Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 34


__ADS_3

Felicia meringis kesakitan memegangi bokongnya dibantu berdiri oleh keempat asisten dari lantai yang digenangi air. Dengan pakaian basah para asisten membantu Felicia ke kamar mandi.


"Ambilkan saya baju ganti." Perintahnya lalu membanting daun pintu kamar mandi dengan keras, membuat para asisten ketakutan.


*****************


Di dalam mobil tidak ada yang berani bicara termasuk Dewi, melihat dua sisi kepribadian Bram yang hangat kepadanya. Namun, ketika marah seperti kerbau ngamuk tentu Dewi menciut juga. Apa lagi Ami, sejak keluar dari rumah hingga di dalam mobil tidak berani menatap wajah Bram.


Dewi melihat ke luar mobil, ke sisi kiri jalan raya tampak jalanan khusus untuk para pengguna sepeda goes beriringan, sepeda anti polusi itu lebih indah dipandang mata. Udara hangat di musim panas tentu membuat para pengguna sepeda antusias.


"Kenapa kamu ajak Dewi ke sana Bi?" Suara bariton di sebelah Dewi memecah kesunyian. Seketika Dewi berpaling dari jalan menatap wajah Bram yang masih menahan marah.


"Bukan salah bu Ami, saya yang memaksa ikut," Jawab Dewi cepat, sebelum Ami yang duduk di sebelah Zaidan menjawab.


"Kan Bibi bisa melarang!" Ketus Bram, tanpa mau dibantah. Ami hanya membisu, sudah siap menerima konsekuensinya sudah pasti akan kena marah dari Bram seperti sekarang.


"Iih! Sudah apa, kasihan bu Ami, kan saya sudah katakan, bukan bu Ami yang salah," Potong Dewi meluruskan. Di mobil kembali sunyi melihat tatapan mata Bram masih merah, Dewi memilih memainkan ponselnya daripada melihat wajah pria di sebelahnya seperti kawat sangkutan handuk.


Lima belas menit terasa lama, mereka sudah tiba di apartemen. Bibi langsung ke dapur membereskan barang bawaan. Selanjutnya Dewi dan Bram masuk ke kamar masing-masing.


Dewi segera ke kamar mandi mencuci tangan bekas ngepel, karena tadi hanya ia lap dengan tisue. Setelah selesai, Dewi kembali ke dapur.


"Bu..." Sapa Dewi menghampiri Ami yang sedang membuka lemari dapur seketika mendongak.


"Saya Non." Bibi menghentikan kegiatannya.


"Bu... apa benar jika Bram dengan Felicia dulu pernah ada hubungan?" Dewi mulai ingin tahu, sambil menatap pintu kamar Bram khawatir tiba-tiba keluar.


Ami hanya diam tanganya sibuk mencuci sayuran hendak menyiapkan makan siang. Seperti ada rahasia yang Ami sembunyikan dari Dewi.


"Bu... katakan saja." Selidik Dewi.

__ADS_1


"Benar Non, tapi itu kan masalalu, jangan dipikirkan."


"Oh... ya sudah Bu..." Melihat Ami tampak keberatan bercerita, Dewi tidak mau memaksa, lalu keluar dari dapur duduk di depan televisi. Dewi memencet remote menonton televisi sambil tiduran di sofa. Namun bukan Dewi yang menonton, melainkan Dewi yang di tonton televisi. Sebab, Dewi langsung tidur kembali.


Hingga tiba waktu makan siang, Dewi dibangunkan oleh Ami. "Ya ampun Bu... kenapa saya jadi tidur terus..." Dewi heran akhir-akhir ini mudah sekali mengantuk.


"Itu normal Non, karena ada peningkatan hormon progesteron jadi mudah lelah dan juga mengantuk." Terang Ami sambil membawa makanan ke meja makan.


"Iya Bu." Jawab Dewi sambil mencuci muka di kamar mandi Ami.


"Bram dari tadi belum ke luar Bu?" Tanya Dewi sambil minum air putih satu gelas, rasanya segar sekali.


"Sejak pulang tadi belum keluar dari kamar Non... saya takut membangunkan," Kata Ami, walaupun biasanya Aminah selalu membangunkan Bram, tetapi untuk kali ini merasa takut jika Bram masih marah kepadanya.


"Ya sudah Bu... biar saya bangunkan." Dewi kali ini merasa khawatir juga. Jangan-jangan pria rusak itu kebablasan, tentu kasihan anaknya, kehilangan bapaknya ketika masih di perut.


Tok tok tok.


Dewi melihat ke tempat tidur hanya samar-samar tidak ada penerangan walaupun siang hari, rupanya jendela dan gorden pun tidak dibuka.


"Bagaimana mau sehat kalau begini." Gumam Dewi setelah berjalan pelan masuk ke kamar kemudian menarik gorden dan membuka jendela.


Mata Dewi memindai sekeliling, handuk masih tergeletak di sofa, mungkin bekas mandi tadi pagi belum dibereskan karena Ami keburu pergi. Dewi melihat ke tempat tidur rupanya Bram sedang tidur terlentang dan anehnya tidak mengganti kemeja, celana bahan, dan yang lebih mencengangkan adalah, sepatu masih melekat di kaki.


Dewi berjalan pelan mendekati kaki suaminya itu berjongkok melepas sepatu dan kaos kakinya.


Sementara Bram sebenarnya sudah bangun tetapi pura-pura tidur, padahal bibirnya tersenyum tanpa Dewi tahu. Hati Bram membuncah ternyata Dewi perhatian kepadanya.


Dewi membawa sepatu meletakan didekat pintu sebelum akhirnya kembali ke tempat tidur.


"Hai... bangun..." Begitulah cara Dewi membangunkan Bram tanpa menyebut embel-embel nama atau apapun. Tidak hanya sampai di situ, Dewi pun menjaga jarak.

__ADS_1


"Cek" Dewi berdecak lalu mendekat. "Hai, bangun! Susah amat dibangunin apa jangan-jangan kamu sudah ma..." Dewi tidak melanjutkan ucapanya.


"Oh tidak-tidak, biar pria ini mafia yang bengis dan kejam tetapi bapakmu sayang..." Dewi mengelus perutnya.


"Kamu nyumpahin aku mati?" Bram manahan tawa melihat Dewi mengusap perutnya, ia tahu Dewi akan berkata mati tetapi meralat.


Dewi terkejut, sejurus kemudian menatap wajah Bram yang sedang senyum-senyum kepadanya.


"Hait mana mafia?" Bram tidak tahan mendengar gumaman istrinya lalu menarik pelan tubuh Dewi mendudukan ke pengakuannya.


"Aagghhh... lepas!" Dewi hendak turun, tetapi Bram justeru menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Kali ini badan Dewi menindih tubuh suaminya, lalu Bram merangkul pinggang Dewi.


"Awas... kasihan Dedek ih!" Dewi merosot ke samping setelah berhasil, Bram mengunci pinggang Dewi dengan satu kaki dan tanganya merangkul pinggang istrinya hingga tidak bisa berkutik.


"Kamu bicara apa tadi? Aku mafia kejam?" Bram menatap lekat mata Dewi. Dewi menghindari tatapan Bram menoleh ke samping.


"Kamu nggak terima, saya bilang mafia yang kejam?!" Tandas Dewi.


"Buktinya apa kalau aku mafia?" Bram pura-pura kesal padahal dalam hatinya tersenyum, karena Dewi tiba-tiba miring menghadapnya.


"Kamu nggak ingat waktu di Jakarta, memberi aku pistol." Dewi selama ini berpikir jika Bram itu seorang mafia.


"Kamu ini ada-ada saja honey... aku memang punya pistol, tetapi punya surat ijin kok. Pistol itu aku buat jaga-jaga jika ada orang jahat," Bram menceritakan memberi pistol kepada Dewi, karena ia tidak rela jika Dewi diganggu pria lain. Walaupun sudah menitip pesan kepada Arin, pemilik rumah maksiat itu, tetapi Bram sama sekali tidak percaya.


"Bagaimana? Kamu masih nggak percaya?" Bram bergeser hingga dadanya menempel ke dada Dewi.


"Iya! Iya... percaya, sekarang lepas, nggak bisa napas akunya." Dewi menyingkirkan tangan Bram. Namun, menyingkirkan tangan Bram dari perutnya sama saja menggeser batu kali yang besar bagi Dewi.


"Kamu kenapa takut sekali honey... aku ini suami kamu," Bram menyusupkan wajahnya ke dada Dewi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2