Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 51


__ADS_3

Bram menerima permintaan Felicia bekerja di perusahaan tentu karena desakan Dewi. Keesokan harinya pria itu datang ke perusahaan melimpahkan tugasnya kepada orang kepercayaan nya, selama Bram di Indonesia. Siapa lagi jika bukan Patrick. Bram juga membicarakan masalah Felicia yang akan bekerja di tempat itu.


"Nyoya Felis, akan bekerja di sini? Tuan yakin." Patrick tidak percaya dengan keputusan Bram. Patrick bekerja di perusahaan Bram sudah sejak Andro masih hidup, tentu ia tahu siapa Felicia.


"Ini karena permintaan istri saya Pet, biar saja Dia bekerja di bagian marketing." Jawab Bram, tetapi Bram tentu sudah menyuruh orang kepercayaan nya agar mengawasi polah tingkah Felicia di kantor. Tidak ada bantahan bagi Patrick selain mengangguk.


Selesai urusanya dengan Felicia Bram pun pulang bersama Zaidan. Di dalam mobil ia berpikir, cepat atau lambat harus menuruti Dewi pulang ke Indonesia. Bram menarik napas panjang, sebenarnya jika pulang ke Indonesia pun bukan lantas terbebas dari masalah.


Bisa diibaratkan, ke luar dari kandang singa tetapi masuk ke kandang Buaya. Betapa tidak? Ada dua musuh di Surabaya. Dua orang yang akan menguji rumah tangganya, yaitu Firmansyah dan juga Surti.


Bram menyugar rambutnya gusar, kali ini dia benar-benar bingung. Satu sisi ia tidak mau mengecewakan Dewi, tetapi disisi lain, Bram harus menghadapi masalah yang akan menghadang nya di Indonesia.


"Besok, kamu ikut kami pulang ke Indonesia Zai." Kata Bram kemudian.


"Benar Tuan?" Tanya Zaidan sumringah terlihat dari kaca spion. Tentu ia senang akan segera bertemu dengan keluarga terutama ayah ibu.


"Iya" Jawab Bram pendek.


Tiba di apartemen, Bram disambut Dewi dengan hangat, seketika perasaan galaunya menghilang. "Gemana-Gemana, apakah Felis jadi kerja di kantor?" Cecar Dewi menghadang langkah Bram.


"Kamu itu ya" Bram tersenyum menyentuh hidung bangir istrinya. Dipeluknya pundak Dewi lalu melangkah sejajar menuju kamarnya. "Masa tanya kok nggak satu-satu." Bram terkekeh.

__ADS_1


"Kok malah senyum-senyum," Dewi menoleh Bram di sampingnya mendongak.


"Sudah kok, mulai besok... Felicia sudah mulai bekerja. Mudah-mudahan wanita itu memang benar-benar sudah berubah." Bram masih ragu.


"Aamiin.."


Tiba di kamar, Bram segera membuka pakaian hendak mandi, sementara Dewi memilih baju ganti untuk suaminya.


"Aahh... nasib kamu Dek, selalu di php sama wanita cantik." Ujar Bram. Dewi menoleh cepat, memandang Junior Bram yang sedang berdiri kokoh.


"Aahh... kebiasaan deh!" Sungut Dewi lalu melempar handuk ke dada Bram. Bukan tidak tahu sopan, tetapi Dewi masih tabu melihat benda ajaib yang bisa berubah wujud itu. Kadang menjadi kobra, tetapi bisa juga menjadi terong goreng.


"Sudah-sudah! Cepat mandi sana." Dewi mendorong tubuh Bram hingga ke pintu kamar mandi. Tetapi Bramanstya membopong tubuh istrinya masuk ke dalam.


"Aahh... turunin." Seru Dewi, tetapi tidak berani meronta-ronta tentu ngeri jatuh jika di kamar mandi.


"Sini aku mandiin," Kelakar Bram, menurunkan Dewi pelan dari gendongan. Ia ambil selang hendak menyemprot Dewi.


"Pleass... jangan, aku sudah mandi," Dewi memelas. Bram pun kasihan menatap istrinya memang sudah cantik membiarkan Dewi ke luar meninggalkan dirinya.


Malam harinya Dewi menagih janji kapan akan ke Indonesia. Entahlah, mengapa Dewi merasa tudak betah tinggal di Amsterdam. Hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri Dewi memilih yang kedua.

__ADS_1


"Aku mengabulkan permintaan kamu pulang ke Indonesia, tetapi dengan satu syarat." Kata Bram ketika mereka sedang ngobrol sambil tiduran.


"Apa?" Dewi tampak kecewa padahal sudah semangat tetapi Bram masih minta persyaratan. Kali ini mereka tidur miring saling berhadapan.


"Aku tahu honey... Firman masih sangat mencintai kamu. Aku tidak ingin kalian nanti main di belakang ku."


"Aow..." Pekik Bram kala tangan kecil Dewi menjewer mulut Bram. "Kamu galak amat honey... katanya kalau lagi hamil nggak boleh kasar." Protes Bram memutar balik kata Dewi


"Memang kamu pikir aku ini ja*ang apa?! Seenaknya saja! Kalau ngomong!" Sungut Dewi.


"Hup" Seketika mulut Dewi di bungkam Bram dengan mulutnya.


"Iya Tuan putri... besok kita berangkat. Aku sudah pesan tiket kok." Jawab Bram, setelah melepas pagutan, melegakan hati Dewi.


"Yeee... terimakasih." Dewi menyusupkan wajahnya di dada Bram, sangking senangnya. Aroma wangi suaminya membuatnya betah. Bram mengusap kepala Dewi, seperti bocah kecil yang di nina bobo kan oleh ibunya, Dewi pun akhirnya pulas.


Malam itu mereka hanya tidur saja, Bram tentu tidak mau memaksa istrinya untuk melayani kebutuhan biologis nya. Bisa tidur memeluk Dewi pun, bagi Bram adalah anugerah.


Malam mereka lewati dengan indah lalu tergantikan pagi. Pagi itu semua bersiap hendak berangkat ke bandara termasuk Ami dan Zaidan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2