Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 43


__ADS_3

Bram bersama ajudannya sudah berangkat mencari pakaian ke salah satu mall. Ia duduk di samping kemudi tidak menyadari jika di belakangnya ada orang yang sudah duduk lebih dulu.


Mall terbesar di kota Surabaya tampak hilir mudik para pengunjung di luar mall hendak pulang maupun baru saja tiba.


Di tempat itulah Bram keluar dari mobil, bersamaan dengan wanita yang sedang membuka pintu belakang. Mendengar pintu mobil ada yang menutup bagian belakang, Bram menoleh cepat ke samping. Ia terperangah kala wanita yang tidak asing tersenyum mendekatinya.


"Mau apa kamu?" Bram sangat marah. Menatap Surti tidak suka. Saat ini Bram merasa kecewa dengan Surti, mengapa sesama wanita sampai tega menjual temanya. Walaupun tidak Bram pungkiri, Surti lah yang menjembatani pertemuan nya dengan Dewi. Namun Bram tetap kecewa, bagusnya Dewi jatuh ketanganya. Jika tidak, pasti sudah menjadi keroyokan para pria hidung belang. Membayangkan itu Bram begidik ngeri.


"Kenapa wanita ini bisa berada di mobil saya Jon?!" Bram meninggikan suara.


"Saya tidak tahu Tuan," Jonathan yang berbadan besar itu, takut melihat tatapan tajam boss nya.


"Ya ampuuun... kenapa wajahnya Tuan... mari saya obati, khawatir infeksi loh," Surti sok perhatian, padahal punya maksud tertentu.


"Tidak usah!" Bram menjauh dari Surti, entah mengapa kali ini merasa risi melihat penampilan wanita itu, walaupun dulu pemandangan seperti itu sudah sering ia lihat.


"Bram, jangan marah dulu, apa kamu tidak mau tahu apa tujuan aku kesini?" Tanya Surti memberikan senyuman manisnya.


"Jon, suruh pergi wanita ini," Titah Bram, tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Surti. Bram bergegas masuk mall, tidak melihat lagi apa yang terjadi dengan Surti yang sedang dipaksa Jonathan agar pergi menjauhi tempat itu.


"Lepas! Gua bisa pergi sendiri, tapi tunggu, boss mu itu cepat atau lambat pasti akan bertekuk lutut padaku," Ancam Surti lalu pergi meninggalkan bodyguard.


***********


Tiga hari kemudian Bram sudah sembuh dari luka-lukanya. Selama tinggal di rumah Dewi tidak ada lagi Firmansyah maupun Surti yang mengganggu.


Proyek pembangunan rumah pun sudah mulai di garap oleh tenaga ahli dengan bantuan rt. Beliau lah yang mencarikan tenaga kerja handal bagian properti.


Pagi yang sejuk udara perkampungan sangat segar, pagi ini Bram sudah siap berangkat ke Jakarta. Ia akan selesaikan pekerjaan disana dan sesuai jadwal setelah rampung akan segera kembali ke Amsterdam.



Bram sudah rapi dengan jas biru, dasi biru, kemeja putih hendak masuk ke dalam mobil. Karena tiba di Jakarta nanti ia akan segera menghadiri rapat dengan para pengusaha.

__ADS_1


"Mari Tuan" Kata bodyguard, sudah membuka pintu mobil untuk tuanya. Kali ini Bram akan di antar ke bandara oleh bodyguard tersebut, sementara Jonathan ditugaskam Bram untuk mengurus pembangunan rumah di Surabaya.


"Jon, saya pergi, kalau ada masalah mengenai proyek cepat hubungi saya." Tegasnya, sudah berada di pintu mobil.


"Baik Tuan."


Mobil berjalan lambat sebab banyak anak-anak kecil bermain di jalanan perkampungan tersebut. Dengan ramah Bram membuka kaca melambaikan tangan kepada anak-anak. Ia membayangkan anaknya kelak akan tinggal di perkampungan bisa main tanah, main air, dan mengenal apa itu tanaman.


"Om ganteng." Sapa salah satu anak lima tahun-nan.


"Hai..." Bram tersenyum seraya melambaikan tangan.


"Bagi duit Om." Kata anak yang paling besar polos, sambil cekikikan. Bram terkekeh gemas, ia tahu jika bocah itu hanya bercanda. Bram minta bodyguard agar menghentikan mobil, lalu ambil uang tunai di dalam tas kerja.


"Ini sayang... dibagi-bagi ya," Bram memberikan, pecahan 5 ribuan yang masih diikat melalui kaca.


"Horeee... terimakasih Om." Sorak anak-anak. Anak yang sudah sekolah dasar membagi uang dengan rata.


Bram senang anaknya kelak jika tinggal di tempat ini akan seperti itu, pelajaran praktek tanpa orang tua sadari, tidak hanya bermain ponsel saja. Namun kadang orang tua justeru marah-marah ketika melihat anaknya bermain seperti itu menganggapnya mainan kotor.


"Jalan Bill" Titah Bram kepada Billi. Billi kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di jalan raya, Billi mempercepat kendaraan.


Hawa sejuk pun berganti panas walaupun baru jam sembilan pagi, lantaran Bram sudah tiba di Jakarta. Dengan taksi ia menuju kantor, jika dari Surabaya hingga Jakarta Bramanstya hanya menempuh satu jam lebih. Namun ketika dari bandara ke kantor, Bram tempuh hampir tiga jam karena macet.


"Selamat pagi Tuan"


"Selamat pagi Tuan." Begitu lah sapaan anak buah Bram di kantor. Bram hanya mengangguk-angguk saja, lalu masuk ke dalam lift, menuju ruangan yang sudah hampir satu bulan tidak Bram kunjungi.


"Selamat pagi Tuan." Sapa sekretaris Bram.


"Pagi..." Ucapnya tanpa melihat wajah sekretaris yang sedang menyapa. Bram pun mendorong handle pintu, pandanganya tertuju kepada pria paruh baya yang sedang sibuk di depan komputer, tidak menyadari kehadiran keponakannya itu.


"Selamat pagi Om," Sapa Bram.

__ADS_1


"Selamat pagi," Mendengar suara familar, pria itu kemudian mendongak.


"Bram... saya tunggu-tunggu kok kamu baru tiba." Kata pria itu adalah Om Hasan adik kandung Anindya.


Om hasan lah yang mengurus perusahaan Bram selama Bramanstya di Amsterdam.


"Saya ke Surabaya dulu Om," Jawab Bram sembari menarik kursi lalu duduk di depan om Hasan.


"Ke Surabaya? Kamu ada perjalanan bisnis ke sana?" Cecar Hasan.


"Aku sudah menikah Om" Bram pun menuturkan bahwa ia sudah mempunyai istri. Namun tidak mengatakan dengan jujur bahwa ia menikahi Dewi karena awal yang tidak benar.


"Wah, wah, wah. Pintar kamu Bram, menikah kok tidak memberitahu Om sama Tante kamu," Hasan geleng-geleng kepala.


"Baru nikah siri Om, setelah anak saya lahir aku akan mengadakan pesta di Indonesia." Tutur Bram panjang lebar. Sambil senyum mengingat istri cantiknya.


"Jadi... sampai istrimu hamil pun kamu tidak memberi tahu kami?" Hasan tidak habis pikir. "Hebat-hebat kamu Baram," Dengus Hasan.


Bram hanya tertawa mendengar omelan Hassan.


"Lalu dimana istri kamu sekarang? Kamu tidak mau mengajaknya berkenalan dengan kami?"


"Sekarang saya tingalkan di Amsterdam Om." Potong Bram. "Nanti... kalau urusan disini sudah selesai aku akan menjemput Dewi pulang ke Indonesia." Bram menjelaskan.


"Terserah kamu saja Bram, tapi yang jelas, Tante kamu pasti kecewa." Jawab Hasan sambil merapikan berkas yang sudah diserahkan sekretaris Bram kepada Hasan, sebelum Bram datang untuk bahan rapat nanti.


"Jangan khawatir Om, begitu tiba di Indonesia, aku akan langsung kenalkan Istriku dengan Tante," Pungkas Bram. Om dan keponakan itu pun lantas meninggalkan ruangan, menuju ruang rapat diikuti sekretaris.


...~Bersambung~...


"Maaf semua... Buna telat up, karena terlalu capek, aku sampai sakit. Doakan cepat sembuh ya," 😭😭😭


.

__ADS_1


__ADS_2