
Casanova tiba di halaman rumah mewah dimana Felicia tinggal. Dalam keadaan tidur karena pengaruh alkohol, Felicia diangkat Casanova masuk ke dalam rumah. Seperti memanggul karung beras cara Casanova menggendong Felicia. Bukan romantis seperti pria pada umumnya ketika memperlakukan wanita.
"Tolong tekan lift Bi" Perintah pria itu, setelah art membukakan pintu untuknya. Rambut Felicia menjuntai ke bawah bergerak kesana kemari.
"Baik Tuan,"
Hanya hitungan menit Casanova sudah tiba di kamar lalu merebahkan tubuh Felicia disana, tentu dibukakan pintu oleh art yang mengikutinya.
"Urus Dia Bi, saya mau pulang," Pesan Casanova.
"Baiklah, Tuan," Gadis berseragam itu membuka sepatu Felicia. Sementara Casanova numpang taksi kembali ke tempat dunia gemerlap malam.
**********
Malam berjalan begitu cepat mengantar tidur calon ibu dengan pulas. Jika bukan karena ingin menjalankan ibadah pagi, wanita itu masih ingin menarik selimut.
"Euughh..." Dewi melenguh merentangkan kedua tangan. Dewi terkesiap kala tanganya yang sebelah menyentuh sesuatu yakni telinga Bram, tanpa Dewi tahu benda apa itu. Dewi hendak miring ke kiri namun betapa terkejutnya ternyata Bram tidur menghadapnya.
"Kiaaa..."
Bluk!
"Aow"
Spontan Dewi mendorong tubuh Bram hingga jatuh ke lantai. "Honey..." Bram mengusap bokongnya yang jatuh lebih dulu.
"Lagian..." Ujar Dewi, tak urung membantu Bram bangun dari lantai. Dewi sebenarnya tidak tega melihat Bram jatuh. "Kenapa kamu tidur disini?" Tandas Dewi setelah Bram duduk.
"Kan tidur sama istri sendiri, memang salah..." Jawab Bram santai.
"Istri macam mana itu? Mana ada pria menikahi wanita yang sedang pingsan," Sindir Dewi lalu hendak ke kamar mandi.
"Tolong Honey... tenaga kamu kuat sekali... kaki aku kekilir ini, tidak bisa bangun" Kilah Bram memijit mata kakinya. Padahal tidak kekilir hanya ingin cari kesempatan saja.
Dewi pun keluar kamar meninggalkan Bram, namun membiarkan pintu terbuka.
__ADS_1
"Yaah... nggak berhasil" gumam Bram kecewa. Ketika hendak bangkit mendengar langkah kaki, Bram cepat-cepat kembali posisi semula, yakni pura-pura. Rupanya Dewi sudah kembali lagi, mendekatinya lalu duduk di lantai tepatnya di bawah telapak kaki Bram.
"Sebelah mana yang sakit." Dewi membawa minyak urut yang ia pinjam dari Bibi.
"Di mata kaki sebelah kanan." Bram pura-pura memelas, memang sakit tetapi tidak sampai terkilir.
Dewi membuka penutup botol lalu meneteskan ke telapak tangan membalurkan minyak tersebut, di sekitar mata kaki.
Bramanstya senyum-senyum, misinya berhasil. Tetapi bau minyak urut itu mengganggu indra penciumanya. "Kok baunya seperti minyak nenek-nenek honey..." Protes Bram.
"Mau sembuh nggak? Kalau nggak mau ya sudah, saya mau subuh keburu telat!" Ketus Dewi hendak pergi.
"Mau-mau" Ralat Bramanstya. "Jangan galak-galak Honey... kata Almarhum mama, kalau lagi hamil tidak boleh membenci suami. Katanya anaknya mirip papanya loh." Bram terkekeh.
"Katanya sakit! Tapi haha heheh! Nggak jelas," Sungut Dewi. Lalu fokus menatap kaki Bram.
Antara dua jari jempol dan telunjuk milik Dewi mengurut pelan mata kaki Bram. Pria itu merem melek rupanya selama hidup baru kali ini merasakan diurut, apa lagi istrinya sendiri yang melakukan ini.
"Kamu sebaiknya periksa ke dokter," Kali ini Dewi berkata pelan sambil terus mengurut.
"Tidak usah Honey... setelah kamu urut ternyata sudah sembuh." Jawab Bram. Ya jelas sembuh karena memang tidak sakit.
Deg.
Bramanstya terperangah, menatap wajah Dewi yang sama sekali tidak memandangnya.
"Aku nggak mau anak dalam kandungan aku terjadi apa-apa. Benda keramatmu itu sering kau tancapkan kemana-mana." Dewi kali ini serius. Bramanstya sudah menjelajahi wanita-wanita, bukan hanya di Indonesia. Tetapi pergaulan di negara ini lebih bebas. Tentu wanita-wanita itu sudah bekas pria lain.
Dewi ngeri sendiri jika sampai dirinya tertular penyakit mematikan itu. Sebenarnya Dewi akan membicarakan masalah ini sejak kemarin, tetapi rasanya risi. Tentu tidak untuk saat ini karena mau tidak mau Bram sudah menjadi suaminya, masalah ini harus cepat ditangani sebelum semuanya terlambat.
Dewi lalu keluar mengembalikan minyak kepada Ami, sebelum akhirnya mandi.
Bram hanya terpaku di lantai, selama ini ia tidak pernah memikirkan resiko atas perbuatannya. Benar juga kata Dewi, Bram pun melangkah ke kamar nya hendak mandi.
Jam tujuh pagi Bram keluar dari kamar sudah rapi hendak ke kantor. Kemeja lengkap dengan jas dan dasi menambah ketampanannya.
__ADS_1
Pria itu duduk di sebelah Dewi. "Nanti aku akan periksa, tetapi sama kamu juga kan," Bram menyambung saran Dewi di kamar tadi.
"Sebelum kamu nodai, saya masih suci, jika kamu sudah terbukti sehat, itu artinya saya dan bayi dalam kandungan ini insyaAllah juga sehat," Tegas Dewi.
"Kamu pintar sekali istriku... aku berangkat," Di curinya pelipis kiri Dewi. Membuat sang pemilik terkejut, lalu melotot. Bram terkekeh lalu mengacak rambut Dewi.
"Iihh... nggak jelas banget sih...!!" Dewi merengut lalu merapikan rambutnya, menyelipkan ke kuping kiri dan kuping kanan. Sementara Bramanstya dengan sepatu pantofel sudah beradu dengan lantai meninggalkan apartemen.
"Non Dewi, saya tinggal sebentar tidak apa-apa kan?" Tanya Ami sudah menylempang tas juga.
"Bu Aminah mau kemana?" Dewi tidak tahu jika Ami hendak pergi.
"Saya mau ambil kacang hijau di kediaman almarhum mertua Non,"
"Saya ikut ya Bu..." Dewi bersemangat hendak jalan-jalan.
"Non sudah ijin Tuan Bram?" Bibi tentu tidak berani mengajak Dewi jika bukan karena perintah Bramanstya.
"Belum sih Bi... tapi Tuan pasti boleh kok, masa saya main ke rumah orang tuanya saja nggak boleh." Dengan berbagai cara Dewi membujuknya.
"Ya sudah... ayo..." Ami pun akhirnya mengalah.
"Yeeyyy..." Sorak Dewi seperti anak kecil. Ami tersenyum menatapnya.
Dewi segera salin baju. Ia hanya ingin tahu seluk beluk kota terbesar di negara ini, yakni ibu kota negara tersebut dipagi hari sebelum pulang ke Indonesia.
Setelah rapi, Dewi tampak sumringah digandeng Ami, menunggu taksi di pinggir jalan. Taksi pun datang Ami berbicara dengan bahasa negara tersebut, tentu Dewi tidak mengerti.
"Di kota ini apa rata-rata menggunakan bahasa asal Bu?' Tanya Dewi.
"Tidak Non, banyak juga yang menggunakan bahasa Inggris." Kata Ami. Ami bisa tiga bahasa karena sudah puluhan tahun tinggal disini.
Dewi manggut-mangut di dalam taksi ngobrol panjang lebar. Ami menceritakan sejarah tempo dulu hubungan dua negara Indonesia dan negara B tentu sudah bukan rahasia lagi.
Walaupun pendidikan Aminah hanya lulusan SMP, tetapi karena sering mendengar cerita Anindya ketika masih hidup. Ami bercerita dengan gamblang.
__ADS_1
"Mari Non." Ami membuka pintu taksi untuk Dewi ketika sudah tiba di kediaman Bramanstya. Pria bertubuh gempal membuka pintu untuk Ami dan Dewi.
...~Bersambung~...