
Di meja makan Dewi makan dengan lahab walaupun tinggal di Amsterdam makanan yang di sajikan Ami tetap makanan Indonesia. Wajar, karena Bram sudah lama tinggal di Indonesia, mungkin selera makan pria itu pun tidak jauh berbeda dengan Dewi.
Selesai makan Dewi hendak mengangkat piring ke dapur. Tangan Bram yang hendak menarik tisue pun urung, memilih menahan tangan Dewi. "Jangan honey... biar Bibi saja." Cegah Bram.
"Benar Non" Ami yang di dapur mendengar ucapan tuanya bergegas menghampiri meja makan.
"Terimakasih Bu." Ucap Dewi lalu kembali duduk meneguk air putih dalam gelas. Bram di sebelahnya menatap Dewi sebenarnya ingin mengucapkan sepatah kata untuk melemaskan kekakuan diantara mereka. Namun Bram masih belum berani berucap.
"Sama-sama Non," Jawab Ami kedua tangannya membopong piring ke dapur.
Sementara Dewi setelah minum menyeka mulutnya dengan tisue membuangnya ke tempat sampah lalu ke kamar hendak menjalankan shalat isya.
"Bi" Bramanstya ke dapur mendekati Ami yang sedang mencuci piring.
"Saya Tuan," Dengan cepat, Ami mencuci tangan.
"Biasanya minuman atau makanan kesehatan untuk ibu hamil itu apa Bi?" Tanya Bram ingin tahu.
"Oh kalau bibi dulu suka minum rebusan air kacang hijau Tuan." Ami menuturkan kala hamil anaknya dulu. "Memang siapa yang hamil Tuan?" Ami ingin tahu.
"Dewi Bi..." Bram tersenyum. Bram dengan Ami sudah seperti ibunya sendiri. Sebab Ami bekerja dengan Anindya sudah sejak Bram SMP.
"Dewi hamil Tuan," Aminah berseri-seri.
"Iya Bi, tolong urus dengan baik, perhatikan gizi Dewi dan juga calon anak saya." Bram sudah membayangkan mempunyai anak yang lucu dan sehat.
"Besok pagi-pagi saya ambil di rumah Tuan, waktu itu saya membawa kacang hijau dari Jakarta." Ami bersemangat. Bram mengangguk lalu ke kamar.
Di pinggir tempat tidur Bram meninggikan bantal untuk landasan kepalanya agar nyaman. Ia menatap iternit, bayangan wajah Dewi yang cantik itu menari-nari di kelopak mata. Bram memejamkan mata, namun bayangan saat tidur bersama Dewi di Jakarta membuat jiwa laki-lakinya memberontak.
__ADS_1
Tetapi Bram tidak mau gegabah, ia tidak mau memikirkan yang muluk-muluk. Yang ia harapkan untuk saat ini sedikit demi sedikit mampu melenturkan hati Dewi yang sekeras besi itu sudah bersyukur.
Pria itu memutar otak, bagaimana carannya mendekati Dewi tetapi tidak membuatnya marah, justeru Dewi merasa terkesan.
Bram bangun kembali hendak shalat isya selama Dewi tinggal bersamanya Bram mulai berubah. Setelah ambil air wudhu ia buka lemari, ambil baju koko, sarung dan peci. "Aku ternyata lebih tampan jika memakai pakaian seperti ini" Bram tersenyum memandangi wajahnya di cermin. Seketika ingat janjinya kepada Dewi hendak shalat isya bersama.
Bram melangkah pasti keluar dari kamarnya menuju kamar Dewi.
Tok tok tok.
Klak!
Muncullah Dewi dari dalam sudah mengenakan mukena, dua mata mereka saling bertemu. "Kamu sudah shalat honey?" Tanya Bram masih di luar pintu.
"Belum, baru mau shalat." Jawab Dewi sambil berlalu.
Bram menyusul lalu menutup pintu. "Kita shalat berjamah ya," Ujar Bram menggelar sadjadah di depan Dewi tanpa menunggu Jawaban.
Bacaan surah Al fatihah terdengar merdu di rokaat pertama sungguh tidak Dewi sangka keluar dari mulut pria yang sudah dicap pria beraklak buruk itu. Rokaat demi rokaat mereka jalankan dengan kusyu, hingga rokaat terakhir lalu mengucap salam, tangan lembut menyandak tangan kekar menciumnya dengan lembut.
"Terimakasih" Ujar Bram, usapan tangan dengan lembut pun akhirnya berada di atas kepala yang masih mengenakan mukena.
"Kita ke balkon yuk" Ajak Bram membuka pembicaraan.
"Mau ngapain?" Tanya Dewi sekenanya, padahal ia pun sebenarnya ingin ke tempat yang sama tetapi ke duluan Bram.
"Lihat bintang sama rembulan," Bram tersenyum karena Dewi berjalan lebih dulu.
"Yes!" Bramanstya mengangkat tanganya ke atas dan menariknya ke belakang sebelum akhirnya menyusul Dewi. Tiba di tempat, Dewi sudah duduk memeluk lutut, disusul Bram di sebelahnya.
__ADS_1
"Kalau musim dingin kita nggak akan berani duduk di sini malam-malam begini," Bram mulai membuka pembicaraan.
"Heemm..." Hanya itu jawaban Dewi. Rupanya terangnya bulan dan indahnya bintang tak merubah suasana hati Dewi. Pasalnya jika Bram bicara hanya dijawab dengan 'heemm'
30 menit kemudian, Dewi ke kamar lebih dulu, Bram membiarkan saja. Hingga Beberapa saat Bram menyusul, Dewi rupanya sudah tidur. Bramanstya tersenyum tanpa permisi tidur di sebelah istrinya itu mencium ceruk Dewi yang beraroma wangi. Tanganya memeluk perutnya tanpa disadari sang pemilik. Malam itu pun Bram tidur di tempat itu, walaupun harus menundukan piaraannya, tentu belum saatnya menyerang untuk saat ini.
*************
Dini hari di tempat yang berbeda, beginilah kehidupan malam merajalela disetiap lingkungan kota, tidak jauh dari apartemen dimana Bram tinggal. Seorang wanita sedang menikmati hinggar bingarnya kehidupan malam.
Minuman beralkohol dan Casanova itulah menemani nya selama 10 tahun setelah suaminya tiada. Tidak ada tujuan hidup selain bersenang-senang dengan harta peninggalan sang suami. Walaupun itu semua sejujurnya bukan miliknya melainkan milik Bramanstya. Ia hanya mendapat sebagian kecil saja.
"Ayo, kita nikmati malam ini, kenapa kamu diam saja?" Tanya seorang pria tentu dengan bahasa negara asal. Sudah pasti itu teman main di ranjang.
"Tidak untuk malam ini," Tolak wanita itu, lalu meneguk secangkir minuman.
"Loh kenapa Felicia? Ada apa dengan Mu malam ini?" Pria itu tidak menyangka jika wanita yang biasanya ganas itu akan menolaknya.
Felicia tidak menjawab kembali menuang minuman kembali dari botol hingga beberapa botol habis.
Wanita itu kesal mengingat jika Bram sudah mempunyai istri. Itu artinya akan mengancam ketenangan hidupnya.
"Mau kemana?" Tanya Casanova itu yang sebenarnya sudah ngebet. Namun, Felicia tidak menjawab lalu berjalan sempoyongan menuju mobil.
"Saya antar pulang, kamu mabuk Elis." Kata Casanova yang mengejar hingga parkiran itu, segera ambil alih kunci mobil dari tangan Felicia. Sebenarnya dia kecewa untuk malam ini, tidak bisa menyalurkan hasratnya. Namun, masih ada hari esok. Felicia memang masih menjadi incaran para pria hidung belang. Karena kecantikan dan tubuh moleknya.
"Aku tidak mau pulang ke rumah pagi ini. Antar saya ke apartemen anak tiri ku." Ucapnya lirih karena sudah di kuasai alkohol.
"Hahaha... anak tiri apa calon target kamu berikutnya." Casanova terbahak-bahak. Jika mengingat pria muda yang dimaksud adalah Bramanstya. Mana ada anak tiri usianya sama dengan wanita di sebelahnya. Casanova tidak mau menuruti Felicia, tetap mengantar ke rumah. Jika ia marah urusan nanti. Pikir pria itu toh, Felicia saat ini sudah tidak sadar karena mabuk berat.
__ADS_1
...~Bersambung~...