Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 72


__ADS_3

Derap sepatu terdengar nyaring berjalan setengah berlari begitu turun dari mobil. Dia adalah Bramanstya, ingin segera melihat keadaan putranya yang sedang sakit. Ia menyesal kenapa saat berangkat tadi pagi tidak ia pamiti. Tiba di teras rumah, ia copot sepatu terlebih dahulu karena takut kepada istrinya. Dewi tentu akan semakin marah jika melihat dirinya mengenakan alas kaki ke dalam..


"Calvin di kamar ya, Bi?" Tanya Bram kepada Aminah. Pria itu mencuci tangan di wastavel sebelum masuk ke kamar Calvin. Bram tahu, Dewi selalu menekankan agar menjaga kebersihan rumah. Bram yang sudah terbiasa hidup di luar negeri jika tidak diingatkan selalu nyelong saja.


"Nona belum pulang Tuan," Ami menuturkan bahwa sejak jam 8 pagi ketika pamit menjemur Calvin, hingga kini belum kembali.


"Apa?" Bram terlonjak kaget, lalu melihat jam di lengan sudah jam 10 pagi. "Apa bibi sudah mencarinya?" Panik Bram.


"Sudah Tuan, bibi cari selama satu jam, tetapi tidak bertemu Nona," Jujur bi Ami. Ami juga menuturkan ketika telepon Dewi, tenyata handphone nya di kamar.


Bram meraup wajahnya gusar, Dewi pasti pergi ke rumah orang tuanya. Ia pun segera menghubungi bu Endang, tetapi tidak diangkat. "Huh! Ternyata begini kesalnya kalau telepon tidak diangkat," Gerutunya. Seketika ia ingat Dewi, saat telepon dirinya kemarin pasti begini rasanya. Tidak berkata apa-apa lagi pada Ami, ia segera kembali ke luar.


"Zai... kita cari istriku," Titahnya. Bram bermaksud mencari ke rumah pak Adi.


"Saya Tuan" Zaidan yang baru saja akan membersihkan mobil dengan kemoceng, meletakan kembali benda yang terbuat dari bulu ayam tersebut lalu berangkat.


"Kak Bram, mana Mbak Dewi sama Calvin?" Tanya Jati. Ketika tiba di rumah pak Adi, Jati yang menyambut kedatangan Bram. Saat ini Jati sudah selesai ujian SMA, tentu santai di rumah menunggu pengumuman.

__ADS_1


Deg!


Bram semakin panik kala mendengar pertanyaan Jati sudah bisa menyimpulkan, bahwa Dewi tidak ada di rumah ibunya. Saat ini bu Endang dan pak Adi sudah kembali ke kampung, tetapi masih lanjut bekerja di restoran.


"Kak Bram, wajahnya kenapa tuh." Sambar Jati, saat ini sudah tidak sungkan lagi kepada kakak iparnya itu.


Tetapi Bram hanya menanggapi dengan senyuman masam. "Bapak sama Ibu kerja?" Bram mengalihkan, khawatir Jati menanyakan ini itu tentang Dewi. Tentu luka wajahnya yang belum sembuh, akan ditambah bogem oleh adik iparnya itu.


"Lah, bapak sama ibu kan biasa pulang malam Kak," Jati menangkap keganjilan kakak iparnya.


"Iya Jati, kali saja bapak sama ibu lagi libur," Bram sedikit gugup. "Kalau gitu saya pamit ya Jati, saya hanya kebetulan lewat sini terus mampir." Bram berdalih, lalu ada alasan meninggalkan tempat itu.


Zai hanya menurut saja mengendarai mobil bos nya itu menuju kediaman Budhe, sesuai permintaan Bram. Karena tidak jarang, Dewi silaturahmi ke rumah ibu almarhum Surti itu. Di tengah perjalanan, Bram menghentikan laju kendaraan Zai.


"Zai... coba kamu jenguk pria yang tadi malam itu, jangan-jangan... Dia mati," Perintah Bramanstya. Tentu saja pria itu khawatir dengan musuhnya itu. Tetapi demi jaga gengsi, Bram mengandalkan Zaidan agar maju.


"Baik Tuan," Zaidan berjalan kira-kira 100 meter dari mobil milik Bram. Sengaja berhenti agak jauh dari rumah Firman agar pemilik rumah tidak curiga.

__ADS_1


Bram rupanya merasa bersalah, boleh dia mencurigai Firmansyah, karena cinta Firman saat ini memang masih utuh untuk Dewi. Akan tetapi, seharusnya Bram percaya dengan Dewi, bahwa istri sholehah nya tidak mungkin berbuat yang melanggar agama.


Bram menunduk menopang dahi. Dia merenung beberapa saat sembari menunggu Zaidan. Ia sadar seharusnya tidak boleh berprasangka buruk kepada istrinya itu, walaupun hanya sedikit. Bram mungkin lupa jika Dewi bisa menerima dirinya bukan hal yang mudah. Namun, Bram sudah membuat Dewi kecewa untuk yang kedua kalinya.


"Kak Firman, sudah agak baikan Tuan," Ujar Zaidan, tiba-tiba sudah memegang stir, tanpa Bram sadari karena melamun.


"Kamu tidak bicara jika saya yang menyuruh kamu menjenguk bukan?" Selidik Bram.


"Tentu tidak Tuan, Kak firman juga menanyakan tentang kesehatan Tuan," Tutur Zaidan, sambil melanjutkan menyetir ke rumah budhe.


Tok tok tok.


Zaidan mengetuk pintu ketika tiba di kediaman Budhe. Bram yang berada di belakang Zaidan, berharap istri dan anaknya berada di rumah itu.


"Eh, Nak Bram, mari masuk. Kok Dewi tidak diajak." Lagi-lagi jawaban budhe membuat Bram lemas.


.

__ADS_1


.


__ADS_2