Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 42


__ADS_3

"Siapa Anda?" Tanya Bram ketika melihat pemuda yang tinggi badannya kira-kira 172 cm. Kulit kuning langsat, lumayan tampan. Namun mimik wajahnya tidak bersahabat, berdiri di teras rumah Dewi.


"Untuk apa Anda datang ke rumah ini?!" Sinis pria itu.


"Saya yang harusnya bertanya, kenapa kamu berada di rumah istri saya?" Bramanstya menekan kata 'istri saya'


Mendengar ucapkan Bram, pria itu mendelik gusar.


Buk!!


Secepatnya pria itu maju tanpa Bram duga meninju wajah Bram mengenai bibir. Bram meludah karena merasakan anyir di lidahnya. Pantas saja ludahnya berwarna merah lantaran bibir beradu dengan gigi menyebabkan darah keluar.


"Itu hadiah yang harus Anda terima karena Anda sudah merusak wanita yang saya cintai! Sekarang katakan, dimana Dewi?!" Bentak Firmansyah.


Bram mengusap darah yang mengalir di ujung bibir. Dia menyimpulkan ternyata ini pria yang tidak bisa membuat Dewi segera muve on, ternyata luamayan juga pria ini.


"Kenapa Anda diam?! Hah?" Merasa tidak diladeni pria yang tak lain adalah Firman itu mengangkat tinju yang kedua kalinya.


Buk!


Sebelum tinju itu kembali mencium pipi Bram, sebuah tangan gempal meninju wajah Firmansyah. Firmansyah jatuh tersungkur di lantai.


"Hentikan Jo" Cegah Bram, kala Jonathan ajudan Bram hendak mengulangi meninju Firmansyah. Bramanstya maju membangunkan tubuh Firmansyah yang sedang menatap murka wajah Bram.


"Kembalikan Dewiku!" Seketika Firman berdiri.


"Hahahaha.... Anda ini lucu sekali! Mana ada suami yang rela menyerahkan istrinya kepada pria lain." Bram tertawa meledek.


Buk buk!


Firmansyah kembali meninju Bram, hatinya terasa panas kala mendengar Bram mengatakan 'Dewi istriku'


Buk! Buk!


Bram balik meninju. Dua pria yang merebutkan satu wanita itu pun saling menyerang. Mereka baku hantam sebelum tiba waktu maghrib diselingi caci maki dua pria terdengar berisik.


Jonathan ajudan Bram hanya menjadi penonton, karena Bram melarang Jon membantu.


"Ayo, kenapa Anda berhenti, kita adu kekuatan sampai ada yang mati diantara kita, yang hidup akan memiliki Dewi." Tantang Bram walaupun wajahnya sudah babak belur.

__ADS_1


"Brengsek kau!" Sahut Firmansyah, namun rupanya pria itu sudah tidak berdaya. Tidak Firmansyah pungkiri, tenaganya tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan Bram.


"Ayo berdiri! Bukankah Anda tadi yang menantang saya?" Bram menyeringai.


"Anda boleh menang untuk saat ini, tapi tunggu pembalasan saya besok!" Firman berusaha bangkit dari lantai yang dipelur dengan semen.


"Siapa takut," Jawab Bram, masih berdiri memandangi Firmansyah yang berjalan terseok-seok meninggalkan tempat itu.


"Mari saya obatin Tuan." Kata Jonathan. Segera ambil P3k ke dalam mobil, tidak lama kemudian kembali.


Sementara Bram sudah menunggu di ruang tamu rumah Dewi.


"Aow! Pelan-pelan Jon." Protes Bram kala Jonathan membersihkan luka memar Bram.


"Maaf Tuan" Wajar saja jika tangan Jonathan tidak bisa bekerja dengan lembut karena pantasnya pria itu memang biasa bekerja kasar.


Bram meringis kesakitan, andai saja ada istri di sebelahnya, mungkin dia akan mengobati lukanya dengan lembut. Namun Bram hanya bisa bermimpi. Walaupun Dewi berada di dekatnya apakah akan mengobati lukanya? Bram menarik napas sesak, nyatanya hingga kini Dewi belum bisa memaafkan dirinya.


"Cukup Jon." Ucapnya lalu melangkah rindik ke kamar Dewi. Bram baru tahu ternyata kekasih istrinya itu cukup tampan. Pantas saja Dewi tidak mudah untuk melupakan.


Tiba di kamar, Bram menatap wajahnya di cermin persegi milik Dewi. Masalah ketampanan tentu ia lebih unggul dari Firmansyah. Walaupun wajahnya bonyok lebam-lebam, memar-memar masih terlihat tampan.


Namun, Bram menyadari bukan hanya soal penampilan fisik yang akan dilihat Dewi, tetapi nyatanya moral Bram nol besar jika dibandingkan dengan Firmansyah.


Bram pun segera tayamum, karena wajahnya tidak mungkin terkena air. Ia bersujud menjalankan shalat magrib, lalu berdoa mohon ampun kepada Allah.


Tuling lung... Tuling lung.


Bram beranjak dari sadjadah, lalu ambil handphone di atas meja kecil. Senyum tipis terukir di bibirnya kala melihat siapa yang telepon. Bram menggeser video call sembari berjalan ke tempat tidur.


"Honey..." Lirih Bram, membuat wanita di seberang sana terperangah.


"Prirus kanapa?" Tanya Dewi kencang, menatap wajah Bramastya seperti jago yang kalah bertarung.


"Nggak apa-apa honey... tadi nyungsep" Bram beralasan. Mau tersenyum tetapi bibirnya terasa perih.


"Bohong! Memang saya bodoh apa, kamu habis bertengkar kan?" Cecar Dewi, walaupun berisik tetapi bagi Bram terdengar merdu seperti seruling bambu.


"Iya, iyaaa... aku habis bertengkar dengan-dengan..." Bram terbata-bata.

__ADS_1


"Dengan siapa? Cepat ngomong!" Semprot Dewi, merasa geregetan mendengar ucapan Bram yang berbelit-belit.


"Dengan mantan pacarmu." Bram akhirnya bisa menjawab.


"Firman? Nggak mungkin," Sanggah Dewi, ia sudah lama mengenal Firman, tidak percaya jika Firmansyah bisa berbuat begitu. Sejak kecil Dewi sudah bertetangga dengan Firmansyah, tentu tidak percaya jika itu perbuatan mantan pacarnya itu. Jangankan menghajar orang, memukul semut pun Firman tidak tega.


"Kalau nggak percaya ya sudah, tetapi nyatanya Dia memukul aku duluan." Adu Bram seperti anak-anak.


"Terus... sudah diobati belum?" Dewi pun akhirnya tidak tega, kali ini bertanya dengan lembut.


"Sudah diobati sama Jonathan." Tutur Bram.


"Ya sudah... jangan lupa ke dokter ya," Pesan Dewi. Bram memaksakan tersenyum mendengar pesan Dewi penuh perhatian.


"Memang kamu lagi dimana ini," Dewi merasa familar dengan kamar itu ketika layar handphone bergerak menangkap ruangan.


"Aku mau bobo di kamar kamu," Bram menuturkan jika ia menginap di rumah nya, hanya berdua dengan Jonathan.


"Ya sudah... kalau mau ganti pakaian ambil saja kaos di lemari, ada yang masih baru kok." Saran Dewi


"Terimakasih honey..." Ucap Bram yang terakhir kali, karena video call sudah usai. Bram pun menghubungi Jonathan agar membeli makan malam untuk mereka berdua.


Bram beranjak dari tempat tidur mencari kaos di lemari seperti apa yang dikatakan Dewi, Bram pilah pilih lalu ambil di rak bagian atas.


Di tempat itu memang benar ada beberapa kaos yang masih di bungkus plastik. Ia ambil kaos berwarna hitam kemudian mengeluarkan dari plastik. Namun, hati Bram merasa iri kala dibagian depan kaos tersebut terpampang caption romantis saling pandang antara Dewi dengan Firmansyah di atas ayunan.


"I Love you" Itulah tulisan di bawah foto.


Seketika Bram melempar kaos tersebut ke lantai, lalu duduk di tempat tidur. Memandangi tumpukan pakaian sejenak lalu mendorong pintu lemari dengan kaki. Ia sudah tidak berkeinginan untuk melanjutkan mencari pakaian lagi. Sudah pasti akan menemukan banyak kenangan antara istrinya bersama Firmansyah yang justeru akan menambah dadanya terasa sesak.


Bram menyugar rambutnya gusar, kenapa hatinya sakit, mengingat dirinya hanya menjadi yang kedua bagi Dewi. Lagi pula perasaan Dewi terhadapnya pun masih abu-abu.


Tok tok tok


"Masuk" Jawab Bram.


"Makan malamnya sudah siap Tuan," Kata Jonathan masuk membawa kotak dalam plastik.


"Simpan saja di meja makan, terus antar saya keluar mencari piama." Titahnya, kemudian keluar kamar diikuti Jonathan.

__ADS_1


Tiba di halaman, Bram duduk di depan bersama Jonathan. Mereka tidak menyadari jika di jok tengah seseorang sudah duduk lebih dulu.


...~Bersambung~...


__ADS_2