Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 23


__ADS_3

Dewi membuka pintu melihat siapa yang baru saja masuk, tetapi di luar kamar sepi. Ia tutup pintu kembali, lalu membuka mukena melipatnya dengan rapi.


"Bu, ini mukenanya, terimakasih ya." Ucap Dewi memberikan lipatan mukena pada Ami yang sedang menonton televisi.


"Pakai saja, nanti sekalian shalat ashar." Jawab Ami karena ia sudah shalat.


"Bu, di sekitar sini ada yang membutuhkan pekerjaan tidak?" Pertanyaan Dewi, mengejutkan Ami. Ami menatap Dewi lekat, istri tuan Bramanstya tetapi menanyakan pekerjaan rasanya tidak masuk akal. Sebab Bram bicara kepada Ami jika Dewi itu istrinya. Tentu Ami bertanya-tanya.


"Non Dewi ada-ada saja, nggak bakal diperbolehkan sama Tuan, jika Non bekerja." Bibi geleng-geleng kepala.


"Nggak boleh? kenapa memang. Nggak dibolehin ya nekat lah Bu" Jawab Dewi enteng. Apa salahnya jika bekerja, kalau hanya di rumah terus-terusan Dewi merasa di penjara. Lagi pula apa urusannya Bram mengatur-atur.


"Non, saran saya sih, tidak usah kerja, saya disini itu diutus Tuan menjaga Non. Masa Non mau kerja," Bibi memelas.


Dewi hanya diam, mungkin saat ini harus mengalah dulu, tetapi cepat atau lambat ia akan mencari kerja.


"Bu, aku boleh pinjam uang nggak?" Tanya Dewi mengganti topik obrolan. Sebernarnya Dewi malu mengatakan ini, tetapi Dewi sama sekali tidak mempunyai pegangan uang. Dewi duduk di lantai berhadapan dengan Ami.


"Buat apa Non?" Ami lebih terkejut lagi. Tadi mau mencari kerja, lantas sekarang lebih parah lagi mau pinjam uang.


"Buat pegangan saja Bu." Dewi menunduk.


"Oh, kalau hanya untuk pegangan, nanti aku kasih saja," Jawab Ami, merasa ada yang aneh dengan Dewi dan Bram. Mana ada suami konglomerat tetapi istrinya melarat.


"Non, duduknya di atas saja," Ami mengait lengan Dewi merasa tidak pantas jika Dewi duduk di bawah bersamanya.


"Bu, memang kenapa kalau aku duduk di bawah? Terus Ibu jangan panggil saya Non, panggil saja Dewi." Dewi sudah sejak tadi pagi hendak mengingatkan Ami agar jangan memanggilnya Nona.


Dewi dan Ami tidak tahu jika obrolan mereka di dengar oleh Bram. Bram awalnya hendak keluar tetapi begitu mendengar obrolan dari pintu yang di buka sedikit akhirnya mendengarkan. Setelah tidak ada obrolan, Bram membuka pintu lebar-lebar menghampiri mereka.


"Bi, tinggalkan kami berdua ya." Titah Bramanstya. Pria itu sudah mengganti kemeja dan jas nya dengan kaos dan celana jins.

__ADS_1


"Baik Tuan," Ami pun akhirnya ke kamar. Sementara Dewi hendak menyusul tetapi tangannya di tahan Bram.


"Lepas!" Dewi mendelik. Menarik-narik tanganya, namun tangan Bram lebih kuat.


"Honey... tolong dengarkan aku, aku memang salah, aku minta maaf. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki. Tak kenal maka tak sayang, honey... jika kamu saat ini belum menerima aku menjadi suami kamu, setidaknya jadikan aku temanmu" Tutur Bram, menatap wajah Dewi yang hanya terlihat dari samping, karena Dewi memalingkan wajah.


"Saya mau pulang!" Ketus Dewi lalu ia hempas tangan Bram.


"Jangan khawatir nanti kita pulang ke Indonesia, jika keadaan disana sudah lebih tenang. Kamu tidak mau kan, menjadi bulan-bulanan mereka." Bram berkata lembut.


"Ini semua gara-gara Anda!" Dewi hendak ke kamar, tetapi Bram menghalangi langkahnya.


"Minggir!" Bentak Dewi, menatap nyalang pria di depanya.


"Seettt... jangan teriak-teriak nanti Bibi mendengar. Sekarang kita jalan yuk, supaya kamu tahu lingkungan sekitar sini." Bram membujuk Dewi seperti anak kecil.


Dewi diam berpikir mungkin saat ini lebih baik menurut. Dengan tahu lingkungan sekitar akan memudahkan Dewi untuk mencari kerja nantinya. Dewi pun akhirnya ke kamar.


"Honey..." Lagi-lagi Bram mencegah.


Bram mengulum senyum, menatap Dewi yang sedang menutup pintu lalu terdengar ceklak-ceklak dikunci. Pria itu lalu menunggu di sofa hingga 10 menit, Dewi sudah kembali keluar.


Bram menoleh cepat, bibirnya tersungging, menatap Dewi mengenakan pakaian lengan panjang yang Bram belikan. Bram sengaja membeli pakaian yang panjang-panjang, kerena mendengar laporan dari orang suruhannya, bahwa Dewi jika kerja mengenakan pakaian seperti itu.


Bram rupanya tahu tentang Dewi hingga sekecil-kecilnya melalui anak buahnya. Selama Bram di negara B memerintahkan anak buahnya memantau kemanapun Dewi pergi.


"Ayo" Bram membiarkan Dewi berjalan lebih dulu, lalu mengikuti. Dewi ngibrit tanpa menoleh, tidak menganggab bahwa di belakangnnya ada orang.


"Zaidan" Sapa Dewi ketika sudah berada di dalam mobil. Tersenyum manis menatap Zaidan yang sedang menyalakan mobil. Tidak tahu jika pria di sebelahnya kesal, melihat respon Dewi kepada Zaidan berbeda dengannya.


"Saya Non." Zaidan menjawab formal.

__ADS_1


"Zai, aku bukan Nona, tetapi namaku Dewi." Dewi memperkenalkan diri tanpa di minta.


"Jalan Zai!" Potong Bram, jiwa kepemimpinannya bereaksi. Tanpa menjawab Zaidan menjalankan kedaraan.


"Katanya mau jalan di sekitar apartemen, tapi kok sudah jauh nggak berhenti." Protes Dewi. Padahal dia ingin lihat toko-toko barang kali ada lowongan kerja. Dewi sebenarnya bukan tidak punya tabungan. Pemberian Banuwati dan Ratri semua ia masukan ke tabungan tetapi Atm dan ktp semua di Indonesia.


"Santai saja nanti juga sampai." Jawab Bram melirik wajah Dewi yang hanya datar saja. Tidak lama kemudian tiba di salah satu pusat perbelanjaan. Lagi-lagi Dewi terkesiap, kini ia seperti mimpi bisa datang ke tempat tersebut dan ternyata di mall ini banyak wisatawan dari Indonesia yang memborong barang bermerek tetapi diskon besar-besaran.


"Kamu mau apa, pilih saja," Kata Bram setelah di dalam mall. Bram mengajak Dewi ke toko perlengkapan shalat. Mendengar Dewi meminjam mukena lalu Bramanstya bermaksud membelikan barang tersebut.


"Kamu belum punya mukena kan?" Tanya Bram.


"Anda nguping obrolan saya sama Bu Ami," Sungut Dewi.


"Ngga sengaja" Bram terlekeh. "Kamu pilih saja, tiga atau empat boleh kok," Tulus Bram.


"Jangan sombong!" Ketus Dewi sambil memilih-milih melihat brandrol yang sedang diskon.


"Yang ini bagus." Bram memberikan mukena bermerek dengan harga cukup mahal.


"Jangan yang ini mahal sekali, saya beli mukena ini pinjam sama kamu. Kalau saya sudah kamu antar pulang ke Indonesia nanti saya kembalikan." Tegas Dewi.


"Hahaha..." Bram tertawa, hingga menjadi pusat perhatian para pembeli yang lain.


"Anda meledek atau sedang mencari perhatian cewek cewek, terus janjian di hotel nanti malam!"


"Hup" Bibir Dewi di tutup dengan telapak tangan Bram.


"Auw" Telapak tangan Bram digigit Dewi, seketika Dewi melepasnya. Tanpa sungkan Bram menjilat telapak tangannya bekas gigitan Dewi.


"Dasar jorok!" Dewi melengos, kembali memilih mukena.

__ADS_1


"Ludah kamu itu manis makanya aku jilat," Bisik Bram di telinga Dewi. Dewi terkesiap lalu menjauhkan kepalanya dari Bram.


...~Bersambung~...


__ADS_2