Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 69


__ADS_3

Begitu turun dari motor pandangan mata Dewi mengarah kepada Bram yang sedang menatap sinis Firmansyah. Suaminya itu melipat tangan di dada. Kilat marah Bram siap ia ledakan kepada Firman yang masih berdiri di samping motor.


Dewi merasa ngeri karena Bram seperti harimau yang siap menerkam mangsanya . Selama menjadi istri Bram, Dewi melihat Bram murka dua kali. Yang pertama, ketika marah kepada almarhum Felicia, dan kedua kalinya sekarang.


Dewi memberanikan diri berjalan mendekati suaminya. "Mas..." Ucapnya, ia ambil telapak tangan suaminya yang masih di dada itu hendak mencium seperti yang Dewi lakukan setiap kali Bram pulang kerja. Namun, tangannya ditepis kasar oleh Bram. Hati Dewi merasa sakit karenanya.


"Mas..." Dewi mendongak menatap wajah suaminya, tidak percaya jika Bram akan bersikap seperti itu kepadanya.


"Masuk!" Tandas Bram menggerakan kepalanya ke arah Dewi, seperti kepada musuh saja. Dewi meneteskan air mata, memilih masuk ke dalam. Hatinya merasa sakit sekali dibentak seperti itu. Tidak biasa, itulah penyebabnya.


"Sudah pulang Non?" Bi Ami menyambut kedatangan Dewi. Namun, Dewi hanya mengangguk menyembunyikan kesedihan hatinya melewati Ami begitu saja.


Ami awalnya ingin menanyakan keadaan Calvin, tetapi melihat Dewi tidak baik-baik saja, Ami mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa memandangi Dewi yang sudah masuk ke kamar hingga pintu tertutup.


"Kenapa ya?" Gumam Ami. Ia mengira Dewi menangis karena terjadi sesuatu dengan Calvin. Namun, Ami menepis pikiran nya sendiri, kembali ke dapur menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Sementara Dewi menidurkan Calvin di box, lalu merosot bersandar di tembok. Air matanya mengalir deras. Mengapa Bram tidak menanyakan dulu kenapa dia berboncengan dengan Firman, hanya mengedepankan emosi saja.


Andai saja Bram tahu jika Firman sampai repot-repot membantunya karena demi anaknya. Dewi bingung, kenapa selama ini Bram tidak mau berdamai dengan Firmansyah, padahal Dewi sudah tidak ada rasa sedikit pun dengan mantan pacar nya itu.


Hingga beberapa saat Dewi merenung, kemudian mengusap air mata nya. Dewi beranjak menuju jendela mengintip keadaan di luar ingin tahu apa yang dua orang pria itu lakukan. Dewi takut jika mereka bertengkar seperti dulu.


Dugaanya tidak salah, mata Dewi melebar kala melihat pergerakan Bram dan Firman di bawah cahaya lampu. Dua orang itu tengah saling tendang dan adu jotos.


Dewi segera berjalan cepat membuka pintu, keluar dari kamar Calvin yang sudah pulas karena minum obat.


Tiba di teras rumah, tangis Dewi pecah kala suaminya menghajar Firman habis-habisan. Dengan perasaan kecewa yang dalam, Dewi segera keluar pagar.


"Zaidan! Kenapa kamu diam saja!" Bentak Dewi karena Zaidan yang melihat kejadian perkelahian itu tidak mau melerai justru berdiri mematung. Sebenarnya Zaidan ingin melerai tetapi takut kepada Bram.


"Cepat bangunkan Firman! Kenapa kamu diam saja?!" Dewi merasa kecewa dengan tiga pria itu.

__ADS_1


"Saya Non," Zaidan mendekati Firman, ia tahu apa yang Dewi maksud lalu membantu Firman bangun. Dewi sedih dan kecewa dengan suaminya kala melihat tubuh Firmansyah sudah tak berdaya tetapi masih dihajar.


"Antarkan Dia pulang Zai!" Perintahnya lagi.


"Saya Non," Zaidan membantu Firman berdiri lalu dipapah berjalan menuju motor. Zaidan menyalakan motor Firman dengan kunci yang masih menggantung.


"Naik Kak, pelan-pelan," Ujar Zaidan sambil membantu Firman naik, lalu mengendarai motor milik Firman meninggalkan pasutri yang sedang dalam keadaan hati panas.


Dewi pun meniggalkan Bram, kali ini tidak perduli dengan wajah bonyok suaminya. Siapa yang menyuruh membuat penyakit sendiri.


"Kenapa kamu membela pria itu?!" Bram pun menyusul, menghentikan langkah Dewi yang hendak ke kamar mandi karena sudah menahan sejak di rumah sakit.


Dewi balik badan. "Aku kecewa sama kamu Mas!" Sungut Dewi menahan tangis. "Aku tidak menyangka, orang berkelas sepertimu tetapi kelakuanya seperti preman kampungan!" Ucapnya dengan nada tinggi.


"Seharusnya aku yang kecewa sama kamu Wi! Ternyata begini kelakuan kalian setiap aku pulang malam!" Tuduh Bram.

__ADS_1


.


.


__ADS_2