Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 26


__ADS_3

Setelah Bram keluar dari kamar. Dewi menyalakan handphone belum ada nama siapapun yang tertera kecuali nama Bram sendiri. Bram rupanya sudah menyimpan nomer dan namanya. Dahi Dewi berkerut, selama dua hari berada di apartemen ini, tahu nama Bram dari Ami. Bahkan Dewi sendiri belum pernah menyebut nama itu.


Dewi lalu menyimpan nomer handphone miliknya sendiri yang ia tinggalkan di rumah dan juga milik kedua adiknya. Dengan handphone itu Dewi sudah tidak sabar hendak memberi kabar keluarganya.


************


Di salah satu apartemen mewah di Surabaya, pasangan suami istri dan kedua anak laki-laki nya, sedang sarapan bersama.


"Ibu kenapa tidak makan, kalau ibu sampai sakit bagaimana?" Pak Adi khawatir dengan kesehatan bu Endang. Bu Endang selalu memikirkan Dewi, selama tiga hari tidak ada selera untuk makan.


"Kenapa anak kita belum telepon Pak." Bu Endang hanya mengaduk-aduk makanan yang ia masak sendiri. Bu Endang sedih bagaimana Dewi di negara B. Tinggal bersama pria asing dan belum Dewi kenal. Terlebih pria itu yang sudah menodai Dewi.


"Kita doakan saja Bu, bukankah Bram sudah berjanji kepada kita, akan mengabari secepatnya." Hibur pak Adi. Pak Adi pun sebenarnya tak kalah khawatir, tetapi beliau tidak mau istrinya stres memikirkan Dewi yang jauh di negara orang.


"Benar kata Bapak, kita doakan saja Bu, semoga Mbak Dewi baik-baik saja." Imbuh Jati Wibowo adik Dewi sudah mengenakan pakaian putih abu-abu.


"Benar Mas Jati Bu, perjalanan ke Amsterdam kan lama Bu, sampai 16 jam, mungkin Mbak Dewi istirahat dulu." Galih Wibowo yang mengenakan seragam putih biru menyambung obrolan.


"Ya sudah... jangan pikirkan Ibu, sekarang kalian berangkat, gih.. " Titah bu Endang sambil membenahi piring membawanya ke dapur. Jati dan Galih pun akhirnya berangkat. Sementara pak Adi belum ada yang bisa beliau lakukan saat ini selain menonton televisi.


Setelah mencuci piring bu Endang duduk di balkon apartemen mewah. Jauh mata memandang ia hanya bisa melihat gedung-gedung dan jalan raya yang macet. Bukan aneh lagi jika di Surabaya macet, karena di kota ini nomor dua paling macet setelah Jakarta.


Baru tiga hari tinggal di tempat ini, namun terasa lama. Tidak ada yang bisa bu Endang lakukan disini. Namun, nyatanya tinggal di desa kelahiran yang sangat sejuk karena banyak pepohonan hingga membuatnya betah, tetapi tidak untuk saat ini.


Bu Endang menarik napas berat mengingat saat tiga hari yang lalu di usir warga dengan tidak punya perasaan dari kampungnya sendiri. Lantaran kesalahan Dewi yang sesungguhnya tidak pernah Dewi lakukan.


Kilas balik.


"Usir dia dari kampung ini!" Teriakan warga memekakan telinga bu Endang. Bu Endang berlari keluar rumah ternyata di halaman sudah didemo orang satu kampung. Dan yang membuatnya sangat sedih, pemimpin demo adalah Larasati yang gagal menjadi besannya.

__ADS_1


Saat itu hanya ada bu Endang seorang diri di rumah. Padahal bu Endang sedang memikirkan Dewi dan suaminya yang sedang berjualan belum juga pulang padahal sudah tengah hari. Ketika bu Endang telepon, ternyata handphone Dewi di tinggal di rumah.


"Ada apa Bapak-Bapak... Ibu-ibu..." Bu Endang mencoba menghadapi kerumunan. Bukan tidak tahu apa tujuan mereka, tetapi bu Endang basa basi.


"Anak kamu sudah membuat aib di kampung ini, pulang dari Jakarta hanya membawa kesialan!" Hardik seorang Ibu.


"Iya, sudah begitu dengan seenaknya mau menjadikan Firman anak saya untuk menutup aibnya! Enak saja!" Tuduh Larasati dengan kejam.


"Usir saja! Usiiiirrr..." Pekik Larasati. Di ikuti warga di belakangnya. Bu Endang hanya menangis menatap orang-orang yang terus memakinya, tidak punya perasaan.


"Tunggu dulu!" Pak Adi yang sedang mendorong gerobak tampak sayuran masih penuh, meninggalkan gerobak tersebut berdiri di samping istrinya. Nasib pak Adi pun rupanya tidak ada bedanya dengan Dewi, sayur nya tidak ada yang membeli.


"Apa yang kalian tuduhkan itu tidak benar." Pak Adi mencoba meluruskan persoalan. Namun sepertinya warga sudah tidak mau mendengar lagi.


"Jangan dengarkan mereka." Warga melempari batu keluarga pak Adi. Bahkan teriakan Jati dan Galih yang baru saja pulang sekolah tidak mereka dengar. Galih dan Jati menarik tangan kedua orang tuanya ke dalam rumah lalu mengunci pintu.


Door... Doorr...


Sementara Jati dan Galih melihat apa yang terjadi di luar melalui jendela. Tampak dua orang pria bertubuh gempal meluncurkan tembakan ke atas membuat para warga beringsut mundur. Entah apa yang dua pria itu katakan hingga para warga meninggalkan rumah. Jati dan Galih saling pandang kala dua pria naik ke teras rumah mereka setelah menyelipkan pistol.


Tok tok tok.


Galih hendak membuka pintu.


"Jangan Le" Cegah bu Endang, cepat.


"Ibu tenang saja." Sebagai anak laki-laki, Galih yang masih berseragam itu bertekat melindungi keluarganya, maka ia memberanikan diri membuka pintu.


"Selamat siang." Ucap pria bertubuh tegap dengan wajah dingin dan bersuara berat itu berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Selamat siang Om." Jawab Galih.


"Orang tua kalian ada?" Pria itu menatap Jati dan Galih.


"Ada Om"


"Boleh kami masuk?" Tanya salah satu pria di antara mereka.


"Mari Om." Tanpa gentar Galih membiarkan kedua pria itu masuk. Kemudian menyilahkan duduk di kursi usang, lalu Jati memanggil bapak dan Ibu nya. Kali ini mereka berkumpul di ruang tamu.


"Anda siapa?" Tanya pak Adi, menatap kedua pria asing pikiranya campur aduk. Senang, dua pria itu berhasil menyelamatkan keluarganya, tetapi melihat wajah kedua pria yang tampak seram itu ngeri juga.


"Pak, saya akan memberi kabar bahwa putri Bapak saat ini berada bersama kami,"


"Apa? Ada apa dengan anak saya, anak saya Anda bawa kemana?!" Cecar bu Endang. Melihat wajah dua pria itu pun merasa takut terjadi apa-apa dengan Dewi. Lantas apa yang terjadi jika putrinya berada di tanganya. Dada bu Endang terasa sesak.


"Tenang Bu, kita dengar dulu penjelasan Om ini." Jati menengahi.


Dua pria itu memaparkan kejadian yang menimpa Dewi, saat hendak diper ko sa oleh anak-anak berandalan lalu ditolong oleh bos mereka.


"Astagfirullah... Dewi... hu huuuu..." Bu Endang tergugu sambil memegangi dadanya yang kian sesak. Dosa sebesar apa yang sudah dirinya langgar hingga putrinya selalu mengalami nasib seperti ini.


"Lalu dimana anak saya sekarang?" Tanya pak Adi tak kalah gusar.


"Bapak sama Ibu tenang saja, Dewi saat ini berada di tempat yang aman.


"Lebih baik Bapak dan Ibu bersiap-siap pergi bersama kami menemui Dewi. Untuk sementara waktu lebih baik Bapak sekeluarga meninggalkan rumah ini, sebelum para warga itu kembali kesini" Saran dua pria itu.


"Pak, Bu, sebaiknya kita ikuti saran Om ini." Jati membujuk kedua orang tuanya. Jati meyakini bahwa dua orang ini tidak berbohong.

__ADS_1


Pak Adi dan bu Endang pun menurut, lagi pula pasutri itu sudah tidak sabar bertemu putrinya. Keluarga pak Adi menyiapkan barang masing-masing yang sekiranya penting lalu mengunci rumah kemudian diangkut dengan mobil dua pria itu meninggalkan rumah.


...~Bersambung~...


__ADS_2