
"Ibuuuuuu.... hu huuuu..." Pekik Dewi menatap layar saat ini sedang vidio call dengan sang Ibu yang selalu ia rindukan. Dewi menangis, pasti ibunya sedih karena ia pergi tidak pamit. Selama ini Dewi anak perempuan satu-satunya selalu dimanja terutama bapaknya.
"Dewi... kenapa kamu menangis sayang..." Bu Endang menatap layar tidak kalah sedih dari putrinya. Bu Endang merasa bersalah karena menikahkan putrinya tidak berbicara dulu. Bu Endang takut jika Dewi marah kepadanya. Endang memahami perasaan Dewi, terlepas Dewi itu anaknya atau bukan, sebagai seorang wanita pun tidak semudah membalikan telapak tangan untuk menerima Bram.
Dua wanita itu saling diam, hanya memandangi hp masing-masing. "Dewi... jangan sedih..."
"Nggak kok Bu... aku justeru senang, karena sudah bisa telepon ibu. Soalnya kan hp aku ketinggalan." Celoteh Dewi manja.
"Iya sayang... kamu di Amsterdam baik-baik saja kan Nak?"
"Ibu tahu kalau aku disini?" Dewi kaget mengapa sang ibu bisa tahu keberadaannya.
"Ibu tahu sayang... kan Bram minta izin sama Ibu,"
"Apa?" Dewi benar-benar bingung dibuatnya, ternyata dirinya bukan diculik oleh Bram. Melainkan minta izin kepada orang tuanya, dan lagi-lagi mengapa ibu dan bapak mengizinkan dirinya diajak Bram ke tempat ini.
"Sayang... kamu baik-baik disana ya Nak, jaga cucu ibu dengan baik. Ibu percaya jika Bram sekarang sudah berubah bisa melindungi kamu dan anak kamu. Bram sudah menceritakan semuanya kepada Bapak, Ibu." Tutur bu Endang diplomamatis.
"Ibu... sekarang Bapak kemana?" Dewi tidak mau tahu cerita tentang Bram, tetapi justeru ingin melihat keadaan bapaknya.
"Ada, ibu samperin Bapak kamu dulu ya." Bu Endang menghilang dari layar handphone Dewi, tidak lama kemudian, bu Endang sudah duduk di sofa mewah bersama sang suami.
"Bapaaakkk..." Dewi melambaikan tangan air matanya mengalir.
"Dewi... Bram memperlakukan kamu dengan baik kan Nak?" Tanya pak Adi. Dewi menangkap ke khawatiran di wajah sang bapak.
__ADS_1
"Dewi disini baik-baik kok Pak." Sangking seriusnya Dewi ngobrol tidak menyadari jika Bram naik ke tengah ranjang dimana Dewi duduk.
"Bapak... Ibu..." Kata Bram. Ia ambil kesempatan merangkul tubuh Dewi dari belakang dengan tangan kiri. Tangan kananya melambai ke arah mertua nya. Sungguh sempurna akting Bram, hingga pak Adi dan bu Endang merasa lega ternyata Dewi sudah menerima suaminya. Padahal tidak beliau sadari tangan Dewi menyikut-nyikut perut Bram.
"Bapak... Ibu... ada makhluk jadi-jadian di belakangku." Adu Dewi. Dewi tidak ingin orang tuanya salah sangka, mengira bahwa ia melakukan hubungan terlarang dengan Bram. Tetapi Dewi heran kenapa kedua orang tuanya tidak marah ketika dirinya dipeluk Bram, justeru senyum-senyum. Padahal bapak dan ibunya tahu Bram orang yang sudah merusak hidupnya.
"Bapak sama Ibu memang lagi dimana?" Dewi memutar kamera melihat tampilan sofa, jelas bukan di rumahnya yang hanya ada kursi usang.
"Ibu tinggal di apartemen suami kamu Nak"
"Suami?" Dewi melebarkan mata siapa yang dimaksud suami. Mas Firmansyah kah? Dewi tidak tahu jika Bram di belangnya senyum-senyum mendengarnya. "Siapa suami Dewi Pak? Apa kedua orang tua Firman menyetujui pernikahan kami?" Dewi harap-harap cemas.
"Dewi... jangan pikirkan Firmansyah lagi Nak, ada yang lebih berhak atas bayi yang kamu kandung. Kamu sekarang sudah menjadi istri Nak Bram"
"Yang dikatakan Bapak sama Ibu benar honey..." Bram meyakinkan Dewi.
"Bapak... Ibu..." Dewi kecewa, mengapa orang tuanya main menikahkan dirinya begitu saja, tidak membicarakan kepadanya terlebih dahulu. Dewi merasa lemas mendengarnya.
"Dewi... tidak ada yang perlu kamu sesali lagi sayang... semua sudah takdir. Ibu percaya, kamu anak baik, cepat atau lambat akan menerima Nak Bram menjadi suami kamu. Anak dalam kandungan kamu itu membutuhkan figur seorang Bapak, karena darah lebih kental daripada air. Bapak sama Ibu sudah mempertimbangkan ini semua sayang... Ibu rasa hanya Bram yang tepat untuk menjadi imam kamu." Nasehat bu Endang.
Suasana kamar menjadi senyap, hanya terdengar dua napas manusia yang sedang mencerna apa yang terjadi. Keduanya merenungkan nasehat bu Endang.
"Dewi, perlu kamu tahu juga, Bapak sama Ibu sudah diusir dari kampung," Pak Adi memecah keheningan.
"Diusir?" Potong Dewi, matanya yang sudah kering pun mengembun kembali.
__ADS_1
"Iya Nak... sekarang... kamu yang kerasan di situ. Kalau mau pulang menunggu amarah warga reda dulu," Tutur Bu Endang panjang lebar. Dewi hanya mengangguk-angguk dadanya terasa sesak mendengar cerita ibunya. Obrolan berhenti karena sambungan telepon tiba-tiba putus, mungkin gangguan signal.
Dewi menutup hp lalu meletakan di atas meja, melungguhkan bokongnya di sofa menjauhi Bramanstya. Bramanstya pun beranjak dari tempat tidur lalu menghampiri Dewi.
"Honey... maafkan aku sudah lancang mengambil keputusan ini tanpa sepengetahuan kamu. Jujur Dewi... Aku menikahi kamu bukan hanya sekedar bertanggukjawab atas bayi yang kamu kandung, tetapi aku mencintai kamu." Jujur Bram menggengam tangan Dewi.
Dewi melepas tangan Bram. "Tolong tinggalkan saya, saya mau sendiri," Jawab Dewi lalu pergi meninggalkan Bram ke balkon apartemen.
Bram hanya menatap langkah Dewi dari belakang hingga Dewi tidak terlihat lagi. Pria itu kemudian meninggalkan kamar Dewi, membiarkan wanita yang sudah mengisi penuh ruang hatinya itu, untuk menenangkan diri.
Di balkon, Dewi meragukan dirinya sendiri. apakah dia mampu menerima Bram seperti yang bu Endang dan pak Adi katakan. Dewi sadar dan tahu diri. Akan berpikir dua kali untuk tetap berharap kepada Firman, karena diantara mereka jelas sudah berbeda dan tidak mungkin bersatu. Tetapi Dewi juga belum yakin jika bisa menerima Bramanstya.
Allah hu akbar... Allah hu akbar.
Mendengar Adzan magrib, Dewi bersujud ke hadapan yang maha kuasa. Ia berserah diri dan doanya hanya ingin yang terbaik untuk semuanya.
Tok tok tok
"Siapa?" Tanya Dewi setelah selesai magrib ada yang mengetuk pintu.
"Saya Non... makan malam sudah siap" Ternyata Aminah yang memanggil.
"Iya Bu" Dewi mengenakan sandal jepit lalu ke luar kamar. Di meja makan Bram ternyata sudah menunggu disana. Mendengar langkah kaki Dewi Bram segera menarik kursi untuk istrinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1