Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 47


__ADS_3

Di apartemen tepatnya di Jakarta, seorang pria sedang marah besar masih memandangi foto. Pengirim foto ini adalah Felicia, itu artinya wanita itu bisa masuk ke apartemen.


"Kurangajar, kemana para penjaga?" Bram bergumam sembari mencari nomor dua bodyguard yang ia suruh menjaga apartemennya.


"Maaf Tuan, kami dikalahkan oleh orang suruhan ibu tiri Anda." Terang bodyguard.


Tut!


Bram semakin kesal, bukan itu jawaban yang ingin ia dengar.


Ia menarik napas panjang tidak ada gunanya marah, toh tidak ada orang di tempat ini. Baram segera meninggalkan tempat tersebut setelah mengganti kemeja dengan pakaian santai, pria itu sudah siap kembali ke Amsterdam. Namun sebelumnya pamit om Hasan terlebih dahulu.


"Loh, kok mendadak sekali pulangnya Bram." Kata Hasan merasa curiga pasti ada apa-apa dengan keponakannya itu. Pasalnya rencana kembali ke Amsterdam masih lusa.


"Tidak apa-apa Om, sudah kangen dengan istri." Sahutnya mencoba untuk tersenyum.


"Kamu ini Bram... saya jadi penasaran, seperti apa istri kamu itu." Om Hasan geleng-geleng kepala, entah wanita seperti apa yang mampu membuat keponakannya itu tidak tenang selama di Jakarta.

__ADS_1


"Nanti juga bakal tahu, Om." Ucapnya sambil membuka permen lalu memasukkan ke dalam mulut.


"Kamu sekarang tidak merokok?" Inilah yang akan Hasan tanyakan sejak kemarin, pasalnya keponakannya ini sudah seminggu tidak terlihat menghisap rokok. Padahal biasanya jika sudah habis sebatang akan menyulut kembali hingga habis rokok satu bungkus.


"Nggak lagi Om, khawatir mengganggu pertumbuhan janin," Imbuh Bram. Sebenarnya jika dalam keadaan kesal seperti itu rokok adalah hiburan yang paling tepat baginya. Namun ia sudah berjanji kepada dirinya akan meninggalkan kebiasaan buruknya itu.


"Nah ini baru calon Ayah,"


Hasan menatap Bramanstya lekat baru menyadari jika banyak perubahan pada diri keponakannya itu. Kali ini tampak sumringah tidak pernah Hasan lihat sejak Anindya meninggal


Segala tindak tanduk Bram selalu Hasan perhatikan selama seminggu di Indonesia kali ini berbeda. Bram pulang dari kantor pun langsung ke apartemen. Tidak seperti dulu pulang kantor langsung pergi kadang pulang hingga pagi. Jika Hasan tanyakan 'kemana' Bram hanya menjawab 'Cari hiburan'


"Kamu jadi berangkat sekarang Bram?" Tanya istri om Hasan yang baru saja keluar.


"Iya Tan," Bram mendongak tersenyum kepada wanita yang belum dikaruniai anak hingga kini.


"Kira-kira kapan mau mengajak istrimu pulang?" Istri Hasan pun ingin segera berkenalan dengan Dewi.

__ADS_1


"Dalam waktu dekat Tan," Jawab Bram, diseruputnya air teh hangat sedikit lalu menggigit kue khas Jakarta yang disuguhkan tante.


Setelah menikmati teh dan kudapan, Bram pun beranjak pergi bersama supir yang mengantar ke bandara.


Enam belas jam kemudian, taksi yang ditumpangi Bram dari bandara menuju apartemen miliknya. Pria itu terlihat lelah sekali. Wajar, semalaman di pesawat tidak bisa tidur, karena banyak hal yang ia pikirkan.


"Apa saja yang kalian kerjakan?!" Hardik Bram kala tiba di lantai bawah apartemen menemui anak buahnya yang ia beri amanat untuk menjaga istrinya. Namun, nyatanya Felicia bisa lolos, itu artinya dua pria berbadan tinggi dan besar itu tidak bisa bekerja.


"Maafkan kami Tuan, orang suruhan Felicia main curang menggunakan senjata," Papar pria dalam keadaan wajahnya bonyok-bonyok.


"Kalian segera berobat." Pada akhirnya Bram tidak tega melihat dua bodyguard yang sudah terluka parah tetapi masih memaksakan diri untuk bekerja.


"Terimakasih Tuan."


Bram meninggalkan pria itu setelah memberikan uang untuk berobat, kemudian menuju apartemen miliknya.


Tuling lung.. Tuling lung.

__ADS_1


Bram segera menekan bel.


...~Bersambung~...


__ADS_2