
Sore hari nan sejuk, udara perkampungan membuat siapapun terasa betah. Namun tidak untuk pria yang satu ini. Di teras rumah ia duduk menyendiri menatap jalanan. Bayangan wanita yang dulu ia cintai selalu berputar di benak. Andai saja bisa memutar waktu, pria itu akan memulai dari awal mengikuti kemanapun Dewi pergi.
"Dewi... semoga kamu bahagia." Hanya itu yang selalu terucap dari bibir hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam. Beginilah yang pria itu lakukan kala tidak ada orderan memilih merenung di tempat-tempat sepi tidak ada orang yang mengganggu.
Dia adalah Firman, untuk melupakan Dewi walaupun sudah menjadi milik pria lain. Namun, di bibir boleh berkata rela, tetapi di hati nyatanya masih belum ikhlas melepaskan.
"Firmansyah... sebaiknya kita menjenguk Surti," Kata Larasati mengejutkan lamunannya.
"Ibu saja yang menjenguk." Tolak nya, menoleh sekilas ibunya lalu kembali menatap jalanan.
"Kasihan Surti Fir, dengan keadaan sakit begini seharusnya kamu menjenguk." Laras menatap putranya yang sedang menempelkan dagu nya ke kursi. Putranya ini seperti hanya raga tak bernyawa. Wanita paruh baya itu geleng-geleng kepala. Segitu cintanya Firman kepada Dewi sampai tidak perduli dengan dirinya yang notabene ibunya sendiri.
"Kalau Firman tidak mau jangan dipaksa Bu," Pak Gatot yang baru saja keluar akan menjenguk Surti mengingatkan istrinya agar jangan selalu memaksakan ke hendak putra semata wayang nya itu.
"Ya sudah," Bu Laras meninggalkan Firman diikuti pak Gatot, mengendarai mobil.
Firman kembali menatap jalanan ia ingat kala Dewi masih menggunakan seragam putih abu-abu selalu lewat di depannya. Firman tersenyum seketika ingat setiap kali Dewi lewat dia sudah menunggu di atas motor.
__ADS_1
Mata Firman menyipit kala wanita yang selalu dia rindukan sedang jalan-jalan sore menggendong bayi di gandeng pria yang beberapa bulan yang lalu Firman hajar.
"Aku senang sekali honey... tempat ini masih sejuk dan bebas polusi,"
Firman menajamkan telinga kala mendengarkan obrolan dua orang yang sedang melintas di jalan depan rumah.
"Dewi..." Ujar Firman lrih hanya terdengar dirinya. Ia tepuk pipinya, meyakinkan jika yang dia lihat benar-benar Dewi dan Bram atau bukan, namun pipinya terasa sakit, itu artinya memang tidak sedang bermimpi. Firman merasa heran, tenyata Dewi sudah melupakan dirinya. Nyatanya, Dewi sama sekali tidak mau menoleh ke rumahnya.
"Aku harus mengikutinya." Ucapnya, beranjak dari kursi ambil masker dan topi agar tidak diketahui Dewi. Ia berjalan dari jarak agak jauh matanya tertuju kepada wanita itu. Sedih memang ketika melihat keromantisan Bram yang diberikan kepada Dewi. Tetapi kali ini dirinya sudah tidak mempunyai hak untuk marah kepada Bram, karena Firman melihat dengan mata kepalanya sendiri kala senyum merekah di bibir Dewi saat menoleh ke arah suaminya. Entah senang atau sedih, yang Firman rasakan kini. Entahlah.
*********
"Mas... perasaan ada yang ngikutin kita deh," Kata Dewi, kepada suaminya. Dari postur tubuh dan lain sebagainya, ia tahu jika yang ia lihat sekilas baru saja adalah Firman. Namun, Dewi tidak mau memberi tahu suaminya daripada bikin masalah.
"Tidak ada siapapun, honey...," Bramanstya menoleh ke belakang, tentu tidak melihat siapa pun. Padahal di balik pohon Firman mengawasi nya.
Dewi hanya mengangguk memilih melanjutkan perjalanan hingga tiba di rumah kedua orang tua Dewi. Di situlah untuk semantara mereka tinggal. Rumah Dewi yang dulu kecil kini berdiri kokoh dua lantai.
__ADS_1
Sementara rumah yang Bram buat untuk keluarga kecilnya belum rapi. Cepat atau lambat, Bram akan memberi kejutan kepada Dewi jika rumahnya sudah rapi.
"Zaidan... siapkan mobil." Titah Bram, sore ini Bram bersama Dewi akan memeriksakan anaknya. Sebab baru kemarin perjalanan jauh, apa lagi tadi malam Calvin agak rewel Dewi khawatir jika badan anaknya ada yang dirasa tidak enak.
"Baik Tuan." Zaidan segera menjalankan perintah.
"Mas, tolong gendong Calvin dulu ya, aku mau ambil perlengkapan ke dalam," Dewi menyerahkan Calvin kepada Bram. Ia lantas bergerak cepat ke dalam.
"Ini perlengkapan Calvin Non" Belum sampai Dewi masuk ke kamar, Ami sudah memberitakan popok dalam tas kecil.
"Terimakasih Bu." Dewi menerima tas lalu masuk ke mobil, dimana suami dan anaknya sudah berada di dalam. Mobil pun berangkat melewati rumah Firman, sekilas mata itu melirik namun tidak ada siapapun di sana.
20 menit kemudian mobil berhenti di depan rumah sakit besar yang berada di kota Surabaya. Mata Dewi melebar kala melihat wanita yang berada di lobby rumah sakit mengenakan baju pasien.
"Mas, lihat. Itu Surti kan?
...~Bersambung~...
__ADS_1