
"Budhe..." Sapa Dewi tersenyum senang ketika membuka pintu ternyata ibunya Surti yang datang. Namun, betapa terkejutnya Dewi bahwa ternyata budhe tidak sendrian, rupanya Surti bersembunyi di belakang budhe. Sahabat yang awalnya selalu berbagi dalam keadaan senang maupun susah itu, kini menunduk tidak mau menatap wajah Dewi.
"Ibu kamu belum pulang Nak?" Tanya budhe berharap Endang saat ini sudah pulang dan bisa minta maaf sekaligus.
"Belum Budhe," Dewi mengalihkan pandanganya dari Surti beralih kepada budhe.
"Masuk Budhe... Surti... kita ngobrol-ngobrol di dalam" Imbuh Dewi. Sementara Bram bersikap cuek saja. Mereka bersama-sama ke sofa yang masih baru, tentu Bram yang membeli.
"Ibu sekarang kerja budhe, tetapi cepat atau lambat akan kembali ke desa," Dewi menceritakan tentang bu Endang.
"Syukurlah Dewi... budhe ikut senang mendengarnya," Budhe sedikit lega, walaupun Endang di usir dari desa karena ulah Surti setidaknya nasibnya baik.
"Surti... apa kamu sudah sembuh? Muka kamu masih pucat kok, sudah pulang?" Dewi merasa kasihan.
Gelengan kepala itulah jawaban Surti. Begitulah Surti saat ini seperti pencuri ayam yang tertangkap basah tidak berani menatap Dewi.
"Bentar ya budhe aku buat minuman dulu," Dewi hendak beranjak, tetapi tangannya di tahan budhe.
__ADS_1
"Tidak usah Nak, budhe tidak lama kok. Kedatangan kami kesini mau minta maaf." Budhe menatap Dewi dan Bram bergantian. Lalu meremas telapak tangan Surti, memberi isyarat.
"Dewi, a-aku minta maaf." Ucap Surti terbata-bata. Masih dalam posisi menunduk, menyembunyikan genangan air mata. Wanita itu kini rupanya benar-benar menyesal. Penyakit yang dia derita rupanya sebagai cambuk baginya agar kembali memperbaiki hidupnya yang sudah berlumur dosa.
Dewi masih diam, ingin menatap mata sahabatnya untuk membuktikan kejujuran. Namun, Surti seolah menghindari pandanganya.
Karena tidak ada sahutan dari Dewi, Surti beranjak dari tempat duduknya. Duduk bertumpu lutut di depan sahabatnya. "Dewi..." Ucapnya menjatuhkan dahinya ke lutut Dewi. Surti sesegukan membuat Dewi mengerti jika sahabatnya kini memang tulus membersihkan kesalahan fatal yang pernah Surti buat.
"Sur... bangun hee... aku sudah memaafkan kamu." Dewi membangunkan Surti, mereka berdiri berhadapan. Surti menghambur ke pelukan Dewi, tangisnya pecah. Tangis bentuk penyesalan karena tak mampu di ukir dengan kata-kata.
Budhe menangis terharu, wanita itu senang kedua wanita yang sangat ia sayangi kembali berdamai. Namun, senyum itu seketika raib kala tubuh Surti lemas di dada Dewi.
"Hiks hiks Surti..." Budhe menangis membantu Bram menggotong tubuh Surti yang tidak berdaya menidurkan di sofa.
"Zai... bantu angkat tamu istriku," Titahnya menghubungi Zaidan via telepon yang sedang membersihkan mobil di halaman. Tidak lama kemudian Zaidan datang membantu budhe menggotong tubuh Surti.
Saat bersamaan, Firman yang sedang joging melintas di depan rumah Dewi tatapan matanya tertuju kepada wanita yang digotong ke dalam mobil, menghentikan langkahnya. "Siapa yang sakit? Apakah Dewi?" Tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Untuk menghilangkan rasa penasaran, Firman mendekati mobil Bram, bertepatan dengan Bram dengan Dewi yang baru saja keluar dari rumah.
Tiga orang itu saling berhadapan. Mendapat tatapan mata Dewi, Firman salah tingkah lalu mengusap keringat di wajahnya dengan handuk yang ia kalungkan di leher.
Menyadari hal itu Bram mendelik gusar, mencengkeram kaos bagian bawah.
"Surtiiii... hu huuuu..." Pekik tangis budhe yang sudah berada di mobil mengalihkan tiga manusia yang saling tenggang itu.
"Zaidan cepat jalan," Perintah Bramanstya.
"Mas Firman, tolong temani budhe mengantarkan Surti ke rumah sakit," Pinta Dewi. Tentu Dewi tidak mungkin meninggalkan Calvin.
Firman mengangguk lalu menemani budhe, dia tahu budhe orang baik, mana mungkin Firman bisa tega kepadanya.
"Yang sabar budhe." Firman menenangkan saat mobil sudah melesat menuju rumah sakit. Tatapan matanya tertuju kepada wajah Surti yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang Surti derita.
.
__ADS_1
.