Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 52


__ADS_3

"Apakah kita harus pulang sekarang?"


Pertanyaan Diana yang membuat Bagas menoleh saat membereskan perkakas lainnya.


"Kamu maunya gimana sayang?"


"Besok pagi saja, rasanya aku sangat lelah."


"Baiklah, kalau begitu istirahat lah kembali, ayah mau keluar sebentar ajak Alif keliling desa."


Saat ini Diana masih merasa canggung berada dekat dengan suaminya. Untuk memulai momen manis juga masih ia pikirkan, memang benar ya jika kita berpisah dengan seseorang dalam keadaan sakit hati, jika bertemu kembali ada rasa yang berbeda walaupun hati sudah memaafkan.


Diana kembali tertidur, hari ini ia hanya menghabiskan waktunya di kasur. Alif asik sendiri dengan ayahnya, toh aku juga memang sangat tidak merasa enakan saat ini, biarlah Alif bersama ayahnya dulu, pikirnya.


"Ayah kita mau kemana?"


"Kita beli gorengan ya sayang, di warung sana. Itu dulu temannya nenek."


Tujuannya saat ini adalah berkunjung ke rumah Mak Ros. Sahabat lama ibunya.


"Alif juga sering kesana sama bunda."


"Iya ngapain sayang?"


Dan Alif pun terus mengoceh tiada henti hingga tak terasa berjalan sudah sampai di warung. Kali ini warung sepi, mungkin para penggosip yang siap siaga mencetak berita hangat lagi pada tidur di rumah.


"Assalamualaikum."


Ucap Bagas sopan.


"Walaikumsalam. Mau beli apa ya?" Kaget. "Loh Alif, biasa sama bunda nak?"


Memperhatikan Bagas dengan seksama.


"Bundanya sakit mak." Jawab Bagas dan tersenyum.


"Apa kamu ayahnya Alif?" Sedikit ragu bertanya. Bagas juga sengaja tak memberi tau dia siapa, biarkan mak Ros menilai sendiri, masih ingat atau tidak, pikirnya.


"Apa kamu Bagas?" Dan meneliti lebih jeli.


Bagas tertawa dan menurunkan Alif dari gendongan. Kemudian menyalim tangan mak Ros dengan sopan.


"Iya mak, aku Bagas."


"Bagas borok? Kenapa bisa berubah seperti ini, ganteng sekali uy." Pujinya dengan jujur.


"Jangan di sebut juga lah mak boroknya."


"Ya Allah apa kabar kamu nak? Ayo duduk dulu, mak buat kan teh manis dingin kesukaan kamu ya."


Bagas mengangguk.


Obrolan hangat pun terjadi, Bagas menceritakan kalau ibunya saat ini sedang dalam keadaan tidak sehat, dengan syok mak Ros mengucap "Inalillahi." Dan mencoba memberi ketegaran untuk Bagas. Dengan ragu mak Ros kembali bertanya, kenapa saat ini istri dan anaknya bisa ke desa ini? Awalnya Bagas enggan menceritakan, karena itu adalah aibnya. Namun setelah menimang rasanya tak apalah, sekalian mendengar masukan yang akan di berikan orang yang lebih tua.


"Kenapa kamu mengulangi perbuatan orang tuamu nak?"


"Aku khilaf mak. Ya ini udah aku jadikan pelajaran. Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri, untuk selalu mengutamakan keutuhan rumah tanggaku."


"Baguslah, setelah ini hidup lah lebih baik lagi."


"Iya mak."


"Oh iya, Diana sakit apa emangnya gas?"


"Biasa mak, ngidam."


"Lah, jadi Diana sendang hamil? Ya Allah, kasian sekali dia selama disini tanpa kamu."


Hampir saja Mak Ros keceplosan tentang Diana yang sering bersama Rama.


"Maka sebab itu mak, besok pagi kami akan kembali ke kota."


"Besok? Baru aja kita jumpa nak, Hem sudah harus berpisah lagi. Mak sangat rindu ibumu, kalau ada waktu Minggu depan Mak akan ke kota lihat ibumu."


"Iya mak, ya udah nanti aku sampaikan salam dari mak buat ibu. Jadi ke inget dulu mak."


"Apa?" Tanya mak Ros penasaran.


"Ya itu, mak kan yang bilang kalau di sunat borok di badan ku bakal hilang, haha. Tapi enggak di kasih ayah sama ibu, karena masih terlalu kecil."


"Ya ampun, kamu masih ingat aja ya gas."


"Masih lah mak."


Hampir satu jam lamanya Bagas bercengkrama dengan mak Ros. Keadaan hangat ini akan segera berakhir, ada tatapan sedih di wajah mak Ros. Mungkin ia mengasihani nasib hidup keluarga Bagas, terutama dengan Diana.


Dan kenapa hanya mak Ros lah yang menjadi teman akrab ibunya? Padahal banyak tetangga yang lain, kenapa hanya dia? Karena memang mak Ros adalah orang yang tulus, tidak suka menggunjing di belakang. Selalu menutup rapat rahasia orang lain, hal itu lah yang menjadi kan ibu Ramini akrab dengannya. Menceritakan semua keluh kesahnya saat di duakan oleh ayah Bagas. Dan, yang mengetahui bahwa Rama adalah anak dari ayahnya, hanya mak Ros lah yang tau persis bagaimana ceritanya.


"Gas, tunggu. Bawa ini untuk ibumu."


"Apa ini mak?" Melihat amplop berwarna coklat, isinya tipis. Apakah uang batinnya.


"Biarkan ibu mu yang buka. Terserah dia akan membaca di hadapan kalian atau tidak, yang penting kamu enggak ada hak untuk buka duluan. Ingat, itu amanah. Dan jika ibumu bertanya dan bingung, boleh langsung bertanya dengan mak ya."


"Iya Mak, tapi ini kan surat? Surat dari siapa?"


Masih penasaran.


"Udah, nanti juga bakal tau kalau ibumu memberi tau."


"Baik lah. Aku permisi mak, jaga kesehatan ya mak. Ayo Alif salam sama nenek."


Alif pun menyalim tangan mak Ros.


Bagas kembali berjalan pulang ke rumah dengan membawa plastik berisi jajan dan gorengan.


Aku penasaran surat apa ini?


Itu lah yang saat ini ia pikirkan.


"Ayah, kita main kesana yuk?"


Tunjuk nya ke arah pinggiran sawah yang membentang, dengan pemandangan yang seluruhnya hijau.


"Iya nanti ya sayang. Masih panas, lagian Alif kan belum tidur siang."


"Tapi ayah janji ya, nanti kita main kesana kalau Alif udah bangun tidur. Soalnya kalau sama om Rama Alif di ajak main kesana."


Rama lagi Rama lagi.


Bagas diam tak menjawab.


"Ayah?" Panggilnya lagi setelah sampai di depan rumah.

__ADS_1


"Apa ayah masih marah sama om Rama? Bukan kah kata bunda harus selalu memaafkan, kayak Alif maafkan ayah tadi."


Deg..


Bagas tersengat oleh ucapan anaknya sendiri.


Ya Allah, istri ku memang mendidik anakku dengan sangat baik.


"Iya sayang. Ayah enggak marah lagi."


"Ayah enggak bohong kan?"


Bagas hanya tersenyum dan menggeleng.


Insyaallah ayah akan memaafkan, seperti bunda mu yang masih mau memaafkan ayah.


"Udah sekarang coba Alif bangunkan bunda, bilang kalau ayah beli sesuatu, biar ayah siapkan di piring. Setelah itu baru lah Alif tidur."


"Iya ayah."


Berlari menuju kamar untuk membangunkan bunda nya, sesuai perintah ayahnya.


...***...


Di gang sempit ini lah, seorang lelaki mencari alamat, dengan bertanya kesana-kemari kepada setiap warga yang ia jumpai.


"Makasih ya pak."


Ucapnya setelah mendapat pentunjuk alamat yang jelas.


Ia berjalan melewati rumah demi rumah yang tersusun rapi meski di dalam gang sekalipun. Bersih, tampak nyaman. Di balik gang sempit ini ternyata sangat luas dalamnya, tampak ramai. Dan ada salah satu warung yang banyak dikunjungi pembeli. Ya itulah alamat tujuannya saat ini.


"Permisi, apa benar ini rumahnya Risah?"


Tanya seorang lelaki berbadan tegap.


"Iya, siapa?" Jawab ibunya.


"Saya adalah utusan dari keluarga ibu Luna. Suami dari bapak Darma. Bisakah saya bicara sebentar dengannya?"


Ibunya langsung tersentak, jelas kaget. Mau apa dia mencari anakku? Batinnya.


"Memangnya ada perlu apa?" Masih dengan ketus bertanya.


Lelaki itu memandang sekeliling, menunjukkan bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk bicara, karena banyaknya pasang mata yang sedari tadi memandang dengan tatapan penasaran.


Ibunya pun tersadar, lalu memberinya ijin untuk masuk ke rumah.


"Duduk lah, saya akan panggilkan Risah."


Mengangguk dan duduk di kursi kayu jaman dulu milik ibunya Risah.


"Mau apa dia bu?"


Tanyanya gemetar takut.


"Sudah, temui saja. Ibu akan kembali ke warung, soalnya lagi ramai pembeli. Kalau ada apa-apa kamu teriak aja."


Kemudian mereka berjalan ke ruang tamu, dimana sosok lelaki itu menunggu.


"Silahkan berbicara, saya tinggal dulu."


Pergi meninggalkan Risah sendiri.


Penampilan nya seperti itu bodyguard, hanya saja wajahnya tidak terlalu seram.


"Begini, saya adalah anak buah dari orang tua ibu Luna. Dan saya kesini untuk menjemput anda, karena ada hal penting yang harus keluarga mereka bicarakan dengan anda." Terangnya, membuat degup jantung Risah tidak karuan.


"Untuk apa?" Dengan suara bergetar.


"Sebaiknya ikut saja nona, tenanglah, mereka hanya ingin berbicara, bukan ingin membunuh anda."


Jleb.


Rasanya malah makin parah saja perkataanya.


"Kapan?"


"Sekarang nona, silahkan bersiap. Mereka sudah menunggu di kafe di daerah sini."


Risah belum bergerak hanya diam.


"Saya akan mengantar anda kembali kesini dengan keadaan utuh. Jadi bersiaplah sekarang, waktu mereka tidak banyak. Bukan kah hal yang tidak pantas jika membuat orang lain menunggu."


Ha? Apa maksud perkataannya.


"Ba, baiklah tunggu sebentar."


Risah hanya mengambil tasnya, kemudian memakai jaket Hoodie dan masker. Memakai maskernya dan menutup kepalanya dengan topi jaket miliknya.


"Ayo."


Ucapnya dan berjalan keluar.


Nona,nona, sepertinya anda terlalu takut saat ini. Batin lelaki itu.


"Bu, aku keluar sebentar."


"Mau kemana nak?" Ibunya panik, kenapa mereka malah pergi, batinnya.


"Permisi."


Ucap lelaki itu tanpa menjawab pertanyaannya.


Mau kemana mereka, bagaimana ini jika mereka melakukan sesuatu kepada anakku? Apa yang harus aku lakukan sekarang.


"Mpok, ini uangnya, kok malah melamun."


Tegur salah satu pembeli, yang sejak tadi memangil ibu Risah namun tidak di dengar.


"Eh iya ya, makasih ya."


...***...


Disini lah sebuah keluarga berkumpul, di cafe yang suasana santai. Sebuah kafe yang berada di atas kolam ikan, dengan duduk beralaskan karpet, satu meja panjang di depannya. Dan itu sudah nampak mewah.


"Kenapa lama sekali mereka." Ucap Luna yang memang sudah menunggu kehadiran Risah.


"Tunggulah sebentar sayang. Pasti mereka akan datang."


Lelaki tua menenangkan.


Melihat ke arah sekeliling mencari keberadaan yang di tunggu sudah tiba atau belum. Dan tak lama muncul dua sosok orang yang mereka tunggu.

__ADS_1


"Silahkan, saya permisi."


Ucap lelaki itu yang mengantarkan Risah ke hadapan keluarga Luna, dan berlalu pergi begitu saja.


Risah hanya berdiri mematung, memandang keadaan sekitar. Sungguh ia sangat bingung harus apa.


Apakah aku akan di sidang dan lalu di hina habis-habisan disini, apakah akan seperti kejadian yang sering viral di sosmed? Ah ya ampun, kakiku sudah bergetar, kuat ya nak. Bantu ibumu menghadapi semua ini.


"Risah, kenapa berdiri disitu? Duduk lah disini."


Tegur Luna dengan ramah.


Apakah ini sandiwara awalnya?


"I..iya mbak."


Gugup dan berjalan dengan tersenyum, menatap satu persatu orang yang ada disana lalu mengangguk sopan.


Aku bahkan tidak pernah bersikap begini kepada keluargaku.


"Kamu pasti bingung kenapa kamu kami undang untuk datang kesini?" Pertanyaan yang di berikan kepada papa Luna.


Disini ada empat orang yang hadir. Yakni, Luna, mamanya, papanya serta asisten papanya yang waktu itu menjemput Luna di rumahnya.


Risah hanya mengangguk.


"Kami adalah keluarga yang terpandang." Menggantung kalimatnya.


Benarkan benar, pasti aku akan dihina habis-habisan. Pasti aku akan di Katai sebagai pelakor miskin.


"Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum kamu dengar."


Spontan Risah mengangkat wajahnya, dan menatap lelaki tua itu yang berbicara.


Apakah papanya seorang cenayang? Bahkan ia tau apa yang aku katakan.


Saat ini mamanya Luna lah yang sangat nampak tidak suka dengan Risah, kelihatan dari cara ia melirik dan melihat Risah. Yang lain masih menatap dengan sewajarnya.


"Saya tau, saya yang salah pak. Jadi saya juga pasrah dengan hukuman apa pun, dan tuntutan apapun dari pihak yang merasa dirugikan." Akhirnya Risah bersuara.


Kembali mengatur nafasnya yang sedari tidak terasa sesak.


"Tolong, kamu jawab pertanyaan saya dengan jujur."


Mengangguk lagi.


"Apakah waktu itu, kamu yang lebih dulu menggoda atau memang Darma yang menginginkan kamu?"


Dengan cepat Risah menjawab.


"Dia yang mengganggu saya, dengan mengimingi sejumlah uang yang cukup besar. Dan saya mau, saya sempat menolak, tetapi saya tergiur dengan uang itu."


"Baik lah, saya terima alasan kamu." Melihat ke arah Luna. "Lalu jika saat ini, Darma akan menikahi kamu dengan bukti sebagai tanggung jawabnya apakah kamu mau?"


"Tidak." Menggeleng cepat.


"Kenapa? Bukan kah anak yang saat ini kau kandung adalah anaknya?"


"Lebih baik anak ini hidup tanpa ayah, dan biarkan saya menanggung semua kesalahan saya, dengan hidup di penjara sekalipun saya akan terima."


Sontak Luna membulatkan matanya.


"Risah? Apa maksudmu?"


"Bukan kah mbak juga sudah tau, sewaktu saya bilang kalau pihak yang di rugikan akan menuntut saya."


Luna terdiam, memang benar waktu itu Risah sudah menjelaskannya.


"Kamu itu masih gadis, seharusnya ya masih gadis. Tapi, kamu sudah berani menghancurkan rumah tangga orang lain. Hanya karena uang, kamu rela menghancurkan kebahagiaan orang lain. Apa sebelumnya kamu tidak berpikir dahulu."


Kata-kata pedas keluar dari mulut mama Luna.


Luna hanya diam, karena memang itu benar. Dan untuk apa ia membela Risah.


"Kalau saya tidak mikir image keluarga saya, sudah habis kamu saya Jambak." Berkata tanpa menatap atau melirik Risah.


Risah menelan salivanya. Rasanya memang keadaan ini sungguh membuat mentalnya menciut.


"Tapi saya juga ingin berterima kasih sama kamu, karena kamu sudah berani datang ke rumah anak saya dan membongkar semuanya. Dan dengan begitu kami juga tau, baj**an sepertinya memang tidak pantas menjadi bagian keluarga kami. Ternyata selama ini bukan hanya kamu korbannya, sudah banyak. Tapi hanya kamu yang berani datang dan berontak."


Risah kaget, jadi bukan hanya aku? Lalu bagaimana nasib mereka yang sama sekali tidak dapat pertanggung jawaban dari Darma? Batinnya.


"Kamu tidak usah kaget, selama ini sudah banyak mata-mata saya yang melapor, tapi hanya saya anggap angin lalu, toh rumah tangga anak saya baik-baik aja, pikiran saya waktu itu, tapi kalau begini saya siap menarik Luna kembali dan saya pastikan tidak akan kembali lagi dengan Darma."


Risah hanya menunduk.


"Baik lah, mungkin hanya itu yang ingin saya sampaikan, ini cek untukmu, sebagai rasa terima kasih saya karena telah berhasil memisahkan anak saya dari baj**an sepertinya. Hidup lah dengan baik setelah ini. Anggap saja ini rezeki untuk anak kamu."


Risah tak menyentuh cek yang telah di letakkan di atas meja.


"Ambilah Risah, meskipun saya marah sama kamu, tapi semua sudah terjadi." Ucap Luna.


"Ayo ambil, bukankah yang kamu pikirkan hanya uang dan uang." Kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya.


"Ma." Luna memperingatkan.


"Maaf pak, bu, juga mbak Luna. Saya enggak bisa ambil cek ini." Menggeser kan kembali ke arah papanya Luna. "Dan maaf saya permisi." Berdiri dan segera pergi dengan beriringan jatuhnya air mata.


"Dasar munafik, sok nolak. Padahal butuh, cih." Mama Luna yang emosi.


"Biar Luna kejar pa, Luna mau kasih cek ini untuknya."


Berdiri dan kembali mengejar Risah.


"Risah tunggu."


Teriaknya.


"Ambilah, jangan menolak. Ini untuk anakmu, walaupun aku membencimu saat ini tapi anak itu tidak berdosa. Kamu pasti akan membutuhkannya nanti."


Diam dan memandang cek di tangan Luna yang di sodorkan kepadanya.


"Ambil." Tak sabar dengan Risah, Luna menarik tangannya dan menggenggam kan cek itu di tangannya.


"Jika suatu saat kita bertemu lagi, aku harap kamu sudah hidup jauh lebih baik dari yang sekarang."


Berbalik dan pergi meninggalkan Risah yang mematung sambil menggenggam cek yang di berikan Luna.


Semoga di suatu saat itu aku masih ada di dunia ini. Risah.


Menghapus air matanya, dan berjalan untuk kembali pulang.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2