Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 24


__ADS_3

Tidak mau dibantah, Bram Ambil tiga mukena dengan harga yang tidak murah, dan juga beberapa hijab. Padahal Dewi hanya berniat ambil satu tetapi tidak tanggung-tanggung Bram ambil 10 kerudung berbagai model memasukan ke dalam trolli. Walaupun Dewi menolak, toh tidak ada gunanya.


"Nanti bagaimana bayarnya kalau mahal begini?" Dewi hanya bisa terpaku menatap trolli.


"Nanti dibayar pakai kamu saja," Niat hati bergurau tetapi Bram di lempar jurus tatapan mata Dewi yang sedang mendelik.


"Mata kamu itu loh yang pertama kali membuat hatiku langsung jatuh cinta" Bram serius, tetapi Dewi melengos saja. Bram mendorong trolli, mengikuti Dewi yang sudah berjalan lebih dulu.


"Ayo aku tunjukkan sesuatu." Bram belok kanan menuju toko boneka tidak mau bertanya lagi, ambil boneka Teddy Bear Love, berwarna pink memasukkan ke trolli.


Dewi menatap boneka seksama lalu beralih kepada Bram yang sedang merapikan trolli. Melihat boneka, Dewi ingat ketika masih bekerja di Jakarta menerima paket boneka seperti ini. Dewi berkesimpulan bahwa yang mengirimkan paket itu adalah Bramanstya.


"Hai... kamu naksir aku yang tampan ini ya." Bramanstya memergoki Dewi yang sedang memandangnya tetapi bukan karena naksir melainkan kaget, tidak menyangka jika pria ini yang selama ini menjadi pengirim paket misterius.


"Jangan gr! Kamu kan yang kirim boneka buat saya waktu itu?" Sambar Dewi.


"Tapi kamu suka nggak?" Tanya Bram sambil berlalu, kali ini menuju toko handphone.


Dewi diam di tempat, pantas saja barang-barang yang di kirimkan saat itu kata Ratri harganya mahal sekali, ternyata pria ini orangnya.


Merasa tidak ada yang mengikuti Bram kembali dimana Dewi masih melamun. "Honey..." Bram meniup pelipis Dewi membuat bulu kuduk Dewi merinding.


"Ayo... kenapa kamu malah diam disisi honey..." Bram merangkul pundak Dewi. Secepatnya Dewi menjauh.


"Jangan macam-macam!" Ancam Dewi.


"Oh tidak, hanya satu macam sayang... memeluk pundak istriku." Bram terkekeh lalu meninggalkan Dewi yang hanya menatapnya tidak suka.


Dewi pun akhirnya menyusul. "Jangan panggil saya istri, karena saya bukan istrimu. Jika bukan karena kamu! Saat ini aku sudah menjadi istri kesayangan Firmansyah. Pria yang menjunjung kehormatan aku, dan tahu bagaimana memperlakukan wanita yang di cintanya! Camkan itu!"


Deg.

__ADS_1


Dada Bramanstya terasa sesak mendengar ucapan Dewi. Kali ini dia tidak mampu untuk bicara lagi, hanya bisa memandangi Dewi yang sedang melipat tangan di perut. Bram pun akhirnya berjalan melewati Dewi ke toko handphone.


Sementara Dewi memandangi Bram dari belakang. "Kok tumben nggak nyahut" Dewi berguman lantas menghampiri Bram yang sedang memilih handphone. Etalase terasa bergerak, mengusik Bram lalu melirik Dewi di sampingnya rupanya perut Dewi menempel di atalase.


"Honey... jangan terlalu di tekan gitu perutnya, kasihan anak kita." Bram memegang pundak Dewi agar mundur.


Para penjaga konter tidak tahu apa yang dikatakan Bram, tentu bahasanya berbeda. Hanya menatap keduanya dan berkata dalam hati "Pasangan yang cocok"


"Sudah belum, sekarang kita pulang saja." Ajak Dewi. Dia sudah lelah berjalan, karena sudah menjelang ashar masih keliling-keliling perutnya terasa kencang.


"Ya sudah... sekarang kamu mau memilih handphone yang mana?" Bramanstya tahu jika Dewi tidak punya handphone.


"Handphone." Dewi terkejut, dan hanya di angguki oleh Bram. Bram minta kepada pelayanan agar di ambilkan handphone yang paling mahal.


"Nggak usah beli handphone untuk saya." Tolak Dewi.


"Belilah... bukannya kamu mau telepon ibu ke Surabaya." Bram mengingatkan. Dewi menoleh cepat. Tidak menyangka jika pria ini memikirkan ibu di rumah. benar juga apa yang dikatakan Bram. Dengan handphone ia bisa segera tahu kabar bapak ibu.


"Ya sudah, tapi jangan yang mahal-mahal, yang 1 juta saja, yang penting bisa untuk wa sama telepon." Jutur Dewi.


"Kita ke Cafe dulu ya." Ajak Bram ini kesempatan baginya selagi Dewi tidak lagi marah-marah ingin berduaan lebih lama lagi.


"Belum shalat ini, lagian kakiku sudah terasa pegal." Rengek Dewi. Mungkin karena hamil jadi mudah lelah.


"Sebentar saja, nanti malam aku pijat refleksi" Terkekeh.


"Enak situ! Nggak enak di saya," Dewi cemberut. Kali ini mereka jalan bersebelahan menuju kasir, Bramanstya senyum-senyum tanpa Dewi sadari. Hanya berjalan bersebelahan saja rasa senangnya membuncah.


Tiba di kasir, Bram mengeluarkan kartu atm tampak sedang berbicara dengan kasir menggunakan bahasa asal tanpa Dewi mengerti. Setelah membayar, Bram menitipkan belanjaan kemudian mengajak Dewi ke Cafe.


Kali ini Dewi hanya mengikuti saja ketika Bram masuk ke dalam Cafe isinya orang-orang asli negara B. Badanya tinggi-tinggi, Bram yang sudah tinggi pun, masih kalah tinggi. Dewi merasa asing tetapi juga senang karena tidak menyangka dirinya bisa berada di tempat ini.

__ADS_1


"Sini duduk." Kata Bram.


Bram memesan minuman Koffie Verkeerd, minuman khas negara B non alkohol. Ia rupanya sudah siap menjadi bapak. Nyatanya sejak bertemu Dewi 4 bulan yang lalu meninggalkan minuman yang memabukan. Untuk Dewi, Bram memilih memesan susu tentu sehat untuk janin dan cemilan halal yang terbuat dari kentang sauce mayonnaise.


"Di makan Honey..." Bram menatap makanan dan minuman di depan Dewi hanya di angguri.


"Sore-sore gini, aku nggak biasa nyemil yang berat begini," Jawab Dewi. Memang Dewi senang nyemil yang garing-garing.


"Nanti di apartemen kamu nyemil yang kering-kering, tadi kan sudah beli."


Tanpa menjawab Dewi mencicipi makanan tersebut. Tetapi begitu mencoba mungkin terasa enak, nyatanya Dewi makan dengan cepat. Bram tersenyum menatap Dewi.


"Ngapain senyum-senyum," Dewi malu sendiri karena makan dengan lahap.


"Kamu cantik." Bram terkekeh.


"Nggak punya receh!" Dewi merengut.


Mendengar kata receh, Bram ingat obrolan Dewi dengan Ami ketika hendak meminjam uang. Ia merogah dompet dan ambil kartu kecil tetapi isinya bisa untuk beli satu unit rumah di Indonesia.


"Ini buat kamu, kalau perlu apapun ambil saja, jangan pinjam sama Bibi," Bram meletakan kartu atm di meja depan Dewi.


"Anda senang sekali nguping." Protes Dewi, lalu menelisik tampilan atm.


"Saya nggak bisa terima, karena bukan siapa-siapa kamu," Dewi mengembalikan di depan Bram.


"Honey... jangan keras kepala kamu ini istriku."


"Bram..." Datang seorang wanita memotong ucapan Bram, tanpa permisi segera bergabung duduk di sebelah Bram.


Dewi menatap wanita kira-kira usianya sama dengan Bram itu tidak berkedip. Wajah cantik kulit putih kemerahan dan rambut ikal sepundak penampilannya seperti artis.

__ADS_1


"Ini siapa Bram?" Tanya Wanita itu dengan bahasa negara B, menatap Dewi dengan dahi berkerut. Dewi tidak tahu arti kata wanita itu. Lantas menunduk, tentu tahu dari tatapan mata wanita itu tidak menyukainya.


...~Bersambung~...


__ADS_2