Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 53


__ADS_3

Boooommm...


"Dewiiii..." Pekik Ami menghentikan langkahnya ketika hendak menuju lobby bersama Zaidan mendengar ledakan yang sangat dahsyat. Dada Ami terasa sesak ketika melihat dari kejauhan mobil milik Bram sudah gosong terkena ledakan. Pikiran buruk memenuhi kepala Ami. Mobil saja sampai gosong begitu bagaimana jika Dewi dan Bram kena ledakan tersebut. "Oh tidak..." Ami memekik


"Bi... sabar Bi..." Ujar Zaidan, mengusap bahu Ami.


"Astagfirullah..." Ucap Ami, mengedarkan pandanganya ke sekitar ledakan terjadi. Mencari sosok tuan dan nona mudanya tidak tampak di tkp.


"Non Dewi kemana Zai?" Air mata Ami menetes. Wanita itu takut jika terjadi sesuatu dengan pasutri yang sudah seperti anaknya sendiri itu.


Zai menggelang lemas, dia pun sebenarnya merasakan hal yang sama seperti Ami, tetapi mencoba tenang di depan Ami. Matanya melihat banyak polisi berlarian menuju tempat kejadian ingin segera berlari melihat keadaan sepasang bos, tetapi dia ragu apa di perolehkan oleh polisi.


"Kita kesana Zai," Kata Ami memberanikan diri berjalan mendekati lokasi dari jarak yang lebih dekat.


Di tempat yang tidak jauh dari tempat itu, Dewi dalam pelukan Bram pun melihat dari ke jauhan. Kini ia belum sepenuhnya tersadar atas peristiwa tragis pagi ini. Jangankan membayangkan, bermimpi pun tidak.

__ADS_1


"Benarkah ini Prirus..." Ucapnya dengan bibir bergetar menahan tangis menatap dari kejauhan membayangkan apa yang dialami Felicia. Sebab, polisi tampak sedang menggotong seseorang. Siapa lagi jika bukan Felicia? Sebab saat kejadian hanya wanita itu yang berada di tempat itu. Dewi komat kamit mengucap syukur, kini Allah masih melindungi dirinya dari maut yang seharusnya ditujukan kepadanya. Namun ternyata justru Felicia sendri yang celaka. Tidak ada yang bisa merencanakan kematian seseorang selain Allah.


"Jangan sedih honey..." Bram mengecup kepala Dewi. Ia pun tak kalah bersyukur. Saat Felicia mengulurkan tangan hendak bersalaman. Secepatnya Bram menarik tangan istrinya menjauh dari tempat itu. Bram mengajak Dewi membeli cemilan untuk di dalam pesawat. Bram merasa tidak yakin akan perubahan Felicia yang tiba-tiba, dan ternyata feling nya benar bahwa Felicia akan berbuat jahat kepada istrinya.


Sementara Patrick izin Bram ke toilet, hingga tinggal Felicia seorang diri yang berada di samping mobil. Naas bagi Felicia, benda kecil yang ia akan berikan kepada Dewi pun meledak di tangannya. Lebih tepatnya terjadi bom bunuh diri.


"Prirus... aku mau melihat Felicia." Lirih Dewi mengangkat kepalanya memandangi wajah suaminya yang sedang fokus menatap tempat kejadian.


"Honey... tidak usah, di sana sedang banyak polisi." Tolak Bram memegang kedua pundak Dewi. Dewi pun mengalah, dan hanya terpaku di tempat. Pesawat yang akan ia tumpangi harusnya sudah waktunya berangkat. Tetapi tidak mungkin Bram meninggalkan tempat itu begitu saja. Itu artinya mereka gagal berangkat pagi ini.


"Saya Ndan." Jawab Bram pendek.


"Anda sebaiknya ikut kami ke kantor memberi kesaksian," Titah salah satu polisi.


"Baik Ndan." Bram bersama Dewi mengikuti polisi. Di sana sudah ada Ami bersama Zaidan.

__ADS_1


Dewi terperangah kala tatapan matanya tertuju kepada tubuh yang akan di masukan ke dalam alat untuk mengevaluasi jenazah. Yakni tubuh itu sudah tidak berbentuk, bahkan tulang belulang pun sudah terpisah-pisah. Bau sangit tercium tajam ke hidung Dewi.


"Prirus... hu huuuu..." Dewi menangis sejadi-jadinya, air mata nya membasahi kaos suaminya itu.


"Honey... sudahlah... kamu jangan sedih, kasihan anak kita sayang... maafkan aku ya, kita tidak bisa pulang hari ini, sebaiknya kamu kembali ke apartemen istirahat dulu." Bram menyusut air mata Dewi ketika istrinya itu mengangkat kepalanya dari dada Bram. Mata yang biasa bening itu kini berubah merah. Dewi pun mengangguk. Tidak punya perasaan jika meninggalkan Felicia dalam keadaan seperti itu. Dewi tahu jenazah Felicia tidak ada yang mengurus selain suaminya.


"Non Dewi... alhamdulillah... Non tidak apa-apa." Ami merangkul Dewi, setelah lepas dari Bram. Dua wanita berbeda usia itu pun saling pelukan. Dewi menangis terisak di pelukan Ami, perasaannya campur aduk


"Zai... kamu sebaiknya ajak Dewi dan Bibi kembali ke apartemen," Titah Bram.


"Baik Tuan" Zaidan mengajak Dewi dan Ami numpang taksi kemudian kembali ke apartemen. Sementara Bram bersama Patrick mengikuti polisi.


Siang hari di kuburan, Dewi bersama suaminya menabur bunga di atas gundukan tanah yang masih basah. Hanya sampai di sini perjalanan hidup Felicia. "Semoga Allah mengampuni segala dosa dan menempatakan kak Felicia di tempat yang paling indah." Doa Dewi.


"Aamiin..." Ujar Bram. Bram menguburkan Felicia di samping makam Andro dan makam Anindya sang mama. Kini Felicia sudah berada di dalam peristirahatan terakhirnya. Hanya sampai di situ perjalanan Felicia di dunia. Tepat 31 tahun wanita itu pulang dengan cara yang mengenaskan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2