Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 80


__ADS_3

Doooorrr....


"Aaaggghhh... Mira! Kamu ngagetin, sih!" Seru Dewi, karena Mira menepuk pundaknya hingga terlonjak kaget. Dewi memang sedang termenung memikirkan pertemuannya dengan orang-orang terdekatnya. Tidak menyangka ternyata Bram memberi kejutan untuknya.


*Sekali kali ngeprank reader.


"Makanya Wi... jangan melamun." Mira tertawa, tapi kasihan menatap wajah Dewi nampak kaget dan cemberut.


Namun, wajah kesal Dewi berubah sumringah kala tatapanya beralih kepada pria yang berada di samping Mira. "Cieee... Cieee...," Dewi terkikik.


"Kalian jadian?" Tanya Dewi. Mira tersipu malu melirik pria di sebelahnya.


"Selamat ya Wi," Ucap pria itu, yang tak lain adalah Firmansyah. Rupanya pria itu mulai pindah kelain hati. Firman berjuang keras untuk mengubur cintanya kepada Dewi yang selama tiga tahun lebih, membuatnya gila.


"Terimakasih Mas Firman, semoga kalian cepat menyusul ya," Jawab Dewi. Membuat dua remaja yang sedang kasmaran itu saling pandang, mengaminkan kata Dewi.


Sementara Bram diam-diam merasa lega, kini tidak ada saingan lagi, menatap Firman berdua bersama Mira sedang berjalan ke arahnya.


"Kak Bram, saya minta maaf," Kata itu akhirnya keluar dari mulut Firman.


"Saya juga," Bram menyambut uluran tangan Firman, senyum lebar menghiasi keduanya. Firman pun akhirnya pamit pulang, walaupun Bram meminta Firman menginap di kediamannya. Namun, Firman menolak lantaran sudah menginap di hotel bersama Mira, tentu di kamar yang berbeda.


"Awas Mir, kalian belum halal loh," Kelakar Dewi. Lagi-lagi tangan Mira menggeplak tangan Dewi, sebelum akhirnya pergi bersama Firmansyah.

__ADS_1


Sore hari nya, waktu yang ditentukan hotel sudah habis, bersamaan dengan tamu undangan pun surut. Bram mengajak keluarga besar Dewi, tinggal di kediaman Om Hasan. Selama tiga hari di tempat itu, keluarga besar pun pulang ke Surabaya.


***********


Waktu berjalan begitu cepat, karena rumah tangga Bram dengan Dewi sangat manis. Hingga tidak terasa 4 tahun sudah usia pernikahan mereka. Ikatan cinta yang kuat dari Bram membuat Dewi merasa aman berada di sisinya.


Hari-harinya, Dewi lalui dengan tulus dan ikhlas, fokus mengurus anak dan suaminya. Bram sudah berkomitmen, dia satu-satunya pencari biaya untuk keluarga.


Begitulah kehidupan sultan seperti Bram, istri cukup berdandan cantik menyambut kedatangan suami ketika sore hari. Kendati demikian, uang mengalir seperti mata air. Tidak seperti yang mengangkat cerita ini, bukan mengeluh. Namun, harus tetap bersyukur karena Allah telah memberi kelebihan tenaga hingga menjadi strong woman.


"Mas... sudah apa, aku capek" Rengek Dewi, karena ini sudah yang kesekian kalinya. Ayam bangkok milik Bram, belum keok juga padahal sudah bertarung memecahkan rekor di ranjang empuk salah satu hotel mewah. Di kamar yang hanya mereka tiduri berdua, malam syahdu ini terdengar rintihan Dewi. Namun, bukan merasakan sakit melainkan rasa nikmat. Inilah saatnya mereka merayakan hari ulang tahun pernikahan yang ke empat.


"Sekali lagi sayang..." Bisik Bram ke telinga Dewi, ayah satu anak itu rupanya sedang kejar target agar Dewi segera memberi adik untuk Calvin. Lagi pula ia tidak akan melewatkan keheningan malam. Malam yang cocok untuk mereka memadu kasih.


Dua jam kemudian, dengan mata yang masih mengantuk, Dewi hendak ke kamar mandi. Mendengar dering handphone cepat-cepat mengenakan pakaian, lalu ambil handphone di atas meja. Sebelum mandi, Dewi mengangkat terlehih dahulu.


"Bunda... bunda balu bangun tidul ya?" Tanya Calvin, anak itu rupanya video call dibantu Ami.


"Iya sayang... bunda kesiangan," Jawab Dewi sambil berjalan ke tempat tidur.


"Yah... bunda kalah, Calvin sudah shalat dong, sama Ami," Calvin menepuk dadanya bangga.


"Hebat... anak bunda, gitu loh," Puji Dewi gemas.

__ADS_1


"Bunda... kok Ayah ndak pakai baju," Polos Calvin ketika tubuh Bram tertangkap kamera.


"Iya, Ayah tadi sudah mau mandi, tapi malah ketiduran lagi," Kilah Dewi tentu tidak mungkin jujur. "Sudah dulu ya sayang... bunda mau mandi, terus sholat, takut kesiangan. Selesai shalat kita video call lagi ya." Dewi menjelaskan.


"Iya bun... dada bunda..."


"Dada Calvin..."


Mas bangun" Kata Dewi sambil meletakan handphone kembali. Dewi tidak tahu jika Bram sudah bangun sejak tadi. Tanpa Dewi sangka Bram menyambar tubuhnya lalu melesat ke kamar mandi.


...~Tamat~...


"Assalamualaikum...


"Hanya sampai di sini kisah Dewi ya, terimakasih yang masih setia hingga bab 80. Semoga kalian tidak bosan membaca karya receh Buna." ❤❤


Mulai senin besok insyaAllah buna akan rilies cerita yang baru. Ini judulnya ya. 👇



.


.

__ADS_1


__ADS_2