Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 52


__ADS_3

Pagi hari di apartemen semua sibuk menyiapkan keperluan yang akan mereka bawa pulang ke Indonesia. Terutama wanita yang satu ini, bersenandung lirih namun terdengar merdu bagi siapapun yang mendengar nya. Ia membungkuk membuka resleting koper menata pakaian ke dalam.


Tanpa Dewi sadari di depan pintu, Bram mengulum senyum mendengar istrinya bernyanyi. Ia berjalan pelan agar jangan menimbulkan suara. Mengejutkan istrinya itu tujuanya.


"Nggak usah mindik-mindik." Kata Dewi, tanpa mengalihkan pandanganya dari koper. Walaupun tidak mendengar langkah kaki Bramanstya. Namun, dari aroma parvum yang Dewi sukai, ia tahu jika suaminya menghampiri dirinya. Setelah Dewi protes masalah aroma minyak wangi beberapa waktu yang lalu, Bram segera mengganti parvum sesuai yang diinginkan Dewi. Dewi mengangkat kepalanya memandangi suaminya yang sudah tampil rapi membuat jantungnya berdebar kencang.


Bram terkekeh memergoki Dewi yang sedang memandangnya tidak berkedip. "Aku tampan kan?" Kelakar Bramanstya.


Hup!


Dewi menunduk malu, kembali menyibukkan diri melipat baju setelah melepaskan dari hanger. Dewi tidak menampik, Bram sedikit demi sedikit mampu menempati posisi Firman di dalam hatinya.


"Honey... tidak usah membawa pakaian banyak-banyak, di Indonesia nanti kita membeli lagi." Bram berjongkok di samping koper memandangi pakaian.


"Nggak mau, baju ini beda." Dewi menyukai semua baju yang dibelikan Bram. Bukan hanya karena merk terkenal, tetapi model pakaian ini semua sopan.


"Sebentar lagi perut kamu akan melebar honey... itu artinya, gak akan muat lagi," Jawab Bram memang benar.

__ADS_1


"Nanti setelah melahirkan juga ramping lagi." Jawab Dewi tidak mau dibantah. Setelah semuanya siap, Dewi salin baju sudah tampil cantik mengenakan pakaian mahal yang dibelikan Bram.


"Jangan honey..." Bram menahan tangan Dewi yang akan mendorong koper, dengan cepat Bram mengambil alih mendorong tempat pakaian itu.


"Biar saya yang bawa kopernya, Tuan." Kata Ami, setelah mereka tiba di ruang tamu ternyata Ami sudah menunggu. Sementara koper Ami sudah dibawa ke lantai bawah oleh Zaidan terlebih dahulu. Bram pun memberikan benda tersebut kepada Ami, lalu mengait lengan istrinya bergandengan menuju mobil dimana Patrick sudah menunggu di sana.


Tiba di pinggir mobil Bram yang akan di kendarai oleh Patrick, Dewi terperangah kala melihat wanita yang duduk di samping kemudi. Dewi meremas telapak tangan Bram memberi kode bahwa Felicia ikut mengantar.


Patrick menoleh ke arah wanita yang berada di sebelah Bram, menatapnya seksama. Pria itu berdecak kagum ternyata istri tuan nya sangat cantik. Pantas saja, Bram tergila-gila selalu betah jika membahas tentang istrinya itu kepada Patrick.


Hening, susana di dalam mobil. Dewi merasa heran. Pasalnya Felicia hanya membisu entah apa yang wanita itu pikirkan. Dewi tentu masih takut jika Felicia belum berubah. Mengingat baru tiga hari yang lalu Felicia marah-marah di apartemen dan Dewi lah yang menjadi sasaran. Sepanjang perjalanan tangan Dewi tidak lepas dari lengan kekar suaminya.


"Dewi... hati-hati di jalan, tolong terima ini untuk kenang-kenangan." Felis memberikan kotak kecil ketika mereka sudah tiba di bandara.


"Jangan diterima," Cegah Bram menahan tangan Dewi. Pria itu rupanya sudah tidak percaya lagi dengan wanita yang bernama Felicia itu.


"Kenapa Bram? Aku ingin memberikan kado ini untuk anak tiriku, apa aku salah?" Felicia tampak kecewa. Menghindari tatapan mata Bram yang belum bersahabat dengan Felicia.

__ADS_1


"Saya bilang tidak, ya tidak! Bukankah kamu sudah berjanji untuk menuruti semua perintah saya!" Tegas Bram.


Ami, Zaidan dan Patrick, tidak ada yang berani bicara masih berdiri di samping mobil menyaksikan keributan yang terjadi.


Dewi hanya mematung, sebenarnya ia kasihan kepada Felicia, tetapi yang dikatakan Bramanstya adalah benar. Bukan mau berburuk sangka tetapi waspada harus.


"Bibi, dan kamu Zaidan, segera ke lobby." Titah Bram.


"Baik Tuan," Ami bersama Zaidan


"Dewi hati-hati di jalan, saya minta maaf karena sudah berlaku kasar sama kamu," Felicia mengulurkan tangan.


Boooommm...


"Dewiiiiii...."


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2