Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 77


__ADS_3

Ketika Dewi sedang berdebat dengan wanita asing yang mengaku teman ranjang Bramanstya itu, keduanya berhenti ketika Bram datang.


Wanita yang pipinya dipoles merah seperti orang yang mau kondangan itu, tatapan matanya tertuju kepada Bram yang sedang memegang kedua pundak Dewi. Wanita itu kecewa, padahal selama ini mencari-cari Bram, selain Bram itu tampan juga selalu memberi kemewahan kepadanya.


"Bramanstya..." Setelah beberapa menit saling diam, wanita itu pun menyapa Bram. Bibir Bram terkatup rapat, ingin mengusir wanita itu tidak punya hak, karena disini tempat umum. Dadanya pun deg degan jangan-jangan wanita di masa lalunya itu bercerita yang tidak-tidak kepada Dewi.


"Mas... kita cari oleh-oleh yuk," Dewi beranjak melingkarkan tangan ke pinggang Bram yang terlihat bingung.


"Okay..." Bram menurut saja, ketika Dewi mengajaknya menjauh meninggalkan lesehan. Entah akan diberi hukuman apa oleh Dewi, Bram menurut dengan perasaan resah bagaimana sikap Dewi setelah ini.


Sementara Dewi, sambil berjalan menoleh ke belakang. Ia tersenyum menjulurkan lidahnya seperti anak kecil ke arah wanita yang masih terpaku dengan mimik wajah kesal.


"Mas, aku beli oleh-oleh untuk Tante Ela sama adik-adik ya," Kata Dewi sambil memilih souvenir khas banten ketika sudah tiba di pusat perbelanjaan.


"Beli saja sesuka hati kamu honey..." Bram sedikit lega, kala Dewi tidak menyinggung masalah pertemuannya dengan wanita yang bermana Karin.


Dewi membelikan oleh-oleh untuk Jati, Galih, orang tuanya, tante Ela, dan juga bi Ami. Setelah mendapatkan semuanya mereka kembali ke kobil. Bram menghubungi Zaidan entah kemana supirnya itu. Karena dia jalan-jalan sendiri tidak mau mengganggu bosnya.


"Honey... Karin tadi bicara apa sama kamu?" Bram memberanikan diri untuk bertanya. Ketika mereka sudah di dalam mobil hendak pulang, tetapi masih menunggu Zaidan.

__ADS_1


"Siapa tuh Karin?" Dewi yang hendak chat tante Ela, menanyakan tentang Calvin urung, karena menoleh ke arah suaminya.


"Karin itu wanita yang kita temui tadi," Bram tidak mau ada ganjalan lagi di hati mereka, sebelum kembali ke Jakarta semua harus di selesaikan disini.


"Oh... dia tadi bilang, hanya dia yang mampu memuaskan Mas di ranjang." Jawab Dewi tanpa mengalihkan pandanganya dari handphone.


Deg. Wajah Bram seketika pucat pasi, lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan kepada Dewi.


"Tidak usah tegang gitu Mas, biasa saja kali..." Ujar Dewi, rupanya tahu apa yang dipikirkan suaminya setelah hening beberapa saat, Dewi menoleh Bram.


"Honey... jangan dengarkan dia ya..." Lirih Bram. Suara harimau itupun kini berubah menjadi suara kucing.


"Jadi... kamu tidak marah honey?" Bram merapatkan tubuhnya hingga berdempetan dengan Dewi.


"Bagi aku, itu masa lalu kamu Mas, yang penting kamu saat ini sudah berubah," Jujur Dewi.


"Honey..." Bram mencium pipi Dewi dari samping, terharu akan ucapan Dewi. Hatinya merasa plong karenanya.


"Sekarang ini kita sudah punya Calvin Mas, jadi harus belajar dewasa. Begitu juga dengan kamu, jangan sedikit-sedikit cemburu," Dewi ceramah panjang lebar agar Bram jangan lagi cemburu kepada Firman.

__ADS_1


"Aku sama Firman itu masa lalu. Jujur, saat aku tinggal di Amsterdam, sedikit demi sediki kamu mampu menggeser Firman dari hati aku,"


"Aku senang mendengarnya honey..." Jawaban ini yang Bram ingin dengar dari istrinya.


"Mulai sekarang... Pleass deh Mas... jangan lagi bermusuhan dengan Firman," Tegas Dewi, saat ini mereka dengan Firmansyah tinggal satu daerah, sudah barang tentu akan sering bertemu. Dewi ingin, Bram menganggap Firman sebagai teman atau setidaknya sebagai tetangga.


"Maaf Tuan, kamar mandi nya antri," Zaidan yang ditunggu-tunggu pun datang, menghentikan obrolan mereka.


"Tidak apa-apa Zai, sebaiknya sekarang berangkat," Dewi tentu sudah tidak sabar ingin segera bertemu putranya.


Mobil membelah jalan tol merak, menuju Jakarta. Dalam perjalan Dewi terlelap dalam pangkuan Bram.


Mereka saat ini menitipkan Calvin di kediaman om Hasan di Jakarta. Selain ingin jalan-jalan, sesuai rencana. Bram akan mengadakan pesta resepsi pernikahannya. Bram memilih resepsi di Jakarta, agar rekan bisnis dan juga teman-teman bisa hadir dalam pesta tersebut.


"Honey... bangun hee... kita sudah sampai..." Bram membangukan Dewi, tiga jam dalam perjalanan rupanya tidur Dewi tidak terganggu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2