Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 35


__ADS_3

Bram menenggelamkan wajahnya di dada Dewi, pria itu sebenarnya hendak buka puasa setelah lima bulan tidak meneguk secawan madu. Ia membuka kancing baju Dewi bagian atas dengan tangan kiri. Gairah cintanya sudah membuncah ingin sekali mengulangi saat mengarungi samudra indah bersama Dewinya.


"Honey... boleh ya..." Ujarnya dengan tatapan berselimut kabut cinta. Namun merasa takut karena Dewi pasti belum mau menerima.


"Nggak!" Tolak Dewi cepat, tangannya menahan telapak tangan Bram.


"Kenapa honey..." Wajah Bram memelas, benar saja apa yang ia pikirkan, sudah pasti Dewi tidak semudah itu menerimanya. Padahal, senapan laras panjang sudah tinggal menarik pelatuk pasti akan tepat sasaran.


"Kamu sudah ke dokter belum?" Tanya Dewi, sebenarnya ia tahu bahwa menolak ajakan suami adalah berdosa, tetapi Dewi juga ingin semuanya berjalan dengan baik, tanpa ada rasa was-was.


"Sudah, tetapi hasilnya masih menunggu nanti sore." Jawab Bram, semua urat-urat nya lantas mengendur, mengingat semua itu.


"Ya sudah sih... sabar kenapa." Ucap Dewi, seketika membangkitkan semangat Bram. Bram ingat nasehat dokter Jamal sahabatnya, bahwa permintaan Dewi agar dirinya periksa itu artinya, Dewi akan memulai membuka lembaran baru bersamanya.


"Kalau hasilnya nanti negatif, boleh kan?" Bram mengedipkan mata.


"Huh! Ngarep!" Dewi melengos. "Makanya jadi orang itu jangan dulu berbuat, tanpa memikirkan akibat," Dewi sedikit memberi nasehat.


"Namanya juga orang hilap mana tahu kiblat, honey..." Bram membantah, tetapi ia senang jika ada yang menasehati begini, setelah kepergian mamanya, Bram seperti bebas berbuat sesuka hati, tidak ada yang berani memberikan petuah.


"Yang namanya hilap itu, berbuat hanya sekali. Bukan bertahun-tahun seperti kamu!" Dengus Dewi tak mau kalah


"Iya, iya... demi istri cantikku, aku berjanji akan berubah, jika aku salah tolong diingatkan" Bram mengangkat dua jari.


"Kalau sudah niat berubah jangan demi siapapun, tetapi demi Allah." Dewi seperti tidak pernah kehabisan kata.


"Iya, iya. Demi Allah." Bram kembali mengangkat dua jari.


"Dari tadi mengangkat dua jari, kayak salam dua jari saja,"


"Hehehe..." Lagi-lagi Bram terkekeh.

__ADS_1


Mereka ngobrol panjang lebar tentu sangat berfaedah bagi Bram. Karena kehadiran Dewi seolah mamanya telah kembali. Ternyata kedewasaan seseorang tidak diukur oleh umur. Contohnya Dewi Sugita Wibowo. Ucapanya mampu menuntun Bram kembali ke jalan yang benar. Bram berjanji dalam hati, sebisa mungkin akan membuat hati Dewi sedikit demi sedikit menyayangi nya hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam.


"Aku mau pulang ke Indonesia." Tiba-tiba Dewi angot lagi ingin pulang, padahal kemarin sudah tidak menyinggung masalah ini.


"Kenapa..." Bram mengangkat telapak tangan Dewi lalu menciumnya.


"Aku takut, kalau mantan pacarmu, mantan teman tidurmu, mantan Ibu tirimu tadi pagi mencelakai anakku." Dewi menjadi sedih. Setegar apapun Dewi, walaupun bisa memberikan petuah, namun dia seorang wanita yang butuh perlindungan.


"Lengkap amat nyebutnya, kenapa nggak sekalian anakmu, cucumu, terus buyutmu." Kelakar Bram. Langsung saja mata Dewi melotot.


"Saya serius!" Ketus Dewi.


"Jangan khawatir honey, jika ada yang macam-macam dengan istri dan anakku, dia akan berhadapan dengan aku." Jawab Bram tidak main-main.


"Tapi benar kan... kalau Felicia itu mantan pacarmu?" Dewi ingin memastikan. Ternyata kisah Ayahku Menikahi Pacarku. Memang benar adanya, bukan hanya dicerita fiksi.


"Benar, Felicia itu teman sekolah aku setelah kami menjalani sekolah selama lima tahun. Ketika menginjak tahun ke enam, kami menjalin hubungan hingga satu tahun." Papar Bram mengingat masa sekolah dan cinta kasihnya kepada Felicia. Selama satu tahun cinta mereka mulus-mulus saja. Namun, setelah mereka lulus, tenyata Felicia mengkhianatinya dan yang mengubah cintanya menjadi benci adalah; Felicia menikah dengan papanya. Padahal Felicia tahu jika papa Bram masih mempunyai istri.


"Sebenarnya aku tidak mau mengingat itu lagi, tetapi aku hanya ingin kamu tahu, jika kamu mengira aku pernah tidur dengan Felicia saat menjadi pacar, itu bohong besar." Bram berkata apa adanya.


"Saat Mama masih hidup aku tidak pernah neko-neko, bagiku nasehat Mama adalah mutiara." Beber Bram panjang lebar, intinya saat itu Bram pria baik-baik, sangat menghormati Felicia sebagai wanita, walaupun hidup di negara ini, Bram menjalin hubungan dengan sehat, cukup berpegangan tangan. Namun, lantaran kekecewaan hatinya, Bram menjadi kehilangan arah menabrak rambu-rambu.


"Terus... "Dewi masih penasaran.


"Ya itu, saat tahu jika Felicia merebut Papa dan akhirnya Mama meninggal, aku menjadi benci dengan wanita yang namanya Felicia. Jika dia meninggalkan aku karena pria lain masih aku maafkan, tetapi ini Papa aku sendiri, coba saja bayangkan," Bram menarik napas sesak.


Dewi menangkap kegetiran di wajah Bram merasa kasihan juga.


"Untuk saat ini sebaiknya jangan pulang ke Indonesia dulu." Bram mengatakan pada Dewi, bahwa Bram akan membersihkan nama Dewi dari tudingan orang-orang kampung, agar Dewi tenang ketika tinggal disana. Bram yang sudah membuat reputasi Dewi hancur maka ia akan bertanggung jawab.


Kruuk... kruukk...

__ADS_1


"Hihihi..." Dewi mentertawan perut Bram yang sedang keroncongan seketika ingat, jika ia ke kamar tadi akan membangunkan Bram mengajaknya makan siang.


"Ayo, makan dulu," Dewi segera turun dari tempat tidur dan berjalan lebih dulu.


"Tunggu dulu, aku mau ganti baju" Cegah Bram menahan tangan Dewi.


"Ya ganti saja, kenapa harus minta aku menunggu? Lagian kamu belum shalat! Sudah jam berapa ini." Dewi mengingatkan seperti anak kecil.


"Hehehe, iyaa..."


Dewi lalu meninggalkan suaminya yang masih heha hehe, lantas menuju meja makan.


"Tuan susah bangun ya, Non?" Tanya Ami, karena Dewi di kamar hingga satu jam lebih.


"Sudah bangun kok Bu, cuma kami ngobrol dulu," Dewi ngobrol dengan Ami. Tidak lama kemudian, Bram sudah keluar lantas mereka makan siang menjelang sore.


"Honey... temani aku ke rumah sakit ambil hasil cek ya..." Ajak Bram ketika waktu berganti sore, Bramanstya sudah siap berangkat ke rumah sakit, menemui Dewi ke kamar.


"Ya sudah... sekarang kamu keluar dulu, saya mau ganti baju," Dewi yang sedang santai segera beranjak membuka lemari lalu ambil pakaian.


"Ngomong-ngomong... kamu tahu ukuran baju saya darimana?" Tanya Dewi belum menanyakan mengapa ukuran baju yang Bram belikan bisa pas di badan.


"Kamu lupa? Aku kan sudah melihat anggota tubuh kamu," Bram terkekeh. Pria itu senang sekali jika bisa mengganggu istrinya.


"Ih! Keluar sana!" Usir Dewi mendorong tubuh Bram hingga keluar pintu. Tentu, Bram menurut, jangan sampai istrinya terlalu berat mendorong dirinya.


Bram menunggu di sofa, ia ambil benda dari laci lalu kembali duduk mematik korek, menyulut rokok lalu menghisap dalam-dalam hingga asap mengebul dari hidung dan mulut.


10 menit kemudian Dewi keluar dari kamar menghirup bau rokok rasanya mau muntah. Dewi mencari sumber bau, netranya menatap sisa asap berasal dari sofa.


"Ah! Kamu merokok? Aku nggak jadi ikut!" Dewi kesal, lalu masuk kembali ke kamar.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2