
"Dewi..." Bram mendekati Dewi yang berdiri di depan pintu kamar Calvin. Namun, Dewi hanya melengos kala suaminya itu berdiri di sampingnya. Seperti orang yang tidak kenal, Dewi pun berlalu menidurkan putranya.
"Bagaimana anak kita? Apa panasnya sudah turun," Bram memegang dahi Calvin, dengan perasaan tidak menentu.
"Sudah terlambat!" Jawab Dewi pelan, tetapi tajam.
"Maaf... kemarin handphone aku ketinggalan di mobil, jadi tidak mendengar telepon kamu," Bram merasa takut melirik wajah Dewi yang sedang merengut.
"Kamu darimana?" Bram mengusap bokong Dewi yang sedang membungkuk membetulkan posisi bantal dan guling Calvin.
"Ke rumah teman" Dewi menjawab acuh tak acuh, menabrak lengan Bram dengan mimik wajah tidak biasa.
Bram menarik napas berat menatap langkah Dewi yang tergesa-gesa. Hanya beberapa langkah Bram pun mampu mengejar Dewi hingga masuk ke kamar mereka.
"Wi... maafkan aku ya," Bram menghadang langkah Dewi setelah mengunci pintu kamar. Ia menggenggam erat tangan istrinya itu lalu menciumnya.
Namun, Dewi melepas tangan Bram lalu menjatuhkan bokongnya di tempat tidur, menatap kosong ke depan. "Memberi maaf itu bagi aku mudah Mas, karena aku bukan orang pendendam. Bahkan masalah kamu yang paling berat pun bisa aku maafkan kok, tetapi aku kecewa banget sama kamu." Dewi mengeluarkan isi hatinya. Suami, jika sudah tidak menaruh kepercayaan pada istri sendiri, maka istri terasa sakit hati.
"Dewi..." Bram memeluk pundak Dewi. "Wi... mungkin karena rasa cinta aku sama kamu sangat besar, itulah kadang aku menjadi mudah sekali cemburu," Jujur Bram. Mungkin karena lelah dan berharap tiba di rumah istri dan anaknya membuat semangatnya kembali tumbuh. Akan tetapi melihat istrinya beboncengan dengan mantan pacar emosi nya memuncak. Keduanya saling diam, larut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Oh iya, aku tadi ke rumah ibu." Bram mengalihkan, dan ternyata membuat Dewi menatapnya.
"Ngapain?" Tanya Dewi pendek.
"Mencari kamu, aku pikir kamu kesana." Bram menuturkan pencariannya.
"Makanya jadi orang itu jangan main tuduh Mas, andai kamu tahu bagaimana panik nya aku saat kemarin sore, badan Calvin panas dan rewel. Telepon Mas, nggak diangat, pesan taksi dibatalkan, menunggu ojek pun gak datang-datang," Dewi sedih mengingat itu. "Tiba-tiba Firman lewat mempunya niat baik dan tulus mengantar kami ke rumah sakit, tetapi jangankan kamu terimakasih, justeru mengamuk seperti singa kelaparan," Papar Dewi panjang lebar, tersirat kekecewaan yang dalam.
"Iya istriku... aku mengaku salah, lain kali aku janji tidak akan mengulangi." Bram menarik pelan tubuh Dewi hingga terlentang di ranjang.
"Terus... kamu tadi kemana?" Bram mengulangi pertanyaan di awal, merasa belum puas dengan jawaban Dewi.
"Laki-laki atau perempuan?" Potong Bram.
"Cek. Tuhkan! Mas itu jadi suami tidak percayaan sama istri sendiri! Kamu ini ternyata belum mengenal istrimu. Mana mungkin sih?! Jika teman aku itu pria, terus aku mau gitu saja diajakin ke rumahnya sampai memasak segala." Sungut Dewi.
"Iya istriku... aku percaya 100 persen." Bram terkekeh. Namun, tawa itu mendadak berhenti kala menatap wajah istrinya tampak lelah dan tirus. Bram semakin bersalah akhir-akhir ini tidak memperhatikan istrinya hingga tidak menyadari jika badanya semakin kurus.
"Honey... kalau Calvin sudah sehat kita jalan-jalan berdua ya," Kata Bram, selama dua bulan ini, Dewi sibuk mengurus Calvin seorang diri, lelah itu pasti. Sementara Bram sibuk di luar rumah tidak ada waktu berkualitas untuk pasutri itu.
__ADS_1
"Berdua... Terus Calvin?" Dewi terkejut, suaminya ini aneh sekali.
"Biar Calvin diasuh bi Ami, atau aku akan minta istrinya om Hasan agar kesini ikut mengawasi," Bram tahu istri om Hasan ingin sekali punya anak jadi dia akan senang dititipi Calvin.
"Mas ini bagaimana, nggak enak lah sama tante, nggak mau, ah." Tegas Dewi.
"Honey... kita ini memerlukan waktu untuk berdua, tidak usah lama. Jika kamu tidak mau menginap, cukup sehari... saja. Ya... mau ya..." Bram membujuk Dewi seperti anak kecil.
Keduanya pun akhirnya sepakat, bukan tidak merasa bersalah ketika meninggalkan Calvin. Tetapi mereka pun ingin quality time, mempunyai waktu berdua walaupun sebentar.
"Aku lapar Honey..." Ujar Bram, tidak terasa mereka ngobrol sudah dua jam.
"Ayo, makan dulu." Jawab Dewi, mereka pun makan siang yang sudah di siapkan bi Ami.
"Assalamualaikum..." Terdengar tamu mengucap salam dari luar, bi Ami segera ke depan.
.
.
__ADS_1