
Bagas
Aku enggak nyangka kalau Ana bakal bicara seperti itu! Bahkan hanya karena masalah sepele, dia berani mengancam dan tidak menegurku! Membiarkan aku tidur di sofa meringkuk kedinginan! Sungguh keterlaluan.
Bukan berarti hanya karena aku salah dia bisa seenaknya sama aku kan? ah sial!! Ini semua gara-gara Risah!
Ya Risah penyebabnya. Kalau dia tidak setiap hari menggangguku, tidak tebar pesona dan selalu membusungkan dada nya jika berbicara denganku. Mungkin aku enggak bakal tertarik. Aku lelaki normal, ku akui aku terpesona.
Siapa yang bisa menolak jika ketika lapar terus menerus ditawarkan daging? Ia lagi masih remaja, kalau orang bilang masih segar segarnya. Cuma semenjak aku melihat ia dekat dengan laki-laki lain, aku merasa kalau sifatnya memang begitu kepada setiap laki-laki yang ia jumpai.
Bisa dibilang wanita harga obral (murahan). Aku terpaksa menyelidiki status dan bagaimana dia, hanya dalam beberapa jam sudah banyak yang memberi kabar, bukan sulit mencari tau tentangnya. Bahkan teman sekantor kami pun ada yang tinggal dekat rumahnya. Oke Risah permainan dimulai.
bagas end.
...***...
Di dalam kamar hotel ada seorang lelaki sedang menunggu wanitanya, dengan ditemani sebotol Vodka juga ada anggur merah. Wah masih kelas bawah ya.
Tersedia Aqua juga dan jeruk nipis untuk menetralkan rasa pusing jika sudah terlalu banyak minum.
Lumayan terbilang mewah hotel yang ia sewa, tapi belum termasuk bintang 5. Hanya saja sudah terlaris dan terpopuler di daerahnya.
Pintu hotel terbuka.
"Kenapa kamu lama sekali?"
"Ah aku tadi beli cemilan diluar, soalnya kamu tadi aku liat enggak ada bawa apa-apa hanya bawa minuman aja. Kenapa sih gitu banget liatnya? Udah enggak sabar ya."
Sedikit menebar pesona dengan rok mini nya.
Aku semakin yakin kamu bukan gadis baik-baik. Batinnya.
"Iya kok kamu tau sah?" Sambil berjalan menuju Risah, membelai rambut dan menempelkan hidungnya ke leher jenjang Risah.
Risah merinding juga ada yang bergejolak selain hati.
"Kamu sudah mabuk ya mas? Padahal baru minum sedikit tadi." Sambil menilik ke arah Bagas.
"Sah. Jika aku minta kamu jangan ganggu aku lagi gimana? Kasian istriku." Sambil terus membelai rambut Risah.
"Maksudnya? kok kamu malah bilang gitu sih mas?" Sambil menghentakkan kaki nya sebal.
"Jadi kamu enggak mau?" Tanyanya. Berhenti melakukan kegiatannya dan menatap serius ke arah Risah.
"Kamu sadar enggak kalau yang kamu lakukan itu salah? Kenapa terus menggodaku padahal aku sendiri sering menolak dan menghindar?" Tegasnya ketus sambil melipat kedua tangannya di dada, dan terus menatap Risah dengan tajam.
Risah merasa dirinya terpojok langsung gelagapan.
"Ya memang karena aku suka kamu mas, aku aku iya aku suka!" Risah membuang pandangannya. "Lagian kenapa kamu ajak aku kesini kalau hanya untuk menanyakan hal ini mas?" Tanyanya tak kalah ketus.
"Suka? Lalu dengan laki-laki lain yang sering kamu rayu? Apakah suka juga?" Ia menjeda sebentar menunggu reaksi Risah.
"Kamu bisa merayu lelaki lain tapi jangan yang sudah beristri sepertiku, memang kamu cantik hingga aku berusaha menolak seperti apapun tetap saja terbuai." Terangnya lagi.
Risah berkeringat dingin dan bertanya-tanya kenapa Bagas bisa tau mengenai hubungannya dengan lelaki lain.
"Kalau kamu memang wanita baik-baik bisa jadi aku total berpaling dan tak segan meninggalkan istriku. Jahat aku kan? Aku munafik ya? Kelihatan baik tapi begini brengseknya."
"Mas, cukup aku mau pulang."
"Kamu! Padahal orang tuamu bercerai dan lebih memilih wanita lain, tapi kamu malah berani juga untuk mengikuti jejaknya! Apa waktu itu kamu tidak melihat bagaimana sakitnya ibumu ketika ayahmu pergi untuk wanita lain.
Dan meninggalkan kalian anak-anaknya. Seharusnya kamu belajar, apa kamu enggak sadar ibumu juga perempuan? Begitu juga istriku! Kalian sama!"
Bagaimana dia bisa tau kalau orang tuaku bercerai dan aku hanya hidup dengan seorang ibu yang perjalanan hidupnya menyakitkan. Batinnya.
"Udah mas stop! Hentikan ucapanmu yang terus merendah kan aku!! Kamu juga brengsek mas. Apa kamu lupa kejadian di ruang meeting? Bukan kah kamu yang memulai?
Bahkan waktu itu juga aku sudah berniat untuk pergi dan meninggalkan kamu kan? Tapi kamu yang nyegah, dan kamu malah melakukan sesuatu yang membuat aku terhanyut lagi untuk terus sama kamu? Kamu dan aku sama-sama brengsek mas!
Jadi berhenti merendah kan aku juga status ku! Akui saja kalau sebenarnya kamu cemburu aku dengan lelaki lain. Kamu bukan hanya munafik di depan istrimu, tapi kamu juga munafik di depanku. Kamu menyudutkan aku seolah ini semua karena ku, padahal sebenarnya kamu juga kepanasan jika aku bersama yang lain."
Risah berkata dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Sekarang gantian Bagas yang terdiam. Bahkan tak bisa berkata lagi, karena yang di katakan Risah adalah benar. Ya dia memang munafik, tidak hanya di depan Risah tapi juga di depan istrinya.
"Katakan, katakan apalagi yang ingin kamu katakan? Aku siap nerima setiap hinaan yang kamu lontarkan ke aku, karena aku sadar aku memang murahan mas! Tapi setidaknya aku tidak munafik sepertimu!!" Teriaknya dan menunjuk ke arah Bagas.
"Kalau tidak ada yang kamu katakan lagi, aku permisi. Terima kasih!!" Risah berbalik dan melangkah pergi.
Risah tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berkata.
"Ohiya mengenai hotel atau gaya apapun di ranjang aku sudah biasa" Sambil tersenyum mengejek "Itukan yang sedari tadi kamu penasaran? Sekarang aku sudah mengatakanya, jadi tidak usah mencari tau lagi tentang aku."
Saat Risah melanjutkan akan membuka pintu tiba-tiba Bagas teriak.
__ADS_1
"Stop!! Jangan pergi!!" Dia berjalan mendekat ke arah Risah.
Perkataan Risah yang mengatakan soal sudah biasa melayani lelaki lain di ranjang sukses membuat hati Bagas panas.
"Kalau gitu buktikan sama aku bagaimana caramu memuaskan aku."
Risah nampak tersenyum smirk. Duhai licik sekali kau wanita.
Bagas yang awalnya membuat rencana akan menjatuhkan Risah. Yang awalnya berencana akan benar-benar membuat Risah menjauh malah terjebak dalam permainannya sendiri. Bagaimana perasaan seorang istri kalau sudah begini?
Malam panjang dilewati mereka berdua tanpa sadar akan ada manusia yang paling tersakiti. Mereka sama-sama sudah dikendalikan ***** setan.
...***...
Pukul 08 pagi Bagas pulang kerumahnya. Semalaman ia bermalam di hotel bersama Risah. Karena ini hari Sabtu jadi tidak bekerja, libur akhir pekan. Ia terus melenggang berjalan akan memasuki rumah tanpa merasa canggung.
"Ayaaaah, Alif kangen ayah." Alif yang sedang bermain di teras rumah langsung berlari menghambur memeluk ayah nya.
"Ayah juga kangen Alif. Alif udah makan sayang?"
Diana yang sedang berkemas akan kerumah kakaknya mendengar teriakkan Alif memanggil ayahnya langsung menuju keluar pintu.
"Alif bunda udah siap. ayo nak?"
Bagas langsung menoleh kebelakang.
"Baru pulang ya yah?" Tegurnya.
Bagas bingung kenapa Ana tidak marah. Kenapa tidak bertanya dia kemana.
"Iya sayang. Kalian mau kemana? Ayah pulang kok malah mau pergi?"
"Alif mau kerumah bukde, pakde Uda pulang bawa oleh-oleh untuk Alif yah, banyak banget tadi kata bukde."
"Oh. Ayah boleh ikut enggak sayang?"
"Tanya aja sama bunda." Jawabnya dan terus memeluk pundak ayahnya.
"Terserah kamu yah. Kalau mau ikut ya ikut, tapi bukannya kamu capek baru pulang?" Sindirnya halus.
Bagas terdiam. Dia bingung harus bagaimana, sementara harusnya Diana marah, ini malah bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal terakhir kali Bagas pergi Diana masih memendam amarah.
"Ya udah ayah ikut ya. Tunggu sebentar ayah mandi terus siap-siap."
"Iya ayah Alif tunggu, dari tadi malam juga Alif nunggu ayah sampai Alif enggak tidur, karena Alif Uda janji sama bunda enggak bakal tidur sebelum ayah pulang." Bicaranya seperti orang dewasa saja.
"Iya sayang? Jadi bunda kamu tidur enggak? Atau Alif yang nunggu sendirian?" Tanyanya sambil melirik istrinya.
"Bunda nangis terus, enggak tau tuh kenapa." Jawab Alif dengan polosnya.
Bagas menatap Diana dengan tatapan iba.
"Anak-anak kamu percaya yah. Lagian ana juga mulai harus terbiasa seperti ini." Sambil tersenyum yang manis. Namun ia paksakan.
"Ya udah ayah mandi dulu ya." Dan menurunkan Alif dari gendongannya.
Yaallah sampai kapan aku harus pura-pura kuat seperti ini? Padahal aku adalah wanita yang sangat sensitif, bantu aku yaallah agar terus bisa bersabar melihat suamiku perlahan mengkhianatiku.
Bagas selesai dengan mandi dan bergaya ala anak muda. Dia keluar dengan bau harum yang sangat maskulin. Diana menatap tanpa berkedip, memang tak bisa di pungkiri suaminya ini mempunyai daya tarik yang membuat semua kalangan bisa kelpek-klepek. Oh sungguh tampan batin Diana.
Dalam perjalanan mereka sama-sama terdiam. Hanya ada suara Alif yang seperti biasa menyamai suara truk mainannya. Diana lebih memilih tenggelam dengan pikirannya sendiri begitu juga dengan Bagas.
Padahal sebelumnya keluarga ini adalah keluarga yang penuh kasih sayang, tapi semenjak kedatangan wanita setengah duyung semua berubah.
Lihat saja kedepannya seperti apa yah, kau hanya milikku lelaki yang kupilih untuk berdampingan denganku seumur hidup, biarlah kau yang pergi meninggalkan aku tapi jangan sampai aku yang pergi meninggalkan mu, aku benci pengkhianatan jadi biar saja kau yang berkhianat asal aku jangan.
Karena orang tuaku tidak pernah mengajariku tentang hal semacam itu. Cukup, cukup aku saja yang sakit. Aku yakin sabar ku akan membuahkan hasil. Ibarat tanaman yang di beri pupuk setiap harinya maka ketika panen buahnya akan melimpah, ya aku akan seperti itu. Hanya demi anakku juga demi keluarga ini.
Tekatnya dalam hati.
Jika Allah menguji imanku, maka Allah juga akan menguji kesabaran istriku. Tapi apa mungkin Diana akan bertahan? Sementara sifatnya yang dulu sangat keras dan selalu tidak pernah sabar dalam hal apapun. Apalagi kesalahanku sudah termasuk fatal. Ah yaallah bantulah aku untuk tidak selalu tergoda. Tapi aku sudah terlalu jauh dengan Risah. Batin Bagas.
"Sayang?" Ucapnya ragu, berusaha memecahkan kesunyian.
"Iya ayah?" Malah Alif yang menjawab.
Diana hanya menoleh.
"Ayah panggil bunda sayang, kenapa Alif yang jawab?" Diana berhasil tersenyum. Kali ini tidak di buat-buat dan dia merasa geli.
"Kirain Alif ayah manggil Alif, lagian ayah enggak lihat ke arah bunda tuh."
Kali ini Diana tersenyum getir.
"Jadi ayah ulang lagi nih manggilnya?" Tanyanya.
__ADS_1
"Kita Uda mau sampai sayang." Diana mengalihkan topik dan menunjuk ke arah depan sambil mengelus puncak kepala anaknya, hingga Bagas langsung terdiam.
Bagas membunyikan klakson agar tuan rumah mendengar dan segera membukakan gerbang. Tak lama terlihat mas Anton yang membuka gerbang.
"Wah udah sampai Alif nya? Enggak sabar ya mau ambil hadiah dari pakde?" Mengambil Alif dari gendongan Diana.
"Iya nih pakde hehe." Jawabnya polos.
"Apa kabar mas? Gimana lancar kerjaannya?" Sapa Diana.
"Alhamdulillah buntel."
Diana hanya tersenyum tak menanggapi ejekkanya. Dia menatap Diana. Terlihat mata Diana sendu seperti menyimpan beban yang sangat berat. Iya Anton selalu tau suasana hati adik iparnya ini.
"Mas, apa kabar?" Sapa Bagas setelah turun dari mobil.
"Baik Alhamdulillah. Kamu ikut gas? Kira mas Diana pergi sendiri. Yauda ayo masuk kakak mu sudah menunggu di dalam."
Terlihat banyak sekali mainan yang dibelikan untuk Alif juga ada beberapa tas kecil lainnya yang akan diberikan ke keluarganya juga kepada Diana.
Mita sibuk menyiapkan makanannya yang akan mereka santap bersama nanti. Seperti menyambut tamu agung saja.
Alif tidak usah ditanya kemana, begitu melihat banyaknya mainan yang dibelikan pakde nya iya langsung turun dari gendongan dan melompat kegirangan memainkan satu persatu mainan yang ada.
"Masaknya banyak sekali kak? Kayak ada tamu satu kampung."
"Sengaja dia na, karena tau kamu makannya banyak haha." Belum sempat Mita menjawab Anton sudah lebih dulu menjawab dan Mita hanya tertawa begitu juga dengan Diana.
"Tapi Ana lagi diet mas enggak bisa makan banyak." Tolaknya halus.
Spontan Bagas menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak suka.
"Nanti kamu sakit na? kakak enggak mau ya kamu sakit gara-gara diet!!" Jawab Mita sambil terus membawa makanan satu persatu ke meja makan.
"Iya kak aku setuju itu." Jawab Bagas sambil terus menatap istrinya.
Diana yang tau Bagas terus menatapnya dengan tatapan tidak suka hanya melirik sekilas dan menatap mas Anton minta bantuan. Anton yang termasuk cerdas bisa membaca bahasa tubuh tanpa harus bicara pun mengerti, bahwa kali ini Diana butuh dukungannya.
"Iya enggak apa lah sayang, selagi Ana melakukan diet sehat dan rajin olahraga secara rutin bagi mas itu enggak ada masalah. Lagian itu juga tekad yang bagus mempercantik diri sendiri juga akan menyenangkan hati suami.
Biarlah asal dia masih bisa jaga kesehatan. Lanjutkan lah na mas dukung kamu! Eh tapi nanti kalau Uda kurusan mas manggilnya gimana? Enggak buntel lagi dong?" Ujungnya tetap juga bercanda.
"Iya mas, ana pasti jaga kesehatan. Terutama sabar." Sambil melirik ke arah Bagas.
Bagas hanya terdiam. Melamun dengan tatapan kosong.
"Ya udah terserah kamu aja na, asal jangan terlalu ekstrem dietnya. Cukup jaga pola makan kamu aja jangan sampai enggak makan." Jawab Mita.
Semua makanan sudah terhidang di meja, sambil menunggu waktu makan siang mereka berbincang kecil mengenai hal perjalanan mas Anton keluar kota.
Suara cacing di perut Bagas membuat mereka yang duduk disana spontan menoleh ke arahnya. Bagas tersenyum kikuk. Ia sangat lapar apalagi tadi pagi tidak sarapan bahkan tidak ada mengganjal perut dengan makanan apapun. Hanya saja ia malu kalau berterus terang, tau sendiri lah Bagas gimana orangnya.
"Kamu sudah lapar gas? Kenapa enggak bilang? Kan bisa makan duluan." Terang Mita.
"Hehe iya enggak enak kak kalau makannya enggak sama-sama."
dilihat jam sudah pukul 11 siang.
"Ya udah kita makan sekarang aja ya, lagian Uda masuk jam makan siang." Tukasnya.
"Apa kamu enggak sarapan gas?" Tanya Anton.
"Enggak mas, tadi juga baru pulang, pas sampe rumah melihat mereka udah mau berangkat jadi buru-buru enggak sarapan."
"Lah kamu baru pulang? Emang dari mana??" Jawab Mita kaget.
Astaga kenapa aku keceplosan!!bodoh!!
Diana tampak diam malas menjawab juga malas menanggapi.
"Kemarin aku ditugaskan keluar kota kak, menggantikan temanku yang enggak masuk. Setidaknya harus ada perwakilan lah dari bagian kami karena proyek yang mau bekerja sama harus meninjau langsung kelapangan, ya sampai larut jadi menginap dulu di hotel." Jelasnya.
Ooh jadi begitu toh alasannya. Ah tapi enggak percaya juga aku yah, kamu sekarang lebih banyak bohong dari pada jujurnya. Batin Diana.
"Tapi kamu memberi kabar kan kediana?" Kali ini mas Anton yang buka suara. Jadi dia menyimpulkan sedari tadi Diana tampak murung tak secerewet biasanya di karenakan suaminya enggak pulang kerumah.
Sungguh jenius pemikiran Anton.
Matilah aku. Bagas berkata dalam hati. Dan hanya bisa mencengkram paha nya sendiri.
"HP aku mati mas, lowbat. Sementara teman ku yang pergi sama aku enggak tau nomor HP rumah jadi yaudah enggak bisa nelfon." Terangnya.
Kamu hafal nomer hape aku yah, dasar pembohong.
Anton dan Mita tidak bertanya lagi. Mereka makan dalam diam hanya sesekali melirik Diana yang terus makan tapi pikirannya entah kemana.
__ADS_1
Bersambung..
Berhubung tanggal 4 Agustus author ulang tahun, author hanya ingin hadiah vote juga like dan komentar dari kalian, itu udah jadi kado terindah. Dan dukungan kalian yang terpenting sehingga author dapat terus berkarya dan menjadi penulis yang baik. Terima kasih heheh