Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 48


__ADS_3

Diana terus berjalan ke arah ruangan mertuanya di rawat, dan di ikuti oleh Rama di belakangnya.


Sampai di ruangan Diana langsung masuk begitu juga dengan Rama.


Namun langkahnya terhenti, melihat pemandangan yang berbeda dengan tadi, sebelum ia meninggalkan ruangan ini beberapa menit yang lalu.


Alif sudah duduk di pangkuan ayahnya, Eva duduk di samping ibunya bersama Andre mas nya. Diana kikuk, namun suara langkahnya berhasil mengalihkan pandangan mereka yang saat ini ada di dalam ruangan.


"Kak, udah ba-"


Perkataan nyaris terhenti, karena milihat orang yang saat ini berdiri di samping Diana.


"Va ini bungkusan kamu."


Tanpa menoleh ke arah Bagas yang saat ini menatap dengan tidak suka.


"Kamu ngapain kesini?"


Dengan ketus ia bertanya dan menunjuk ke arah Rama. Sementara Diana hanya menunduk tidak mau menatap suaminya sendiri.


"Aku mau jenguk bu Ramini kok bang. Tadi ikut kesini sama Diana."


Ikut sama aku, maksud kamu apa Rama!!! Batin Diana geram.


Diana berjalan meletakkan nasi yang ia beli di atas kursi yang kosong.


"Kamu makan dulu va."


"Ya udah ayo kak kita makan bareng, bukankah kakak juga belum makan."


Sungguh kaki dan tangan Diana bergetar dan mengeluarkan keringat di ruangan yang ber AC ini. Padahal disini Bagas yang bersalah sehingga Diana pun berusaha menghindar, namun dengan kehadiran Rama yang datang bersamanya, bukankah akan menjadi tolak ukur yang menyudutkan dirinya.


"Kakak nanti saja."


Masih berdiri menatap ke luar jendela.


Bagas melihat istrinya, matanya sudah berkaca. Sementara Andre terus saja memegang tangan ibunya, tidak menghiraukan keadaan sekitar, belum juga menyadari kedatangan Rama saat ini. Karena posisinya masih menghadap ke ibunya dan Rama berada di belakangnya, berdiri cukup jauh.


Keadaan ini sangat canggung. Bagi siapa saja yang mempunyai masalah disini.


"Kak, Eva mau bicara." Setengah berbisik dan menarik tangan Diana keluar ruangan.


Sampai di luar.


"Kak, kenapa bisa sama Rama? Apa kakak datang kesini bersamanya? Kak, kakak kan tau dia siapa, aku enggak tau bagaimana selanjutnya jika mas Andre sadar jika itu Rama. Kalau Bagas masih bisa menahan emosi kak, tapi mas Andre, kakak kan tau dia keras kak."


"Va, dengar dulu. Kakak bakal jelasin."


Diana menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.


"Dia ngikuti mobil yang jemput kakak. Sampai kesini."


Ucapnya sedikit emosi mengingat tingkah Rama.


"Apa benar dugaan ibu kak, kalau dia suka sama kakak?"


"Hus, kamu ngomong apa sih va? Udah ah, kakak juga enggak bakal mau, mau bagaimana pun kakak masih istri sahnya mas mu."


Saat mereka berbincang dengan serius. Rama keluar dari ruangan dengan setetes air mata yang jatuh, ya jelas itu terlihat oleh Eva dan Diana. Bahkan Rama tidak menegur Diana yang berdiri disana, ia hanya berjalan ke luar ruangan dan pergi meninggalkan rumah sakit.


Eva dan Diana saling menatap lalu sama-sama mengangkat bahu. Tanda mereka memang tidak tau.


"Aku yakin kak, pasti ada yang enggak beres. Aku yakin, pasti mereka sudah memaki Rama habis-habisan kak. Kan sudah aku bilang."


Diana menjadi sangat merasa bersalah. Dengan melihat Rama menangis seperti itu, rasanya menjadi sakit dan kasian. Pasalnya ia juga tidak tau menahu tentang masa lalu orang tuanya.


"Va, maaf sebelumnya, kamu masuk aja lagi ke dalam tanya sama mas mu sebenarnya apa yang terjadi, kakak akan menyusul Rama dan bertanya padanya. Kakak sungguh kasian dan merasa tidak enak, mohon mengertilah lah va."


"Baik kak, ya udah sana kakak susul dan tanya."


Mereka berpisah dengan masing-masing akan mencari informasi tentang apa yang terjadi ketika mereka meninggalkan ruangan hanya beberapa menit lalu.


Eva masuk ke ruangan, dan melihat wajah Andre yang murka, merah padam seperti habis olahraga lari ratusan kilometer.


"Mana Diana?" Tanyanya ketus.


"Dia, dia masih ke toilet mas." Elaknya.


"Kenapa anak ja**ng itu bisa disini? Apa benar Diana datang bersamanya?"


Masih dengan nada tinggi ia bertanya.

__ADS_1


"Mas, ada Alif jaga bicaramu."


Tegur Bagas yang memang tidak sekeras Andre.


"Enggak la mas, kak Diana datang di jemput oleh supir suruhan mas Anton kok. Mereka juga datang tidak samaan, berselang hampir satu jam."


"Aku enggak suka ya, enggak suka ada dia disini. Mau bagaimana pun dia anak si*l."


"Mas." Tegur Bagas lagi untuk kesekian kalinya. Karena dia tidak suka, disini ada Alif yang setiap saat mendengar kata kasar yang keluar dari mulut Andre.


Andre menghela nafas berat dan lalu duduk kembali, mencoba menenangkan rasa emosinya.


"Mas, jangan menyebut anak orang dengan sebutan seperti itu. Apa kalian berdua enggak sadar, kalau kalian juga berbuat seperti itu pada wanita lain, dan menyakiti hati istri dan anak kalian!"


Perkataan Eva berhasil membungkam keduanya, Andre lebih memilih diam begitu juga dengan Bagas. karena memang kali ini Eva sangat benar.


Beberapa menit kemudian.


"Va, kenapa Diana lama sekali kalau hanya ke toilet, apa dia kabur dari sini karena ada mas?"


Bicaranya setengah berbisik.


Eva hanya mengangkat bahunya, dan menggelengkan kepalanya.


Jangan-jangan Diana pergi bersama anak itu? Apa sebaiknya aku susul saja sebelum terlambat? Batinnya, yang saat ini memang tidak tenang.


...***...


Diana berjalan dengan cepat mengejar Rama yang sudah sampai parkiran motor, dan siap untuk pergi.


"Bang, tunggu."


Teriaknya agar Rama mendengar.


Menoleh dan kembali mematikan mesin motornya yang sudah sempat ia hidupkan.


"Bang, sebenernya apa yang terjadi? Dan kenapa tiba-tiba pergi tanpa pamit?"


"Kamu bisa ikut aku sebentar enggak na? Kita cari tempat yang pas, aku mau cerita."


Wajahnya sendu, sehingga siapa pun yang menatap akan sangat tidak tega.


"Tapi nanti takutnya mereka menunggu ku di dalam bang."


Diana tampak diam dan menimang.


"Ya udah na, kalau enggak bisa. Aku pulang duluan ya, maaf aku enggak bisa cerita disini, mungkin lain waktu kalau kita masih bisa berjumpa."


"Eh tunggu, ya udah iya aku ikut."


"Naik lah."


Dan kembali menyalakan mesin motornya.


Mereka hanya ke taman yang terletak tidak jauh dari rumah sakit. Mencari bangku yang kosong di sana dan jauh dari keramaian.


"Aku sangat tidak menyangka semua kenyataan ini bisa terjadi sama aku."


"Maksudnya?"


Apa mungkin dia sudah tau yang sebenarnya? Dan dia tau kalau Bagas adalah saudara tirinya?


Diana lebih dulu menyimpulkan apa yang terjadi di benaknya.


Rama membuang nafas kasar.


"Bang Andre menghinaku habis-habisan. Mengatakan kalau aku pembawa si*l dan ibuku adalah seorang pelakor, yang sempat merebut ayahnya dari ibu Ramini. Sungguh aku sangat tidak tau."


Diana diam mendengarkan.


"Aku benar-benar tidak tau, karena memang ibuku tidak pernah mengatakannya. Kalau itu benar, apa maksudnya aku adalah anak dari ayah mereka? Dan kalau iya, berati suami mu adalah saudaraku? Begitu kan?"


Apa sebaiknya aku mengatakan yang sebenarnya, yang pernah di ceritakan oleh ibu? Tapi bukan kah itu sangat lancang.


"Aku jadi menyesal datang kesini na. Rasanya jika mendengar kata-kata itu sangat menyakitkan hati, siapa yang ingin menjadi anak si*l. Aku yakin tidak ada yang mau, termasuk kamu, pasti kamu juga enggak mau kan na?"


Diana dengan spontan menggeleng.


"Aku berharap ibu Ramini di beri umur panjang dan akan sehat kembali, dan aku bertekad akan menanyakan hal ini langsung, tanpa memperdulikan cacian dan hinaan dari suami mu ataupun ipar mu."


"Amin, dan aku rasa keputusanmu sudah benar bang."

__ADS_1


"Ya udah, makasih na udah mau dengerin curhatan aku. Mari aku antar kamu balik ke rumah sakit."


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, larut dalam pikiran masing-masing.


"Aku masuk ya bang, hati-hati di jalan."


"Iya, sekali lagi makasih ya na. Aku harap kamu bakal kembali lagi ke desa."


Kenapa berharap? Berarti urusan rumah tanggaku tidak akan selesai.


Tersenyum kecut.


"Hem, iya. Aku masuk dulu ya."


Diana tampak ragu setelah sampai di pintu ruangan ibu mertuanya. Pastinya keadaan canggung kembali terjadi, dan itu sangat tidak ia inginkan. Apa lagi masalah dengan Rama tadi yang sempat ia tidak tau. Sedikit banyak pasti mereka menaruh curiga padanya.


Baru beberapa langkah masuk. Semua menatap dengan penuh tanda tanya. Untungnya ada Eva yang langsung mengajaknya makan, jadi bisa mengalihkan keadaan rumit ini. Di dalam hanya Bagas yang terus menatap Diana dengan sendu, sementara Diana berusaha tidak menganggap Bagas itu ada.


"Alif sini makan sama enty?"


Alif langsung turun dari pangkuan ayahnya.


"Mas enggak di tawarin va?" Basa-basi. Diana hampir tersedak dan langsung membuka minuman yang ia beli.


"Beli aja sendiri." Ucapnya tak memperdulikan tatapan tajam dari mas nya.


Diana hanya makan dalam diam, menunduk. Tapi sungguh ia sangat gerogi dengan Bagas yang terus menatapnya tanpa berkedip. Ibarat saat ini Diana adalah objek yang sangat menarik untuk di pandang olehnya.


Sudah lama sekali aku tidak melihatmu seperti ini, Diana tolong lihat aku sekali saja. Lihat aku yang kini melihatmu. Apa hanya sekedar melirikku juga sangat sulit untukmu? Sakit sekali rasanya Diana, melihat kamu datang bersama Rama. Bahkan kamu menganggap aku tidak ada disini. Aku rindu kamu na, rindu.


Hampir saja air matanya jatuh, segera ia memalingkan wajah dan membuang pandangannya ke arah lain. Takut terlihat oleh yang lain.


"Gas, mas mau keluar sebentar. Nanti kembali lagi, kalau ada apa-apa cepat kabarin ya. Mas ada urusan di luar."


"Ya udah mas."


"Na, va, mas keluar dulu jaga ibu ya."


"Iya mas." Jawab Diana dan Eva serentak.


"Mas, kalau balik kesini mas belikan cemilan buat Eva sama Alif ya." Ucap Eva sebelum Andre menghilang dari balik pintu.


"Iya." Jawabnya tanpa menghentikan langkahnya.


Beberapa menit di dalam ruangan ini, keadaan canggung tak kunjung berlalu.


"Na?" Tegur Bagas yang saat ini sudah tidak lagi bisa menahan setiap unek-unek nya.


"Iya." Menjawab tanpa menoleh.


Eva yang mengerti keadaan ini, langsung mengajak Alif keluar ruangan untuk sekedar mencari angin, dan meninggalkan kakaknya agar dapat berbicara tanpa canggung.


Bagas berjalan mendekat ke istrinya setelah Alif dan Eva sudah keluar.


"Sayang." Dengan suara bergetar Bagas memanggil.


Diana diam tidak menjawab.


"Sudah berapa lama sejak kamu ninggalin aku na."


Masih diam tidak menjawab. Jangan ditanya bagaimana detak jantung Diana saat ini, kalau bisa melompat mungkin bakal melompat dari tempatnya.


"Sayang, ayah mohon, bicaralah walau hanya satu kata."


"Rindu." Ucap Diana dan meneteskan air matanya. Spontan Bagas memeluknya dengan erat. Mencium setiap inci wajah istrinya. Diana pasrah dan tidak menolak.


Mengelus puncak kepala istrinya, yang sudah lama tidak ia lakukan. Bagas kembali mengingat dimana terakhir kali dimana Diana pergi meninggalkannya.


"Apa anakku sehat di dalam sini?" Dengan air mata yang lolos jatuh, Bagas bertanya dan memegang wajah istrinya, memaksa untuk menatapnya.


Diana hanya menagguk.


"Maafkan ayah nak, maafkan ayah. Sudah cukup bagi ayah menerima hukuman ini, jauh dari bunda mu, sudah cukup buat hidup ayah kacau, cukup nak. Maaf kan ayah." Memeluk istrinya dan mengelus perut yang mulai terlihat timbul dengan seiring perkembangan janin yang Diana kandung.


Kenapa aku sangat bahagia sekali rasanya, bahkan hanya karena ayahnya mengajak bicara.


Ternyata, tanpa mereka tau, ibunya sudah sadar, dan jelas melihat kejadian ini, melihat anaknya dan menantunya kembali bertemu, sengaja ia tak bersuara.


Ya Allah, jika karena sakit ku mereka bisa bersatu kembali aku rela dan ikhlas menerima ujian mu ini. Yang penting anakku dan menantuku kembali hidup dengan bahagia, terima kasih ya Allah, kau telah memberi kesakitan yang luar biasa, dan engkau gantikan dengan bahagia yang setimpal.


Air mata bahagia juga ia teteskan melihat keadaan haru di dalam ruangan itu.

__ADS_1


***


Dah ya, sesuai janji ku. Dan mana like nya??? Hayo siapa yang baperrr bacanya???


__ADS_2