Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 33


__ADS_3

Bram memerintahkan Zaidan agar diantar ke rumah. Ia kesal, kenapa juga Ami mengajak Dewi ke rumah almarhum papa. Bram sengaja mengajak Dewi tinggal di apartemen sederhana. Maksud Bram agar Dewi tinggal dengan tenang tidak diganggu oleh Felicia. Selain itu Bram juga ingin mendekati Dewi tanpa ada gangguan.


"Tambah kecepatan Zai." Tukas Bramanstya, ia khawatir akan terjadi apa-apa dengan Dewi. Satu persoalan belum selesai, kini sudah ada persoalan yang baru.


"Baik Tuan." Zaidan mempercepat laju kendaraan.


*****************


Di rumah Bram, Dewi meninggalkan Felicia di dalam kamar. Digandeng Ami, mereka menuruni lift ke lantai satu.


"Ayo Non, kita pulang." Setelah ambil tas di dapur, Ami hendak membuka pintu, namun kuncinya tidak menggantung disana.


"Bentar ya Non, mungkin kuncinya disimpan Elly." Kata Ami, ia kembali ke dapur meninggalkanDewi. Dengan perasaan takut jika Felicia mengejar, Dewi hanya mengangguk.


"Hahaha... kamu pikir bisa semudah itu keluar?!" Felicia tersenyum licik, mengiming-iming kunci di tangan dengan cara menggerak-gerakan.


"Apa mau Anda?" Dewi tidak habis pikir, ia merasa tidak punya salah tetapi wanita di depanya memusuhi.


"Tinggalkan Bram! Jika tidak, hidupmu tidak akan tenang." Felicia melempar tatapan sengit, setelah suaminya meninggal Felicia berharap bisa kembali menjalin kasih dengan Bram, tetapi harapan tinggal harapan. Nyatanya Bram menikah dengan gadis yang berada di depanya.


"Kakak... jika Kakak sudah menikah dengan Ayah Bramanstya, itu artinya... Kakak tidak boleh menikah dengan Bram." Dewi mencoba berbicara pelan dengan keyakinannya. Namun, tentu tidak berlaku untuk orang seperti Felicia.


"Jangan sok tahu!" Sinis Felicia.


"Lalu untuk apa Kakak mengurung saya di rumah ini? Saya mau pulang Kak," Dewi merubah panggilan. Tidak bisa dengan kata-kata kasar mungkin dengan lembut Felicia bisa lebih baik, itulah yang Dewi pikirkan.


"Baiklah, jika kamu ingin pulang, kamu harus mengepel seluruh lantai rumah ini sampai bersih!" Perintah Felicia melipat tangan di dada.


Dewi terkesiap memutar bola matanya ke seluruh luas rumah. Mana kuat ia mengerjakan ini, padahal jika di Surabaya bisa jadi empat rumah. Lalu bagaimana bisa melakukannya, Dewi tentu keberatan.


"Jangan Non Felicia, Non Dewi sedang hamil, jika Tuan Bramanstya tahu, Non Felicia akan kena masalah." Kata Ami keluar dari dapur bersama Elly.

__ADS_1


"Tidak bisa! Tidak ada urusanya dengan Bram, karena wanita ini sudah berani datang ke rumah saya, itu artinya wanita ini harus menjadi budak saya." Hardik Felicia. Padahal bukan karena itu alasan Felicia memusuhi Dewi, melainkan iri karena Dewi telah menjadi istri Bramanstya.


"Bukan salah Dewi Non, karena saya yang mengajak Non Dewi kesini." Kilah Ami. Keributan di ruang tamu itu pun terus terjadi. Lebih tepatnya Ami dan Felicia.


Sementara Dewi cari aman lebih baik diam mendengarkan saja. Dewi takut jika menjawab bayi dalam kandungannya akan menjadi taruhanya. Sebab, baru mengenal sebentar saja, Dewi sudah menangkap kekejaman dari wajah Felicia.


Rupanya Felicia tergolong wanita yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau.


"Baiklah, saya bersama Elly yang akan mengepel Non," Jawab Ami, tentu tidak akan membiarkan Dewi menuruti perintah Felicia. Padahal di rumah ini sudah ada dua art yang bagian bersih-bersih termasuk Elly.


"Tidak bisa!" Felicia menahan lengan Aminah.


"Elly, jika kamu sampai membantu wanita ini kamu akan saya pecat!" Ancam Felicia.


Tidak ada pilihan lain bagi Dewi, selain mengikuti perintah Felicia. Dewi minta ditunjukkan perlengkapan mengepel oleh Elly. Sementara Ami menyandak tas Dewi di atas meja segera masuk ke kamar menghubungi Bram.


"Disini ruang perlengkapan mengepel Non?" Tunjuk Elly, ketika tiba di belakang dapur.


Dewi tidak mau banyak bicara, ambil perlengkapan mengepel ember dan juga yang lain. Ia ingin cepat selesai dan diizinkan pulang.


"Bukan begitu caranya!" Bentak Felicia, ketika Dewi baru mulai menggerakan kain pel.


"Pakai tangan ngepelnya tidak boleh pakai yang ini!" Felicia memerintahkan agar Dewi ngepel dengan posisi jongkok.


Dewi tidak mau membantah mengembalikan pel bergagang ke belakang lalu ambil kain sperti handuk, tidak lama kemudian kembali.


"Yang bersih!" Perintah Felicia yang sedang duduk di sofa mengamati Dewi dengan angkuh.


"Biar saya saja Non" Ami tidak tega, ketika Dewi merangkak mundur dengan lutut.


"Berani membantu! Awas!"

__ADS_1


Braakk!!


Kaki kekar menendang Ember higga melayang membentur tembok, air pun membanjiri ruang tamu. Dia adalah Bramanstya segera membungkuk mengangkat kedua sisi ketiak Dewi membantunya berdiri.


Ia rangkul pundak Dewi berdiri di depan Felicia, menatap nyalang wanita yang paling ia benci itu. Dengan amarah yang berkobar ia maju membawa pecahan ember hendak memukul Felicia.


"Jangaaan...!!!" Pekik Dewi. Sementara semua orang yang berada di tempat itu hanya menatap ngeri.


Brak!


Bram melempar ember hingga membentur sofa dimana Felicia duduk menciut "Berani mengganggu Dewi sekali lagi! Gw bunuh loe!" Bentak Bram. "Sudah bagus gw nggak menendang loe keluar dari rumah ini, itu karena gw masih menghormati almarhum Papa." Mata Bram penuh dendam.


"Loe pikir siapa loe?! Berani bertindak semaunya di rumah ini?! Karena sudah berani macam-macam tunggu saja loe akan kehilangan semuanya dan hidup di jalanan menjadi gelandangan!" Ancam Bram tidak main-main.


Bram marah, padahal Felicia sudah diberikan banyak fasilitas di rumah itu, makan tinggal makan, art sampai empat tetapi justru ngelunjak.


Tidak ada sepatah katapun dari mulut Felicia, hanya bisa memandangi tangan Bram yang bertengger di pundak Dewi. Iri, itu yang Felicia rasakan saat ini.


Sementara Bram menggandeng Dewi keluar dari rumah di ikuti Ami. Ketiga asisten rumah itu hanya berjejer menjadi penonton.


"Kenapa kalian Diam semua! Cepat bersihkan lantai ini!" Bentak Felicia menatap horor art satu persatu.


"Baik Non" Elly dan satu rekanya yang memang bertugas membersihkan lantai bergerak maju ambil peralatan.


Sementara Felicia dengan hati gondok beranjak dari duduknya hendak ke kamar ia akan menyusun langkah selanjutnya, bagaimana agar bisa meluluhkan hati Bran. Ia menghentakkan kaki penuh penyesalan, mengapa dulu harus meninggalkan Bram demi si tua bangka. Felicia tidak menyadari jika alas kakinya menginjak genangan air.


Sreeettt... braaakk!


"Aow"


"Nona"

__ADS_1


Tiga asistem mendekati Felicia yang jatuh terlentang di lantai.


...~Bersambung~...


__ADS_2