
"Kamu panggil aku apa honey..." Bram serasa tidak percaya dengan panggilan Dewi. Lalu mengait jemari Dewi dari ranjang membantunya berdiri.
"Mas! Memang kenapa?" Dewi balik bertanya, mereka pun keluar kamar hendak ke ruangan putra pertamanya.
Bu Endang tersenyum menatap putrinya yang digandeng Bram mesra. "Alhamdulillah Pak, Bram sayang sekali dengan anak kita, semoga rumah tangga anak dan menantu kita langgeng ya Pak,"
"Aamiin..." Pak Adi menengadahkan tangan.
Sementara Dewi bersama Bram sambil berjalan masih membahas masalah panggilan.
"Jangan panggil aku Mas dong, sekarang kan kita sudah punya anak." Tolak Bram. Rupanya pria itu sudah siap menjadi bapak.
"Loh memang kenapa? Aku kan orang Jawa, panggilan itu paling ngetren." Dewi tidak mau kalah.
"Iya, tapi aku mau kamu panggil aku daddy supaya anak kita nanti tidak memanggil aku Mas," Bram terkekeh, mengeratkan tangan ke pundak.
"No! Aku orang Jawa, nggak mau sok-sok-an pakai panggilan itu. Anakku harus panggil Ayah atau Bapak," Tegas Dewi.
"Lah, papa aku kan orang Amsterdam honey... wajar dong, kalau aku minta dipanggil daddy," Bram merasa istrinya aneh.
"Memang sih... kamu orang sana, tapi muka kamu itu tidak lebih tampan dari orang yang paling jelek di Indonesia." Dewi menahan tawa. Kekonyolanya membuat dahi Bram mengeryit.
"Aahh... Mass... turunin," Dewi terkejut karena tiba-tiba Bram membopong tubuh Dewi gemas, menuju dimana anak mereka berada. Bagusnya di kelas VVIP sangat sepi tidak ada orang yang melihat. Tiba di depan ruang dokter, Bram menurunkan istrinya. Mereka lantas konsultasi mengenai anak mereka. Ketika sudah diijinkan oleh dokter Dewi ke ruang rawat.
"Oeeeekkk... oeekkk..."
"Maass... anak kita Mas..." Dewi berbinar-binar kala mendapati putranya yang sedang diganti popok oleh perawat menangis kencang. Padahal selama tiga hari ini anaknya hanya diam saja.
__ADS_1
"Iya sayang..." Bram tersenyum memandangi bayinya, jika sore tadi masih berwarna kuning kini sudah agak memerah.
"Putra Anda baru selesai saya jemur Mbak," Terang perawat sudah selesai menggantikan popok.
"Boleh saya beri susu Sus?" Dewi berdiri memegangi box memandangi putranya yang masih menangis, rasanya ingin segera memberikan asi.
"Silahkan." Suster mengangkat bayi mungil itu, lalu menyerahkan ke tangan Dewi. Bram pun memandangi bayi dalam gendongan Dewi.
"Alhamdulillah... anak kita ganteng sekali" Kata Bram senantiasa bersyukur, putranya yang sejak 4 hari yang lalu tidak berdaya kini menjerit-jerit.
Dewi lalu mencari tempat duduk tetapi tidak ada, terpaksa bersandar di bok sambil memberi asi. Namun perawat tiba-tiba datang memberi kursi.
"Terimakasih Sus" Dewi kemudian duduk bersandar di box bayi, membuka kancing bajunya sedikit lalu menutup bagian atas dengan tisue, agar pria yang berjongkok di depanya tidak ileran.
"Sama-sama, Mbak" Perawat pun pergi meninggalkan tempat itu.
"Mirip kita berdua lah." Bram menyentuh hidung putranya, dengan telunjuk lalu jari kelingkingnya sengaja menyentuh jambu Dewi. Namun, seketika Bram menarik tanganya, kala mata Dewi melotot ke arahnya. Bram tertawa garing.
"Tapi masih lebih banyak mirip aku, soalnya waktu kamu hamil muda, benci sekali sama aku." Bram tersenyum melihat wajah istrinya belum lima menit kesal, kini sudah membaik lagi.
"Iya... iya! Suka-suka kamu." Dewi menidurkan bayinya kembali, menatapnya lekat sebelum akhirnya mencium kening putranya.
"Boleh nggak ya Mas, kalau anak kita aku ajak ke kamar" Setelah memberi asi, Dewi tidak tega meninggalkan anaknya.
"Kita minta ijin dokter dulu yuk," Ajak Bram.
Dewi berdiri memegangi box, netranya tidak mau berpaling dari anaknya hingga Bram menggandeng tangan Dewi hendak keluar, tetapi Dewi bolak balik menoleh, rasanya tidak ingin jauh walaupun sejengkal dari anaknya.
__ADS_1
Mereka lantas menemui dokter konsultasi mengenai anak mereka. Kebahagiaan membuncah bagi Dewi karena anaknya dinyatakan sehat oleh dokter bahkan sudah diperbolehkan pulang setelah pemeriksaan besok.
"Alhamdulillah..." Dewi bersyukur, lalu menemui bu Endang memberikan kabar bahagia ini.
"Jadi... anakmu sudah boleh pulang Nak?" Tanya pak Adi senang.
"Alhamdulillah... pak" Dewi mengangguk.
Keesokan harinya, bayi yang belum diberi nama itu dibawa pulang ke apartemen milik Bram. Di bantu Ami Dewi mengurus bayinya dengan telaten. Begitu juga dengan bu Endang menunggui Dewi selama tiga hari di Jakarta kemudian kembali pulang.
"Jadi... bapak sama ibu, sudah mau pulang?" Sesal Dewi sebenarnya belum mau pisah dengan bu Endang, lantaran rasa kangennya belum hilang.
"Iya sayang... nanti kalau anak kamu sudah 40 hari, kamu kan pulang ke Surabaya. Nanti kita bertemu lagi.
********
Hari berganti setelah anak Dewi berusia 40 hari, Dewi bersama Bram bersiap-siap pulang ke Surabaya. Pagi itu matahari belum muncul, namun apartemen sudah sangat gerah membuat anak yang diberi nama. Calvin Aldo Bramanstya itu merengek.
"Oeeek... Oeekkk..."
"Cup cup cup sayang..." Dewi menggerak-gerakan Calvin dalam gendongan.
"Eee... anak Ayah kenapa? Yuk... sama Ayah yuk..." Bram sudah siap berangkat mengambil alih Alvin dari gendongan Dewi. Benar saja, Calvin langsung diam dalam gendongan Bramastya.
"Honey... kita duluan yuk, biar bibi sama Zaidan yang mengangkat barang-barang," Titah Bram.
"Ya" Jawab Dewi singkat lalu ke kamar ambil tas slempang.
__ADS_1
...~Bersambung~...