Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 32


__ADS_3

Dengan tidak punya perasaan Felicia mengatai Dewi yang tidak baik, tetapi Dewi tidak perduli, memilih turun dari ranjang. Lebih baik menyingkir dari wanita yang tidak tahu malu mengumbar aibnya sendiri membeberkan saat-saat berhubungan badan dengan Bram.


Felicia tidak tahu bahwa Dewi sudah mengetahui semua tentang Bram, kecuali satu. Yaitu tentang masalalu Bram dengan Felicia.


"Heh! Tunggu dulu!" Felicia menghadang langkah Dewi. Rupanya karena Dewi tidak terpancing dengan ucapanya maka Felicia semakin geram.


"Permisi, saya mau pulang, jika Anda hanya akan memamerkan hubungan terlarang Anda dengan Bram, bagi saya itu masa lalu Anda dengan Bram. Anda perlu tahu siapapun Bram dulu saya tidak perduli. Yang jelas, Bram saat ini sudah mencintai saya dan menjadi suami saya,"


"Kurangngajar!" Potong Felicia mendengar ucapan Dewi, Felicia marah besar. Tanganya diangkat hendak menampar Dewi.


"Non Dewi..." Panggil Ami dari luar karena pintu tidak ditutup, Felicia menurunkan tangannya.


"Non Dewi tidak apa-apa..." Ami masih terengah-engah, rupanya ia jalan terburu-buru hawatir terjadi sesuatu dengan nona nya.


************


Tidak seorang pun manusia yang menginginkan sakit. Sakit adalah kondisi yang harus dihindari, seperti yang dipikirkan pria ini. Selama ini Bram selalu santai menjalani hidupnya, karena memang tidak pernah merasakan apa itu sakit. Namun kecurigaan Dewi akan penyakit yang ia derita setelah bangun tidur tadi pagi adalah cambuk baginya.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit perasaannya tidak karuan, jika benar ia menderita penyakit mematikan itu. Sudah pasti ia akan kehilangan Dewi untuk selama-lamanya.


"Tidaaakkk...."


Ciiittt...


"Ada apa Tuan... Tuan bermimpi?" Zaidan mengerem mendadak, menoleh ke belakang dimana Bram duduk. Supir Bram itu hendak turun melihat keadaan Bram. Namun, Bram menggerakan tangan tanda penolakan


"Lanjutkan perjalanan Zay." Titahnya dengan mata terpejam.


"Baik Tuan." Zaidan kembali menyandak stir yang masih dalam keadaan menyala lalu melanjutkan perjalanan.


Bram menumpu dagu, sesal memang selalu di belakang. Jika yang dikatakan Dewi benar-benar terjadi, bayangan hidupnya ke depan sudah tergambar curam.

__ADS_1


"Sudah sampai Tuan." Zaidan menyadarkan lamunan Bram. Tiba-tiba pintu mobil sudah terbuka, lalu kaki jenjangnya memijak pelataran rumah sakit ternama di kota Amsterdam. Dengan perasaan kacau Bram menuju ruang periksa yang sudah dikirimkan anak buahnya lewat internet.


Bram memangku satu kaki di ruang tunggu, menunggu dipanggil, karena orang suruhannya sudah mengurus semua.


"Raxel Andro Bramanstya." Panggil petugas setelah Bram menunggu hingga beberapa menit kemudian. Kini ia bangkit masuk ruangan, netranya menangkap dokter Albert sudah menunggu.


"Selamat pagi..." Sapa dokter Albert, dokter spesialis penyakit mematikan tersebut.


"Selamat pagi Dok." Bram menyambut uluran tangan Albert kemudian melungguhkan bokongnya.


Albert menanyakan permasalahan yang dihadapi Bram. Tanpa malu dan ragu, Bram menuturkan dengan lugas bagaimana kehidupannya di masa lalu. Albert mengangguk tanpa memotong ucapan Bram. Dokter itu tidak heran jika ada masalah seperti ini sudah tidak jarang ia hadapi. Mengingat maraknya pros ti tusi di negara ini. Bukan seperti di Indonesia.


Bram pun menjalankan rangkaian pemeriksaan, namun masih menahan perasaan ketar ketir, lantaran masih menunggu hasilnya sore nanti.


"Permisi Dok." Bram pun meninggalkan tempat itu.


"Hai Bram." Sapa pria ketika Bram tiba di lobby.


"Kenapa istrimu?" Jamal pikir Dewi mengalami sesuatu dengan kandungannya.


"Alhanduliah, istri saya sehat tetapi bukan Dewi yang periksa, melainkan aku sendiri." Bram tampak tidak bersemangat.


"Kita ngobrol yok." Jamal bermaksud menghibur sahabatnya. Sekedar minum kopi dan ingin menanyakan ada apa.


"Memang kamu nggak lagi piket?" Bram tentu tidak mau mengganggu tugas sahabatnya, sebagai dokter tentu Jamal mempunyai segudang aktivitas.


"Nggak kok, aku piket malam." Jawab Jamal. Dua mobil mewah menuju salah satu Cafe setelah mereka sepakat nongkrong pagi.


"Bram, aku heran, istri kamu kok mau sih sama pria yang sudah meninggalkan botolnya kemana-mana seperti kamu? Haha." Kelakar Jamal, kerena Bram sudah bukan rahasia lagi bagi Jamal. Begitu melihat Dewi ketika periksa kemarin, Jamal tahu bahwa istri Bram bukan wanita sembarang wanita.


Bram tersenyum kecut, lalu menyeruput latte yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Apa sudah berakhir petualangan botolmu dan akan menjadikan istrimu sebagai pelabuhan terakhir?" Kali ini Jamal sungguh-sungguh.


"InsyaAllah Mal, doakan saja istriku mau memaafkan aku." Lirih Bram.


"Memaafkan? Jadi... istrimu itu masih membenci kamu?" Cecar Jamal.


Tanpa ada yang ditutup-tutupi Bram menceritakan awal pertemuannya dengan Dewi. Dewi ternyata mampu mengistirahatkan petualangan botolnya yang selalu mencari kepuasan sedetik.


"Hebat istri kamu itu Bram, kalau ada stok wanita sepertinya lagi, aku mau." Jamal terkekeh.


"Lalu tujuan kamu ke rumah sakit tadi apa Bram?" Jamal melanjutkan obrolan yang tertunda ketika di rumah sakit.


Bram meneguk kopi latte sedikit lalu meletakan kembali. "Aku bingung Mal, kamu kan tahu seperti apa aku dulu. Istri aku minta agar aku memeriksakan diri." Bram bercerita panjang lebar mengenai permintaan Dewi. Selama ini ia tidak pernah curhat kepada siapa pun kecuali dengan Jamal.


"Permintaan istrimu itu suatu pertanda bahwa Dia akan memulai hidup serius bersama kamu Bram. Menurut pemikiran aku dengan suatu sarat kamu benar-benar sehat," Tutur Jamal.


"Itu yang aku pikirkan saat ini Mal, masalahnya jika hasilnya nanti positif, aku akan kehilangan semuanya." Bram nenarik napas berat.


"Sudah... berpikir positif saja Bram, semoga kamu sehat dan kamu benar-benar bertaubat. Semoga kamu bisa hidup rukun dengan Dewi,"


Derrttt... deeerrrtt...


Saat sedang serius bicara, handphone Bram ada panggilan masuk. Bram segera meneliti layar bertuliskan 'Honey' Wajah Bram berseri lalu mengangkat telepon dengan antusias. Karena Dewi sudah mau menghubungi dirinya.


Namun wajah Bram kembali muram karena yang telepon adalah Ami, mengatakan bahwa saat ini Dewi sedang ada masalah dengan Felicia.


"Kenapa kamu mengajak Dewi kesana Bi?!" Seru Bram, seketika mematikan sambungan telepon.


"Aku duluan Mal." Ujarnya sambil berlalu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2