Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 50


__ADS_3

"Kemana Felicia?!" Tanya Bram geram, kepada tiga art yang berdiri meremas kedua telapak tangan sambil menunduk tampak ketakutan.


"Ada apa Bram? Kapan kamu pulang dari Indonesia?" Felicia baru turun dari lift seperti tidak ada dosa menghampiri Bram.


Kilat marah memancar dari mata Bram hendak melayangkan telapak tangan. Namun ia menurunkan kembali, karena ingat pesan istrinya. 'pamali kalau istrinya sedang hamil lalu bapaknya main kasar' Kata-kata Dewi itu terngiang di telinga Bram.


"Apa yang kamu lakukan kepada istri saya?!" Tandas Bram.


"Tidak ada. Kebetulan aku hanya ingin main lalu memergoki istri yang kamu banggakan itu sedang selingkuh, apakah aku salah?" Kilah Felicia.


"Kamu pikir aku percaya apa yang kamu katakan?!" Bram menatap nyalang wanita yang ia benci di depanya.


"Sekarang jawab dengan jujur apa tujuan kamu datang ke apartemen istri saya! Jika tidak..." Bram menghentikan ucapanya.


"Okay... Okay. Saya datang ke sana hanya ingin minta jatah bulanan saya. Apa saya salah Bram?! Kamu jahat Bram, tidak bicara apapun tiba-tiba menghentikan kiriman uang." Protes Felicia.


"Itu belum seberapa Felis! Karena kedatangan saya kesini akan segera menendang kamu dari rumah ini, supaya kamu menjadi gelandangan!" Bentak Bram.


"Dengar Felicia, saya tidak hanya menggertak maupun mengancam. Sesuai surat wasiat Papa, kamu sudah tidak punya hak atas rumah, perusahaan, atau apapun peninggalan Papa." Beber Bram memang benar adanya.


"Tidak bisa begitu Bram!" Felicia tidak terima.

__ADS_1


Sebagai istri kedua almarhum Andro. Andro sudah berlaku adil terhadap Felicia. Padahal jika Felicia bisa mengelola keuangan peninggalan Andro dengan baik, sudah pasti Felicia pun mempunyai perusahaan sendiri. Namun nyatanya Felicia hanya bisa berhura-hura.


"Kenapa tidak bisa? Saya beri waktu 24 jam, kamu sudah harus meniggalkan rumah ini. Jika tidak, saya tidak segan-segan menyeret kamu ke luar!"


"Bi, mulai saat ini jangan layani wanita ini. Tugas kalian hanya membereskan rumah. Ngerti kalian." Titah Bram kepada ketiga asisten nya.


"Baik Tuan." Ketiga art yang sedang berbaris itu menyahut. Bram lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara Felicia sedang mondar mandir di kamar, ia bingung langkah apa yang harus dia ambil. Felicia yakin ucapan Bram bukan sekedar menggertak tetapi sungguh-sungguh.


"Tidaaakk... aku tidak mau pergi dari sini." Felicia membayangkan jika dia pergi dari rumah ini seperti apa yang dikatakan Bram tadi. Bayangan buruk terpampang nyata karena dia tidak punya tempat tinggal selain di rumah ini. Felicia membayangkan akan menjadi gelandangan tentu wanita itu tidak mau.


********


"Jadi... kamu tega mengusir Felicia? Kasihan tahu!" Sesal Dewi. Walaupun sudah disakiti oleh Felicia, tetapi menurut cerita Bram bahwa Felicia tidak mempunyai tempat tinggal, Dewi merasa kasihan.


"Lah, memang aku salah? Salah siapa berani berbuat ulah, lagi pula Dia itu sudah tidak ada hak tinggal di rumah itu." Tutur Bram.


Saat ini mereka sedang ngobrol di ruang tamu. Bram ambil kesempatan menjadikan pangkuan Dewi sebagai bantal. Dewi pun rupanya nyaman dengan posisi itu. Nyatanya Dewi tidak menolak lagi, ia merasa damai berada di dekat suaminya.


Tuling lung... tuling lung...

__ADS_1


"Bentar ya" Dewi mengangkat kepala Bram dengan telapak tangan, tetapi Bram menahan tangan Dewi.


"Biar bibi saja." Cegah Bram. Bram tidak ingin kehilangan momen seperti sekarang. Bersamaan dengan itu Ami keluar dari kamar membuka pintu.


"Nyonya." Sapa Ami, dan masih terdengar oleh Dewi dan Bram.


"Siapa Bu?" Dewi melihat ke arah pintu. Belum sampai Ami menjawab Dewi terperangah melihat siapa yang datang. Kemudian tanganya menepuk pundak suaminya tanpa memalingkan pandangan matanya dari sang tamu.


Bram pun bangun dari pangkuan Dewi menoleh Felicia sekilas lalu membuang muka.


"Bramanstya... aku berjanji tidak akan pernah mengganggu kalian, tapi tolong jangan usir aku Bram," Felicia memohon.


Bram tidak percaya dengan ucapan wanita yang duduk di depannya itu, justeru melengos. "Prirus..." Bisik Dewi di telinga Bram, meminta agar memberi kesempatan untuk Felicia.


"Tolong aku Bram, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku juga tidak akan minta uang kamu secara cuma-cuma, tapi tolong izinkan aku bekerja di perusahaan kamu." Kata Felicia sungguh-sungguh.


"Prirus..." Dewi menoleh Bram yang tampak cuek dan angkuh.


"Baiklah... tapi saya melakukan ini bukan karena saya sudah memaafkan kamu, tapi ini semua karena permintaan Dewi,"


Mereka pun pada akhirnya damai, Bram mengijinkan Felicia bekerja di perusahaan dengan catatan, Felicia tidak boleh besikap seperti boss, tetapi harus bekerja seperti karyawan yang lain.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2