Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 71


__ADS_3

Di kantor usaha dagang, di meja kerja seorang pria tak mampu untuk berpikir. Rasa cemburunya sudah meracuni otak dan pikiran.


"Aaaggghhh.... Brak!" Ia teriak, bersamaan dengan tanganya yang menggebrak meja. Sebenarnya ia berusaha menepis pikiran buruk tentang istrinya, tetapi bayangan Dewi saat membonceng Firman menari-nari di pelupuk mata.


Dia adalah Bramanstya, setelah berhasil mendirikan mall grosir terbesar di Surabaya, cabang Jakarta. Usaha barunya itu mulai dibanjiri pembeli yang kebanyakan pelanggan toko-toko menengah ke bawah. Namun, kini ujian rumah tangga datang mendera.


"Apa karena aku sering pulang malam ya? Dewi jadi kesepian, lalu berselingkuh di belakang aku?" Tanyanya dalam hati. Setelah mall miliknya di resmikan satu bulan yang lalu, Bram memang terlalu sibuk, hingga tidak memperhatikan anak dan istrinya.


"Ah, sebaiknya aku telepon istriku," Walaupun gengsi, Bram ambil tas hendak mengambil handphone. Pria itu baru ingat, saking sibuknya tidak mengecek handphone sejak kemaren siang.


"Aaggghhh... kemana sih handphone!" Bram marah-marah seorang diri.


Tok tok tok.


Bramanstya menghentikan pencarian kala pintu ruang kerja ada yang mengetuk. "Masuk" Titahnya.


"Ada tuan Arga dari perusahaan Daniswara grup Tuan," Sekretaris pun masuk memberi tahu.


"Suruh masuk, saja" Jawabnya pendek, tanpa menatap sekretaris itu.

__ADS_1


"Baik Tuan," Sambil bertanya-tanya dalam hati kenapa wajah bos nya, sekretaris kembali ke luar menyilahkan Arga masuk.


"Selamat pagi Tuan Bramanstya," Ucap pria kulit kuning langsat itu terkejut, kala membuka pintu menatap wajah Bram lebam-lebam.


"Selamat pagi..." Bram menyembunyikan kegalauan hatinya, menyambut Arga dan menyilahkan duduk. "Jangan panggil saya tuan, panggil saja Bram," Tolak Bram karena menganggap Arga bukan rekan bisnis, tetapi sudah seperti teman.


"Okay, Bram." Jawab Arga, sebenarnya Arga ingin tahu kenapa wajah Bram lebam-lebam, tetapi rasanya sungkan untuk bertanya. Keduanya pun ngobrol santai untuk beberapa saat.


"Anda luar biasa Bram, entah berapa cabang mall yang akan Anda dirikan setelah ini." Arga memuji, karena selain dua mall yang sudah Bram dirikan sendiri. Gudang besar peninggalan Andro yakni gudang bahan pokok dan produk di Jakarta, yang paling besar diantara gudang-gudang yang lain. Satu perusahaan saja tidak habis dimakan tujuh turunan.


"Apakah Anda masih kurang dengan perusahaan yang Anda miliki Arga? Perusahaan Daniswara grup itu perusahaan terbesar di Indonesia loh," Bram balik memuji.


"Minumnya Tuan," Sekretaris datang membawa dua gelas kopi.


"Terimakasih," Jawab Arga.


Mereka pun akhirnya membicarakan masalah bisnis dengan serius. Bram profesional dalam bekerja, tidak membawa persoalan rumah tangganya saat membahas pekerjaan dengan Arga. Bahkan, Bram bisa menyembunyikan seolah tidak ada apa-apa.


Tentu berbeda dengan Arga, pria itu masih menebak-nebak apa penyebabnya hingga wajah Bram seperti itu.

__ADS_1


"Oh iya Bram, minggu depan, saya bersama istri akan silaturahmi ke rumah mu," Kata Arga, selesai membahas bisnis, mereka minum kopi.


"Tentu kami sangat senang Ga, istriku sudah sejak lama ingin berjumpa dengan istrimu. Hanya, kami belum ada kesempatan," Bram seketika ingat permintaan Dewi.


"Okay... minggu depan kami kesana," Arga mengakhiri obrolan lalu pamit pulang. Begitu juga dengan Bram, ia mengekori. Lebih baik pulang, karena disini pun tidak bisa bekerja dengan maksimal. Lagi pula, Bram kangen dengan Calvin saat berangkat tadi pagi tidak ia pamiti. Mereka berjalan bersama keluar dari ruangan lalu berpisah ketika tiba di parkiran.


"Zai... kita pulang saja," Titah Bram.


"Baik Tuan,"


Begitu masuk mobil, tatapan Bram tertuju kepada handphone yang dia cari-cari tergeletak di jok. "Oh disini," Bram membuka handphone, tetapi sudah mati, kemudian membuka tas, ambil powerbank. Setelah ia pasang, handphone pun menyala.


Bram terperangah kala beberapa kali panggilan dari Dewi tidak terjawab. Bahkan pesan Dewi yang mengatakan bahwa Calvin kemaren panas pun tidak dia ketahui.


"Tambah kecapatan Zai," Bram kalang kabut sendiri. Ingin cepat sampai di rumah melihat keadaan putranya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2