
Di belakang rumah, seorang wanita memandangi perkebunan milik para tetangga di seberang selokan air yang disalurkan ke sawah-sawah. Namun sayangnya, pikiranya saat ini melayang-layang entah kemana.
Dia adalah Dewi, bayangan Surti saat pingsan tadi menyesakkan dada. Ia tidak tahu sakit apa yang diderita sahabatnya hingga separah itu. Ia takut jika hidup Surti sudah tidak lama lagi.
"Honey... aku cari kemana-mana ternyata kamu disini" Ucapan Bram seketika membuat mata Dewi beralih dari sawah.
"Calvin mana?" Tanya Dewi sebab saat Dewi ke belakang Calvin digendong Bram.
"Bobo" Bram lalu duduk di sebelah istrinya memeluk pundak Dewi. Dewi lantas menyadarkan kepalanya ke pundak Bram.
"Ada apa?" Imbuh Bram, menerka-nerka jika istrinya sedang memikirkan sesuatu.
"Aku lagi kepikiran sama Surti Mas." Lirih Dewi. Ia ingin sekali menjenguk, tetapi saat ini masih belum tega meninggalkan Calvin.
"Iya, nanti sore kita menjenguk temanmu itu," Bram menghibur Dewi, mereka berencana menjenguk tentu bersama Ami pula agar menunggu Calvin di parkiran saja.
"Oh gitu ya Mas, kenapa aku nggak kepikiran sih." Dewi tepuk kening. Bram terkekeh melihat Dewi sangat lucu menurutnya lalu mengajak istrinya ke dalam.
Sore hari nya Dewi sedang memandikan Calvin sambil mengajak bicara putranya yang sudah dua bulan itu. "Duh... anak bunda tampan seperti Ayah." Dewi memuji, tanganya menggosok-gosok perlahan rambut tebal dan hitam Calvin.
Dewi tidak tahu jika di belakangannya ada pria tersenyum kegirangan. Istrinya mengatakan bahwa dia tampan. Padahal jika di depan Bram, Dewi tidak pernah memujinya.
__ADS_1
"Anak bunda nanti kalau sudah besar harus sukses seperti Ayah, tetapi buang jauh-jauh kelakuan buruh Ayahmu,"
"Bruuurrr..." Calvin memainkan bibir hingga ludahnya keluar.
Bram lagi-lagi tersenyum.
"Emm... ludahnya nyemprot," Dewi terkikik mengangkat tubuh putranya dari bak membungkusnya dengan handuk badan yang sudah mulai montok itu.
"Masss... ngaggetin ih!" Omel Dewi kala balik badan suaminya sedang berdiri. Wajah Dewi memerah. Ia berpikir jangan-jangan ucapanya tadi didengar Bram.
"Sini aku yang gendong Calvin," Bram menyodorkan tangannya.
"Jangan, kalau belum mandi tidak boleh menggendong Calvin." Tolak Dewi, kemudian keluar.
Dewi melengos lalu meninggalkan Bram, rupanya pria itu menurut langsung mandi.
Satu jam kemudian, mereka berangkat hendak menjenguk Surti, tetapi sebelumnya Bram mengajak Dewi ke rumah barunya. Perjalanan 10 menit dari rumah pak Adi, mereka tiba di salah satu rumah tidak terlalu besar tetapi berlantai dua.
"Rumah siapa ini Mas?" Tanya Dewi ketika mereka sudah tiba di halaman.
"Rumah kita, semoga kamu suka," Jawab Bram tersenyum semoga rumah ini menjadi kejutan untuk istrinya. Hening, larut dalam pikiran masing-masing. Dewi terkejut suaminya mendirikan rumah tetapi dia tidak tahu sama sekali.
__ADS_1
"Kapan Mas buat rumah ini?" Tanya Dewi ketika mereka sudah sampai di dalam, Ami yang menggendong Calvin mengekori.
"Waktu kamu di Amsterdam," Bram membuka pintu menunjukan kamar utama, rupanya sudah ada ranjang dan lemari di dalamnya.
"Terimakasih ya Mas," Dewi mendongak berdiri di depan Bram, memegang kedua tangan suaminya itu. Walaupun awal pernikahan yang tidak benar toh, Bram membuktikan janjinya bahwa akan memperbaiki semuanya.
"Ini tidak ada artinya sayang... Jika dibandingkan dengan kamu yang sudah menuntun aku ke jalan yang benar." Bram menangkup dua pipi Dewi lalu menjatuhkan ciuman di beberapa tempat.
"Sekarang kita lihat kamar anak kita yuk." Mereka ke kamar sebelah. Bram sengaja membuat kamar Dewi dan anaknya di lantai bawah. Sementara di lantai dua untuk Ami dan Zaidan.
Dewi menjelajahi ruang demi ruang, setelah rata mereka memutuskan untuk menjenguk Surti. Mobil yang dikendarai Zaidan melaju ke arah rumah sakit.
"Bi... sebaiknya bibi sama Calvin menunggu disini," Titah Bram.
"Baik Tuan,"
Dewi memberikan botol asi yang sudah Dewi siapkan dari rumah kepada Ami, lalu menjenguk Surti. Ketika tiba di ruang kelas 3 dimana Surti dirawat atas petunjuk budhe. Tinggal beberapa langkah lagi masuk ke kamar Surti, mereka di hadang oleh petugas.
"Sebaiknya Anda kembali keluar," Perintah satpam.
"Loh, kenapa Pak? Bukankah saat ini jam menjenguk ya. Lalu kenapa kami tidak diizinkan masuk?" Tanya Dewi heran. Belum lagi satpam menjawab, sebuah keranda yang di dorong petugas melewati Dewi dan Bram.
__ADS_1
.
.