Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 70


__ADS_3

Dewi merasa marah dan sesak mendengar ucapan Bram yang menuduhnya ada main dengan Firman, kala Bram sedang bekerja.


"Kamu keterlaluan Mas!" Sinis Dewi, karena tidak mau bertengkar lebih lama, Dewi melanjutkan ke toilet.


Brak!


Dia banting daun pintu kamar mandi, kemudian membuang air seni. Setelan menyelesaikan hajatnya, Dewi berkaca di wastavel kamar mandi. Di tempat itulah, Dewi menghabiskan tangisnya hingga beberapa saat kemudian.


"Calvin," Seketika Dewi ingat anaknya yang ia tinggal di kamar sendirian. Apa lagi sedang dalam keadaan sakit. Dewi membasuh wajahnya di wastavel. Setelah mengeringakan dengan handuk, kemudian membuka pintu kamar mandi.


Tiba di kamar, Dewi melewati suaminya yang sedang tidur, atau pura-pura tidur, Dewi tidak tahu. Dia memilih menyusul putranya yang sudah satu jam lebih ia tinggalkan.


Tiba di kamar, ternyata Calvin masih pulas. Dewi memindahkan putranya ke ranjang lalu turut merebahkan tubuhnya. Hari ini rasanya lelah lahir batin. Dewi mencoba tidur untuk mengurangi perasaannya yang tidak bisa digambarkan.


**********


"Zai... bagaimana ini? Sebaiknya aku bangunkan Non Dewi nggak?" Tanya Ami, saat ini sudah jam sembilan malam, tetapi kedua majikannya tidak ada yang ke luar dari kamar. Padahal makan malam keburu dingin.


"Sebaiknya nggak usah Bi," Cegah Zaidan yang sedang makan malam di dapur bersama Ami.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa sih Zai?" Selidik Ami. Ami belum tahu apa yang terjadi, tetapi cukup peka bahwa sedang terjadi sesuatu dengan Bram dan Dewi. Biasanya usai makan malam kedua bos nya selalu bercengkrama di depan televisi. Tetapi saat ini sepi.


"Memang bi Ami tidak mendengar keributan di luar?" Zaidan balik bertanya, sembari mencuci piring bekas ia makan.


"Ada apa Zai," Ami beranjak menghampiri Zaidan yang sedang meletakan piring di rak, kemudian bersandar disana. Di tempat itu mereka ngobrol saling berhadapan. Zai menceritakan semuanya, tentang perkelahian antara Bram dan Firman.


"Ya Allah... masa sih? Mungkin Tuan cemburu ya Zai." Tebak Ami. Saat sedang ngobrol, pintu kamar Bram terbuka. Keduanya langsung diam menatap Bram yang keluar dengan wajah lebam-lebam. Bram melirik kamar Calvin yang bersebelahan dengan kamarnya, lalu ke meja makan.


"Makan malam sudah siap Tuan," Dengan perasaan takut, Ami beranjak menghampiri Bram yang sudah lungguh di kursi, sembari menekan-nekan pipinya.


Ami terkejut melihat wajah tuanya sudah bekas diobati. Plester menempel di beberapa tempat menghiasi wajah tampan Bram sedikit berkurang karenanya.


"Air putih saja Bi," Titah Bram.


"Nanti saja Bi, Dewi sudah makan belum?" Tanyanya, lalu meneguk segelas air hingga habis.


"Sejak tadi, Non Dewi tidak ke luar Tuan. Apa sebaiknya saya ketuk saja pintunya," Ami khawatir.


"Tidak usah Bi," Cegah Bram lalu kembali ke kamar, ia pun kemudian tidur.

__ADS_1


Pagi harinya.


"Mam, mam, mam," Oceh Calvin, mengangkat jempol kakinya memasukan ke dalam mulut. Bayi yang awalnya kecil itu kini sudah montok. Ocehanya membangunkan bunda nya yang masih pulas.


"Eh, anak bunda sudah bangun," Dewi langsung bangun menatap hidung putranya mengalir air bening. Dewi segera ambil tisue membersihkan hidung Calvin.


"Ternyata ini, penyebab anak bunda deman," Dewi menyentuh hidung putranya.


"Mam, mam, mam" Calvin menggerak-gerakan kaki dan tangannya. Dewi mengecek popok Calvin yang sudah basah. Setelah membersihkan dan menggantinya, Dewi kemudian menyusui hingga kenyang, Calvin pun bobok kembali.


Cepat-cepat Dewi ke kamar sebelah hendak ambil baju ganti, pagi ini dia mau mandi di kamar Calvin saja. Ia melempar pandanganya ke tempat tidur, disana Bram masih meringkuk seorang diri, seperti duda kedinginan. Namun, Dewi segera ambil yang dia cari setelah mendapatkan, lalu mandi.


Gelap tergantikan terang, matahari sudah menyuguhkan kehangatan pagi. Dewi ke luar rumah, hendak menjemur Calvin. Tetapi pandanganya tertuju ke garasi yang sudah terbuka dan sudah tidak ada mobil.


"Mas Bram sudah berangkat Bi Ami?" Tanya Dewi melihat Ami sedang menyapu lantai garasi.


"Sudah Non," Ami berhenti menyapu sejenak, memperhatikan mata bengkak Dewi.


Kekecewaan Dewi kian bertambah, kenapa Bram seperti anak kecil. Bukan berusaha meminta maaf kepadanya, tetapi suaminya berangkat justeru tidak pamit seperti biasa. Dewi bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi dengan suaminya? Apakah tidak mengecek handphone, membaca pesan yang ia kirim, agar Bram tahu permasalahan yang terjadi.

__ADS_1


.


.


__ADS_2