Selama 30 menit perjalanan dari pemakaman ke apartemen. Zaidan menghentikan laju kendaraan. Ia buka pintu belakang untuk Bram. Bram pun berjalan tergesa-gesa memencet lift, menuju lantai tujuh dimana Dewi berada.


Tok tok tok


Bram mengetuk pintu tidak menunggu lama pintu di buka oleh Ami.


"Bi, bagaimana? Dewi sudah mau makan, mau pakai baju yang saya belikan?" Cecar Bram pelan, tapi penasaran. Agar jangan terdengar Dewi, Bram akan mendekati Dewi perlahan-lahan. Bram tahu Dewi tidak mau dipaksa.


"Alhamdulillah... Dewi sudah makan dua kali, sudah salin pakaian. Sekarang lagi di kamar Tuan." Jawab Ami.


Bram melepas sepatu agar tidak menimbulkan bunyi, lalu berjalan pelan mendekati pintu kamar Dewi. Seperti maling, pria itu membuka kenop, bukan mau apa-apa hanya ingin tahu apakah keadaan Dewi masih seperti tadi pagi saat ia tinggalkan.


Pintu terbuka matanya melihat sosok yang di rindukan sedang bersujud. Yakni, menjalankan ibadah sholat dzuhur, hati Bram terpanggil. Sudah berapa lama ia tidak menjalankan shalat. Ia ingat saat masih ada mamanya sekitar 10 tahun yang lalu. Bram akhirnya menutup pintu kamar Dewi.


"Seperti ada yang membuka pintu" Gumam Dewi, masih mengenakan mukena yang ia pinjam dari Ami keluar membuka pintu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2