
Setelah ditunjukkan dimana kediaman pak Adi, Bramanstya mendatangi rumah tersebut. Rumah sederhana yang dibangun bukan dengan bata seluruhnya, melainkan bilik bagian atas. Pria itu memindai sekeliling rumah dalam hati berkeinginan untuk membenahi rumah mertua.
Setelah mengetahui keadaan rumah istrinya, Bram menghubungi seseorang yang tak lain anak buahnya. "Jemput Pak Adi di apartemen sekarang" Perintahnya di sambungan telepon.
"Ada apa ya, Tuan mendatangi rumah ini?" Tanya wanita yang bertemu di tukang sayur tadi, menyusul bersama satu wanita lainnya. Rumah mereka tepat di sebelah kiri dan kanan pak Adi.
Bram yang masih mantengin handphone menoleh cepat, tidak menyahut pertanyaan mereka.
"Pemilik rumah sudah diusir dari desa ini karena anak perempuan hamil di luar nikah." Tutur wanita itu tanpa ditanya.
Bram lagi-lagi tidak menyahut hanya menatap geram dua wanita itu. Ternyata ini wanita yang sudah mengusir Dewi.
"Nak Bram," Sapa pak Adi bersama bu Endang didampingi dua bodyguard. Mengejutkan dua wanita itu.
"Selamat pagi Pak, Bu..." Bram menyandak tangan kedua mertuannya itu sopan.
Dua tetangga bu Endang itu saling pandang, bibirnya mencibir menatap bu Endang tidak suka.
"Bagaimana keadaan Dewi Nak?" Endang berkaca-kaca menatap Bramanstya, sangking ingin segera bertanya mengenai Dewi, Endang sampai lupa menyapa dua tetangganya itu.
"Istri saya sehat Pak, Bu." Bram melirik dua orang ibu yang sedang berbisik-bisik.
"Istri? Kita nggak salah dengar kan Mbak, jadi pria ini suami Dewi?" Bisik dua wanita tetapi masih didengar Bram.
"Terus bagaimana kehamilannya Nak?" Bu Endang tampak cemas, anaknya hamil pertama tidak berada di dekatnya.
"Sehat bu, saya sudah periksakan anak dan istri saya," Bram menceritakan Dewi tentu yang baik-baik agar mertuannya senang.
Dua wanita itupun pergi tanpa permisi, entah apa yang mereka pikirkan. Sementara Bram minta izin masuk ke dalam rumah pak Adi.
"Beginilah keadaan kami Nak Bram," Kata bu Endang ketika sudah duduk di kursi anyaman bambu.
"Pak... jika Bapak mengizinkan, saya bermaksud merenovasi rumah Bapak," Kata Bram diplomamatis, agar mertuannya tidak merasa tersinggung.
__ADS_1
"Saya juga punya niat begitu Nak, uang pemberian Nak Bram akan kami gunakan untuk merapikan rumah ini," Jawab Pak Adi. Ia diberi uang berjumlah banyak sebelum Bram kembali ke belanda.
"Loh, saya memberi uang bapak sama Ibu, untuk keperluan sehari-hari bukan untuk yang lain. Masalah renovasi rumah ini biar saya yang tanggung," Tulus Bram.
"Untuk sehari-hari saya masih bisa berkerja Nak," Pak Adi menuturkan di kota Surabaya, beliu dan istri mendapat pekerjaan di restoran cukup untuk hidup di apartemen, dan biaya sekolah kedua putranya.
Rezeki memang rahasia Allah, tinggal di apartemen hanya beberapa hari, pak Adi dan bu Endang melamar pekerjaan di dekat apartemen tersebut dan ternyata dengan mudah beliu di terima. Gaji yang beliu terima pun UMR daerah Surabaya.
"Oh, jadi... Bapak sama Ibu saat ini bekerja? Apa tidak capek?" Tanya Bram perhatian.
"Jelas lebih capek jualan sayuran Nak" Pak Adi kini lebih santai, sebab masuk kerja dari jam 8 sampai jam empat sore. Sedangkan saat jualan sayuran bangun tengah malam ke pasar belum lagi berjalan keliling.
Mereka kembali membahas renovasi rumah, dan sesuai permintaan Bram yang akan menangung semua biaya. Atas desakan Bram pak Adi pada akhirnya menyetujui.
"Jadi ini tujuan kamu kenisi Nak?" Bu Endang menyela obrolan.
"Ini salah satunya Bu, tetapi ada yang lebih penting, saya minta diantar Bapak, ke rumah pak rt," Kata Bram.
"Baiklah Nak" Pak Adi tentu nyambung apa tujuan Bram menemui pak rt. Tentu akan klasifikasi tentang permasalahan yang memberatkan Dewi.
"Pak Adi," Sapa pria yang mereka datangi sedang mencuci motor di depan rumah. Begitu melihat kedatangan pak Adi, rt mematikan kran lalu menyambut tiga tamunya dengan hangat.
"Maaf Te, saya bertamu pagi-pagi," Kata pak Adi tidak enak hati, sebab saat ini matahari belum muncul.
"Tidak apa-apa... mari masuk," Titah rt pandanganya tertuju kepada pria tampan yang berdiri di pinggir pak Adi, memberikan senyuman lalu masuk diikuti tiga tamunya.
"Mari duduk," Titah rt lalu memanggil bu rt ke dalam, tidak lama kemudian kembali.
"Ibu Endang kemana saja sepekan ini?" Tanya wanita 50 tahun yang tak lain bu rt, menyalami tangan Endang.
"Hehehe... ke kota Mbak," Bu Endang tertawa getir.
"Maaf Pak Adi, atas ketidaknyamanan Bapak, karena warga rt kita main hakim sendiri," Sesal rt, karena saat penggerebekan kediaman pak Adi, rt sedang tidak berada di rumah.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan Te." Begitulah pak Adi biasa memanggil rt.
"Maaf Pak rt, saya memotong ucapan Bapak. Sebelum saya bicara, perkenalkan nama saya Bramanstya suami Dewi," Sela Bram mengejutkan rt dan istrinya.
"Oh... adik ini suami Dewi." Bu rt mengangguk-angguk ketika belanja ke warung banyak warga yang membicarakan pria tampan ternyata ini orangnya.
"Benar Bu, kedatangan kami kesini ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya," Bram menceritakan ketika lima bulan yang lalu Dewi dijual sahabatnya yang bernama Surti, dan lain sebagainya tanpa ada yang Bram tutupi.
"Baiklah Nak, besok saya akan mengumpulkan warga dan menjelaskan duduk perkaranya," Jawab rt.
Setelah semuanya jelas, Bram bersama mertuannya diantar anak buahnya ke apartemen.
************
Di rumah yang berbeda, seorang pemuda seolah dunianya hilang. Pria yang awalnya giat bekerja untuk persiapan menjalani hidup baru bersama wanita yang dicintai. Namun, setelah tidak ada harapan lagi, ia patah semangat. Hari-hari nya hanya mengurung diri di dalam kamar.
Pengusaha furniture yang sudah mulai dikenal hingga ke luar negeri itu kini tidak perduli lagi, walaupun banyak orderan. Ia serahkan semuanya kepada anak buahnya padahal untuk desain seharusnya hanya dia sendiri ahli.
"Firman..." Suara berat yang baru saja masuk ke kamar bukan lantas membuatnya bergerak dari tempat tidur.
"Lee... kamu ini laki-laki, jangan menganggap hubungan kamu dengan Dewi suatu kegagalan." Nasehat pak Gatot berdiri di samping ranjang dimana Firman pura-pura tidur.
"Tetapi, jadikan ini sebagai pelajaran kamu kedepannya. Dengan kamu mengurung diri seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah." Kata pak Gatot bijak. Namun Firman bergeming.
Seeekkk... Sreeekkk...
Pak Gatot menarik gorden. "Mau sampai kapan kamu mengurung diri? Cobalah bertemu dengan teman-teman kamu, setidaknya kamu akan cepat melupakan Dewi,"
Tidak ada jawaban dari Firman, anak muda yang menjadi rebutan para gadis desa itu keluar dari kamar meninggalkan sang ayah.
"Firman... nanti siang kita ke rumah Surti," Kata Larasati saat sedang menata sarapan. Namun, Firman seolah tidak perduli melewati Larasati begitu saja.
"Firman!" Bentak bu Larasati merasa dicueki Firman ia marah sekali. Di dalam pintu Firman menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Bukanya Ibu yang punya janji dengan kelurga Surti? Lalu untuk apa mengajak saya!" Begitulah sifat Firman beberapa hari ini telah berubah, walaupun dengan ibu yang melahirkan.
...~Bersambung~...