
Di dalam ruang rawat inap rumah sakit yang terdiri dari tiga kamar itu, hanya disekat dengan gorden. Tempat itu mendadak berisik membangunkan pasien wanita yang belum lama tidur.
"Ada apa ya?" Tanyanya dalam hati. Kala jerit tangis memekakkan telinga dari ruang sebelah membuat wanita yang tak lain adalah Surti terkejut dan kebingungan.
Ia bangun dari tidurnya, melirik sang ibu yang sedang tidur di lantai samping ranjang beralas tikar. Mungkin sangking lelahnya menjaga dirinya seharian sang ibu hingga tidak mendengar jeritan itu.
"Anakkuuu... bangun Naaak, jangan tinggalkan ibu Nak...," Jerit salah satu wanita, di ruang sebelah semakin kencang.
Surti menyibak gorden sedikit, matanya mengintai ranjang sebelah. Mata Surti melebar kala menatap wanita seusia dirinya berwajah pucat, mata melotot, baru saja menghembuskan napas terakhir membuat Surti begidik ngeri. Surti cepat-cepat melepas tangan dari gorden membuang napas kasar.
"Dia mati? Berarti cepat atau lambat aku juga akan mengalami nasib seperti itu?" Bibirnya komat kamit sendiri.
"Tidaaakk... aku belum mau mati." Ia tutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Penyakit sifilis yang ia derita karena kerap kali gonta ganti pasangan akan membunuhnya. "Hiks hiks hiks, aku belum mau mati."
"Surti..." Budhe mengerjap kala mendengar tangisan putrinya.
"Kamu kenapa Nak? Ada apa itu kamar sebelah?" Budhe bingung. Terkejut karena tangisan Surti belum hilang, sudah di kejutkan lagi dengan suara tangisan mengharu biru dari luar.
"Itu Bu," Surti menunjuk gorden di sebelahnya.
Budhe segera beranjak mendekati anaknya itu. "Ada apa?" Budi membuka sudut gorden melihat kamar sebelah ada dua wanita yang sedang menangis. Budhe lalu ke luar setelah diberi tahu suster bahwa pasien sebelah meninggal, budhe mengucapkan bela sungkawa, kemudian kembali ke kamar anaknya.
__ADS_1
"Ibu sudah mengucapkan bela sungkawa, sebaiknya kamu tidur," Imbuh budhe ingin membantu Surti merebahkan tubuh anaknya, tetapi Surti menolak.
"Aku takut Bu," Rengek Surti.
"Takut kenapa? Semua orang nantinya akan seperti itu, orang meninggal tidak boleh ada yang ditakuti Nak, karena tidak akan kembali," Nasehat budhe panjang.
"Bukan itu masalahnya Bu, tidak lama lagi aku juga akan meninggal kan?" Surti menangis.
"Kan ibu sudah katakan Surti... semua orang akan kembali kepada sang pemilik. Tetapi ibu ingin agar ibu duluan yang dipanggil." Tutur budhe tentu ingin meninggal sesuai urutan, jalan anaknya masih panjang.
"Tetapi penyakit yang aku derita ini sudah satu pertanda, bahwa aku yang akan pergi mendahului ibu"
Deg.
Sifilis bakteri sangat mematikan ditambah lagi Surti terlambat berobat. Penyakit dengan kata lain raja singa ini ditularkan melalui hubungan se***al. Yang menjadi pertanyaan budhe adalah; apakah Surti selama ini melakukan dosa besar tanpa ia tahu? Hati budhe bergemuruh.
"Bu... kenapa ibu diam?" Surti mengguncang tangan ibunya.
"Surti... sekarang ibu mau tanya sama kamu, jawab dengan jujur Nak," Kata budhe.
"Apa Bu," Surti menangkap wajah ibunya berubah tegang.
__ADS_1
"Apa kamu pernah melakukan hubungan terlarang sebelum menikah Nak?" Tanya budhe, diplomamatis.
Surti menunduk menggigit bibir bawahnya, haruskah dia bercerita dengan sang ibu apa pekerjaannya selama di Jakarta. Surti tidak berani memandang wajah sang ibu. Jika ibunya tahu pekerjaannya selama di Jakarta alangkah sedihnya beliu.
"Surti... jawab Nak," Budhe mengangkat dagu Surti.
"Ti-tidak!" Surti menggeleng.
"Surti... ibu memang orang bodoh nak, sekolah hanya tamatan SD, tetapi ibu tahu penyakit yang kamu derita ini ada kaitannya dengan..."
"Cukup Bu!" Surti menangis tergugu. Di genggamnya tangan ibu yang kasar dan kapalan bukti perjuangan seorang ibu agar anaknya menjadi yang terbaik. Diciumnya tangan yang sudah mengantarkan ke bangku sekolah walaupun hanya lulus SMK tetapi sang ibu banting tulang demi dirinya. Tetapi Surti telah membohongi selama tiga tahun.
"Surti.... katakan Nak," Budhe merengkuh tubuh putrinya yang terus menangis. Tanpa Surti cerita sebenarnya budhe sudah bisa menebak jika kecurigaannya memang benar.
"Siapa yang melakukan Surti... katakan Surti..." Desak budhe.
"Banyaaakk, Bu... hu huuuu...." Surti menjatuhkan wajahnya di dada sang ibu.
"Apa maksudmu Surti?!" Air mata budhe pun mengalir deras.
.
__ADS_1
.