Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 55


__ADS_3

Di depan kaca ruang inkubator rumah sakit, ibu muda sedang duduk di kursi roda ditemani suaminya tidak berhenti menangis. Mata yang sudah bengkak itu, memandangi putranya yang baru 3 hari yang lalu dilahirkan. Bayi yang belum diberi nama itu masih dirawat dengan berbagai peralatan medis. Ia sedih saat sang buah hati lahir dalam suasana tidak tepat, walaupun sempat menangis namun hanya sesaat. Bayi Dewi mendadak diam dan suhu tubuhnya pun menjadi dingin.


Lahir prematur dengan peralatan yang tidak memadai dan terlalu lama di mobil ac hingga kesulitan mengatur suhu tubuhnya. Wajar, karena tidak memiliki banyak lemak menyebabkan hepotermia. Hingga tiga hari kemudian, tingginya kadar bilirubin berujung pada kernikterus. Penyakit yang menimpa bayi prematur seperti putra Dewi dan Bram itu.


"Sabar sayang... aku yakin anak kita sebentar lagi sehat. Terus... kamu bisa menggendongnya." Hibur Bram. Walaupun hatinya tak kalah sedih. Bram introspeksi diri mengingat perbuatan dosa besar yang dulu ia lakukan hingga kini memetik benih yang ia tabur dengan cara yang tidak benar.


"Aamiin..." Lirih Dewi dengan suara serak, di sela-sela isak tangis.


"Lebih baik... kamu sekarang ke kamar istirahat ya," Bram yang sejak awal memegang bagian belakang kursi roda hendak mendorong roda ke kamar inap.


"Nggak mau... aku masih ingin di sini," Kekeuh Dewi, menoleh Bram dengan mata sembab dan berkantung, karena selama tiga hari ini selalu menangis dan kurang tidur.


"Ya sudah... tapi jangan sedih terus. Kesehatan kamu juga harus diperhatikan sayang..." Nasehat Bram diplomamatis.


"Kamu itu baru habis melahirkan, tidak boleh stres..." Sambung Bram. Ia khawatir dengan kesehatan istrinya jika terus begini. Bram menyesal, harusnya bisa menjaga istri dan anaknya melahirkan di rumah sakit yang nyaman, bukan di dalam mobil seperti kemarin. Padahal keduanya berharap agar anak pertamanya selalu lahir tepat waktu dan layak. Tetapi ternyata harapannya tidak sesuai kenyataan.


Tak tak tak.


Suara langkah sepatu membuat sepasang suami istri itu berpaling dari kaca. Dua orang pria dan wanita berjalan cepat ke arah mereka.


"Bram... istrimu sudah melahirkan kenapa kamu tidak memberi tahu om," Protes pria itu, ternyata om Hasan bersama istrinya datang karena diberi tahu Ami. Ami bersama Zaidan pagi-pagi sekali pulang ke rumah mereka dulu.


"Semuanya terjadi dengan cepat Om, maaf saya belum sempat memberi kabar." Jawab Bram, padahal sengaja belum memberi kabar.


"Om... Tante... kenalkan, ini Dewi istri saya." Bram memegang pundak Dewi. Dewi menganggukkan kepala, memaksakan untuk tersenyum walaupun hambar. Tanganya terlulur kepada pasutri itu menjabat tangan om dan tante bergantian.


"Saya Nurlela, panggil saja Ela." Kata istri om Hasan membalas senyum Dewi.

__ADS_1


"Baik Tante Ela..." Jawab Dewi serak.


Ela menatap Dewi sendu. Sebenarnya ingin segera bertanya keadaan bayi mereka. Namun, melihat wajah Dewi yang sedang sedih, Ela sudah tahu jawabnya bahwa keponakannya dalam keadaan tidak baik. Ela lebih baik bertanya jika Dewi sudah lebih tenang nanti.


"Di mana anak kamu?" Pada akhirnya Om Hasan bertanya kepada Bram.


"Masih di inkubator Om." Jawab Bram. Om bersama tante memandangi bayi kecil yang di tunjukkan Bram dari luar kaca.


Ela menarik napas panjang, ternyata ini jawabnya mengapa Dewi bersedih.


"Dewi... kita ngobrol-ngobrol yuk, mencari tempat yang tenang," Ajak Ela ingin menghibur Dewi.


"Di kamar saja Tante." Bram antusias, berharap istrinya mau beristirahat.


"Sini Bram, Tante yang mendorong." Ela ambil alih kursi roda mendorong Dewi menuju kamar rawat yang sudah ditunjukkan oleh Bram. Walaupun baru bertemu tetapi sudah seperti kenal lama, Ela menyusun bantal untuk Dewi.


"Sama-sama... aku senang kok, melakukan ini." Kata Ela. Ia mengangkat kursi ke sisi ranjang lalu lungguh di situ.


"Kamu sudah lama pacaran dengan Bram?" Tanya Ela, tiba-tiba mengejutkan Dewi.


"Kami tidak pernah pacaran Tan." Dewi tersenyum kecut. Andai saja Tante Ela tahu pertemuannya dengan Bram musibah besar delapan bulan yang lalu.


"Aku percaya," Jawab tante yakin. Sebab Bram tidak pernah membawa pacar ke rumah. Tante Ela tanya ini itu, mengenai pertemuan Dewi dengan keponakannya itu.


"Kami bertemu di Jakarta Tante," Dewi menunduk menyembunyikan matanya agar Ela tidak tahu jika ia berusaha menutupi kebohongan.


"Syukur lah Nak, aku sekarang lega. Bram bisa mendapatkan wanita cantik seperti kamu. Kamu tidak hanya cantik, tetapi juga baik." Puji Ela.

__ADS_1


"Tante bisa saja" Dewi menjawab


"Oh iya Nak, bukanya kehamilan kamu baru tujuh bulan ya? Tapi kok sudah lahir, apa karena kamu kelelahan?" Pertanyaan inilah yang akan dilontarkan Ela.


Namun pertanyaan Ela tetap saja membuat Dewi kembali bersedih. Dengan terbata-bata Dewi berceritakan saat ia melahirkan di dalam mobil.


"Astagfirullah... jadi Ami yang membantu kamu melahirkan? Kok Ami berani sih?" Ela merasa ngeri.


Dewi menggeleng lemah.


"Yah... mungkin ini sudah jalanya Nak, kamu jangan bersedih. Aku yakin kok, anak kamu itu calon pria kuat, jika sekarang sedang di inkubator itu sudah biasa dialami anak lahir prematur." Nasehat Ela, agar Dewi sedikit lebih tenang. Hingga siang hari, Ela menghibur Dewi lalu pamit pulang dulu, karena om Hasan akan segera kembali ke kantor.


Derrttt... deerrrtt....


Handphone Dewi bergetar Bram yang sedang berada di sebelah Dewi menggantikan posisi Ela, ambil handphone lalu memberikan kepada Dewi.


"Assalamualaikum..." Salam dari pria. Jati adik Dewi.


"Waalaikumsallam..." Jawab Dewi.


"Mbak Dewi bukanya masih di Amsterdam? Kok lokasinya di Jakarta?" Tanya Jati.


Deg.


Dewi menatap Bram, ia bingung menjawab pertanyaan Jati. Sebab, Dewi sengaja tidak memberi tahu bu Endang apa yang terjadi. Dewi khawatir jika ibunya memikirkan dirinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2