Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 46


__ADS_3

Bel apartemen berbunyi, dengan langkah semangat yakin bahwa Prirus yang datang, Dewi bermaksud membuka pintu dengan perasaan berbunga-bunga.


Namun, sebelum tangan kecil itu menarik kenop, pintu lebih dulu ada yang mendorong dari luar. Dewi ingat setelah kepergian Ami, dengan sengaja tidak mengunci pintu karena di dalam apartemen hanya berdua saja. Walaupun Dewi percaya bahwa Zaidan pria baik.


"Ka-kamu." Kata Dewi terbata-bata, lantaran mata nyalang wanita menatap Dewi tidak bersahabat. Dewi berjalan mundur menabrak tubuh Zaidan, yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


"Ada apa Nyoya?" Tanya Zaidan sopan melangkah maju berhadapan dengan wanita itu, tentu melindungi Dewi, yang seperti anak kecil bersembunyi di belakang Zaidan.


"Minggir kamu Zaidan!" Dengan wajah murka Felicia mendekati Dewi. Namun, Zaidan menjadikan tubuhnya sebagai pagar, agar tangan Felicia tidak sampai menggapai nona mudanya.


"Hahaha... hebat-hebat! Kalian berdua pasangan serasi rupanya, ternyata begini kelakuan kalian jika tidak ada Bramanstya. Berselingkuh di belakangannya!" Tuduh Felicia, entah apa maksudnya membuat Dewi bingung.


"Anda salah sangka Nyonya." Jawab Zaidan membela diri. Sementara Dewi mematung di tempat, tenggorokan tercekat hendak membantah tuduhan Felicia.


Tidak Zaidan sangka secepat kilat Felicia melewati dirinya mendorong tubuh Dewi hingga sempoyongan menjaga keseimbangan agar jangan sampai jatuh.


Tidak banyak berpikir, Zaidan menyambar tubuh Dewi refleks merangkul nya.


Cekrak-Cekrak!


Felicia segera mengabadikan Dewi saat masih dalam rangkulan Zaidan dengan kamera cangih yang ia genggam. Bibir nya tersenyum licik, penuh rencana jahat.


Menyadari hal itu Dewi pun segera melepaskan Zaidan, kemudian masuk ke kamar. Menghindari Felicia tentu lebih baik, bayi dalam kandungannya itu yang Dewi pikirkan keselamatannya.


"Jangan Nyonya." Cegah Zaidan, saat Felicia mengejar Dewi ke kamar. Namun, belum sempat Dewi mengunci pintu, Felicia sudah menerobos masuk lebih dulu. Dengan cepat Felicia mengunci pintu dari dalam. Dua wanita berbeda usia 10 tahun itu hanya berdua di dalam kamar. Aura negatif memenuhi ruangan.


Felicia berjalan mendekati Dewi dengan senyuman palsu.

__ADS_1


"Apa yang Anda inginkan dari saya?" Tanya Dewi, agar lebih aman ia duduk di tengah ranjang melindungi perutnya dengan bantal.


Suara gedoran pintu dari luar bersamaan dengan suara Zaidan yang memanggil-manggil nama Dewi, menyahut pun percuma, karena kunci kamar dalam genggaman Felicia.


"Benar kamu mau menuruti perintah saya." Felicia menyeringai mondar mandir di pinggir tempat tidur. Namun pandangan matanya tidak lepas dari Dewi.


"Apa yang harus saya lakukan?" Dewi mengulangi pertanyaan.


"Serahkan atm yang Bram berikan untuk kamu! kepadaku. Jika tidak, foto dalam galeri ini akan saya kirimkan kepadanya dan kamu siap-siap saja akan diceraikan Bram," Felicia tersenyum licik.


"Dalam foto ini, sudah menjadi bukti bagi Bram bahwa kamu berselingkuh dengan Zaidan!" Ancam Felicia menunjukan foto yang sudah di zoom, hingga tampak jelas.


"Bramanstya tidak akan percaya karena pelukan itu memang bukan kami sengaja." Sanggah Dewi tidak merasa takut.


"Hahaha... percaya diri sekali kamu! Bram itu pria pecemburu tingkat Dewa, karena saya lebih dulu mengenal Bram bahkan sudah bertahun-tahun, sedangkan kamu?" Felicia memamerkan saat masih menjalin kasih dengan Bram dengan kata-kata palsu.


Dewi tidak terpancing dengan apa yang dikatakan Felicia.


"Saya tidak punya atm," Jawab Dewi tegas. Dewi memang belum mau menerima pemberian Bram hanya minta uang tunai untuk pegangan.


"Tidak mungkin!" Sanggah Felicia, membungkuk mendekatkan wajahnya ke depan wajah Dewi hingga dekat sekali, mata mereka saling bertemu. Jika Dewi menatapnya teduh, berbeda dengan Felicia. Mata wanita itu tampak menakutkan.


Dewi menunduk membetulkan posisi bantal dalam dekapan.


"Non... Non Dewi... buka pintunya" Panggil Ami dan Zaidan bersamaan.


"Ibuuuuuu..." Panggil Dewi. Lama-lama berdua dalam kamar dengan wanita kejam itu, Dewi merasa takut juga. Ini salahnya ketika Bram memberikan kartu atm tidak ia ambil. Jika Dewi punya uang, tentu memilih menyerahkan hartanya daripada bocah kecil dalam kandungan menjadi taruhanya.

__ADS_1


Dewi tidak menyangka bahwa wanita cantik di depanya tidak lebih dari seorang perampok.


"Ibuuuuuu..." Dewi mengulangi panggilan.


"Heh! Jangan teriak-teriak." Felicia menekan kedua ujung bibir Dewi hingga monyong ke depan.


"Sa-saya... benar-benar nggak punya apa-apa selain 10 euro ada di laci lemari itu." Jawab Dewi, dengan suara tidak jelas, lantaran tangan Felicia menekan mulut terlalu keras.


Felicia melepas mulut Dewi dengan kasar lalu mengacak-acak isi lemari Dewi, hingga baju-baju pun berserakan di lantai.


Braakk!


Bersamaan dengan itu pintu pun ambruk, rupanya Zaidan mendobraknya. Hanya berjalan lima langkah Zaidan sudah berada di ranjang diikuti Ami. Ami pun merengkuh tubuh Dewi yang sudah ketakutan.


"Ada apa lagi Nyonya?" Ami tidak habis pikir, melihat pakaian Dewi yang sudah berantakan di lantai.


"Mau tahu? Saya hanya ambil ini saja," Jawab Felicia menunjukan uang di tangan, kemudian pergi.


"Astagfirullah..." Dewi hanya bisa Istigfar menenggelamkan wajahnya di dada Ami.


Ami mengusap-usap bahu Dewi, agar tenang.


***********


Di Indonesia, Bram sedang santai di tempat tidur karena baru saja tiba dari kantor. Pria itu segera menyalakan handphone. Suara berisik bermunculan dari benda di tangannya. Sudah biasa dari grup mengirim foto yang aneh-aneh. Namun, ada yang lebih membuatnya terperangah kala pandanganya tertuju pada salah satu foto.


Bram segera mengecek penerbangan ke Amsterdam sore ini kemudian, memesan tiket.

__ADS_1


"Antar saya ke bandara." Perintahnya kepada anak buahnya berbicara melalui sambungan telepon.


...~Bersambung~...


__ADS_2