Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 38


__ADS_3

Bram merebahkan tubuhnya di samping istrinya, ia cium ceruk leher Dewi yang harum membuat gairah cinta Bram semakin menggelora. Namun ciuman yang bertubi-buti bukan lantas membuat seonggok manusia yang sedang pulas itu terbangun.


"Yaah... kenapa nggak mau bangun sih..." Bram pun merasa prustasi, padahal senjata tombaknya sudah diasah hingga klimis dan mengkilat.


"Honey..." Bisik Bram serak di telinga Dewi.


"Peeesss..." Tanpa Bramanstya duga, Dewi menggerakan tubuhnya tetapi bukan terjaga, melainkan ambil posisi miring membelakangi suaminya mencari posisi nyaman.


"Ya ampuuunn... kentut lagi, bagusnya nggak bau." Bram tersenyum masam. Setelah terkena serangan bom angin Dewi. Tombak Bramanstya pun seketika kisut.


Tidak ada yang bisa Bram lakukan malam itu, selain memeluk tubuh Dewi dari belakang lalu mendengkur halus. Pria itu rupanya memang sudah hijrah, bukan lagi menjadi pria pemaksa seperti dulu.


Malam berganti pagi rupanya mereka bangun kesiangan padahal jam 6 pagi Bram harus berangkat ke bandara.


"Prirus... bangun... katanya mau berangkat pagi," Dewi menggerakan kaki Bram.


"Heeemmm..." Masih setengah bermimpi, Bram meraba ranjang di sebelah.


"Mencari apa Pris?" Dewi yang masih mengenakan mukena baru selesai subuh merasa aneh melihat tingkah suaminya.


"Honey..." Bram pun membuka mata, menatap bidodari yang sedang berdiri di samping ranjang segera duduk.


"Jadi berangkat jam berapa? Sekarang sudah jam lima." Dewi mengingatkan.


"Jam lima?" Bram seketika loncat dari tempat tidur berlari ke kamar mandi, tetapi kali ini bukan di kamar miliknya, melainkan kamar mandi Dewi.


"Tolee... tole. Kamu harus puasa lagi." Gumam Bram saat sedang mandi menatap tombaknya sudah klimis kembali. Namun Bram harus berusaha mengalahkan nap*su. Inilah salah satu perjuangan hijranya agar bisa menahan syahwat.


Sementara Dewi, kali ini tukar posisi membawa koper yang ia minta dari Ami ke kamar Bram. Niat hati hendak menyiapkan pakaian.


"Honey... tidak usah membawa pakaian." Cegah Bram. Tentu pakaian Bram di Jakarta pun seabrek.


"Oh..." Jawab Dewi menutup koper kembali. Lalu memilih kaos dan celana jins untuk suaminya yang akan dipakai pagi ini tanpa Bram suruh. Tidak Dewi sadari, Bram mengamatinya tersenyum lebar.


"Yang ini suka tidak Prir?" Dewi menunjukkan pakaian tersebut. Namun, Bram masih betah memandangi perhiasan yang cantik di hadapannya.


"Eh! Malah bengong" Ujar Dewi menepuk pundak Bramanstya, seketika Bram terkesiap.

__ADS_1


"Terimakasih," Ia ambil pakaian dari tangan Dewi lalu membuka handuk tanpa sungkan di depan Dewi.


"Aaaaaaa..." Pekik Dewi balik badan menutup wajahnya, kala melihat daging tanpa tulang milik Bram tetapi terlihat keras berdiri dan bergerak-gerak mencari mangsa.


Bram terkekeh seraya mengenakan pakaian yang sudah ia terima dari Dewi. "Kamu tadi malam ingkar janji Honey..." Ujarnya serak.


"Ingkar janji?" Dewi yang awalnya menghadap tembok, lantas memutar tubuhnya menatap mata Bram terlukis rasa kecewa disana.


"Bukanya kamu kemarin sudah siap memberi jatah, kalau tubuhku sehat." Protes Bram.


"Lah, mana saya tahu? Salah siapa nggak membangunkan," Jawab Dewi santai, lalu ambil handuk di depan Bram yang tergeletak di lantai.


"Aku sudah bangunin kamu, meraba-raba tubuhmu, tapi kamu nggak bergerak," Bram ambil bulatan kaos kaki lalu mengenakan.


"Masa sih?" Dewi rupanya memang tidak sadar padahal Bram sudah mengintip bukit gundul miliknya, jika Dewi tahu pasti malu sekali.


"Nggak percaya, kamu malah kentut lagi! Cek!" Pria itu meletakan dua siku di atas meja, lalu menutup wajahnya dengan dua tangan.


Bluus!


Wajah Dewi berubah merah, mau tidak percaya dengan ucapan Bram, tetapi ekspresi wajah Bram Dewi yakin jika yang dikatakan itu benar.


"Ayo" Bram beranjak ambil jaket lalu ia sampirkan di pundak. Mereka keluar bersama karena Dewi hendak mengantar ke bandara.


"Sarapan dulu" Kata Dewi ketika melintas di pinggir meja makan.


"Nggak ke buru Honey... yang penting kamu membawa bekal ya" Titah Bram yang ia maksud untuk Dewi. Karena Bram bisa sarapan di pesawat.


"Bekalnya sudah saya siapkan Non." Ami membawa dua tromol kemudian memberikan kepada Dewi.


"Terimakasih Bu," Dewi pun menerima bekal setelah pamit, kemudian mengantar Bramanstya bersama Zaidan.


"Zai, selama saya tidak ada, kamu tidur di apartemen, jaga istri saya! Tetapi jangan macam-macam." Bram memerintahkan sekaligus mengancam.


"Baik Tuan," Jawab Zaidan yang sedang menyetir.


"Kamu jangan genit sama Zaidan ya," Pesan Bram menoleh Dewi di sampingnya. Namun, Bram gemas sebab Dewi pura-pura tidak mendengar lalu sikut nya sengaja menyentuh dada Dewi.

__ADS_1


"Iihhh... usil amat sih." Sungut Dewi, wajahnya memerah.


Bram terkekeh. "Makanya kalau di ajak bicara itu menyahut Honey,"


"Kalau pembicaraan nya hanya membahas itu-itu saja, bosan nyahutnya,"


Bukan suami istri itu jika tidak berdebat sepanjang perjalanan ke bandara. Suasana hening ketika Zaidan menghentikan laju kendaraan ketika tiba di bandara utama yang terletak di selatan Amsterdam.


"Hati-hati di apartemen Honey..." Ciuman lembut di bibir Dewi tanpa Dewi duga. Namun, kali ini Dewi tidak marah.


"Iya, salam buat bapak sama ibu ya," Dewi merasa sedih karena tidak bisa ikut pulang bertemu bu Endang. Dewi pun menunduk menyembunyikan air mata yang sudah menggenang.


"Kamu baik-baik saja kan." Bram mengangkat dagu Dewi hingga mata yang memerah pun menatapnya. Dewi menganguk melepas kepergian Bram.


"Hati-hati juga di jalan Prirus..." Dewi melambaikan tangan, begitu juga dengan Bram. Pria tampan itu sebentar-sebentar menoleh terasa berat meninggalkan istrinya. Namun apa boleh buat.


Pasangan suami istri memang berat ketika berjauhan, namun tidak cukup hanya di tunggui karena semuanya agar bisa berjalan dengan lancar, toh masih bisa hubungi via telepon atau apapun di jaman yang serba modern seperti sekarang.


Dewi pun pulang bersama Zaidan, setelah Bram tidak terlihat lagi.


Semantara seorang pria sudah duduk seraya mengikat tubuhnya dengan sabuk pengaman. Di dalam pesawat ia gelisah, baru dua jam berpisah dengan istrinya, tetapi seraya sebulan saja. 'Kalau aku sudah tiba di Jakarta segera hubungi kamu honey..."


***********


Waktu berganti pagi, udara sejuk di perkampungan Surabaya. Pria tampan setelah dini hari tiba di apartemen kemudian menginap disana. Ketika matahari belum muncul, ia memilih berjalan kaki menyusuri perkampungan dimana istri tercinta lahir.


"Siapa itu?" Bisik para ibu-ibu yang sedang belanja sayuran. Mereka merasa aneh mengapa tiba-tiba ada pria blasteran di desa mereka.


"Waah... ganteng sekali, ya ampun..." Para ibu-ibu yang dulu menjadi pelanggan sayuran pak Adi, kini pindah ke tempat lain.


"Eh, eh, seettt... pria itu ke sini," Salah satu ibu tetangga Dewi menghentikan bisik-bisik tetangga. Semua mata menatap kagum kepada pria yang sedang berjalan ke arahnya.


"Permisi Bu... tempat tinggal Dewi Sugita Wibowo, di sebelah mana ya?" Tanya pria berkaca mata itu memamerkan gigi putihnya.


"Dewi?"


Para ibu-ibu saling pandang.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2