Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 54


__ADS_3

"Assalamualaikum, mas."


Ucap Bagas sopan.


"Walaikumsalam."


Tuan rumah menyambut hangat.


"Kamu gas? Eh-"


Mita kaget seakan tak percaya melihat Diana yang juga ikut berkunjung kerumahnya. Adiknya hanya tersenyum dan mengedipkan matanya berkali-kali, bergaya sok imut seperti boneka


"Mas, Mas, liat siapa yang datang!" Teriak Mita antusias.


"Udah tau lah sayang." Sahut Anton santai dari dalam rumah. Membaca koran dengan menopang kaki.


Huh jadi udah tau ya, kebiasaan deh enggak pernah ngasih tau aku.


"Ya udah ayo masuk mau nunggu apa?"


Melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Mas."


Panggil Diana.


Menoleh, mengalihkan pandangan dari koran yang ia baca.


"Iya? Loh kamu kok disini na?" Kaget dan langsung melipat koran yang ia pegang.


"Aku yang jemput kemarin mas." Bagas menjawab dengan nada gembira.


"Mas, tadi katanya udah tau? Kenapa sekarang mas juga kaget kalau Diana ikut?" Anton menggeleng.


"Bukan sayang, mas kira hanya Bagas yang datang. Makannya mas bilang udah tau, karena kan memang mas yang nyuruh Bagas datang kesini. Taunya eh bawa itu." Menunjuk ke arah Diana.


"Apa?" Melotot ke arah Anton.


"Galak amat."


"Udah-udah. Sekarang Diana udah kembali, jadi-"


"Kembali dari khayangan." Jawab Anton asal memotong ucapan istrinya.


"Mas!!" Mencubit perut suaminya. "Kali ini serius mas!"


"Baik, siap ibu Mita."


"Iss." Keluhnya, Anton hanya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Sekarang Diana udah kembali gas, itu semua adalah keajaiban untuk kamu. Karena biasanya wanita yang sudah diselingkuhi rata-rata pasti akan meminta cerai. Ya walaupun saat ini posisi kamu di fitnah, tapi tetap aja, kamu juga udah pernah tidur dengannya kan? Jadi kamu jangan kaget jika ada sedikit perubahan sifat yang dimiliki Diana. Perbaiki semuanya, dan mas sarankan sama kamu untuk kedepannya kamu harus lebih sabar menghadapi Diana." Mengedipkan mata ke arah iparnya itu, dan Diana pun membalas dengan jari membentuk OK.


"Besok semua sudah bisa di proses, sebenarnya ya masih dua Minggu lagi, bisa pun sampai sebulan. Cuma kamu tau kan, sekarang semuanya bisa menggunakan uang. Jadi mas ikhlas bantu kamu, dan sebagai imbalannya kamu harus jaga dan tebus dosa kamu pada istrimu. Persiapkan diri kamu untuk menghadiri sidang dua hari lagi. Mas melakukan ini bukan semata-mata membela kamu yang jelas-jelas salah. Tapi semua demi Diana dan anakmu." Kembali berbicara dengan wibawanya.


"Lah mas, tapi kita belum datang untuk melapor?"


"Udah mas urus semuanya, kan mas udah bilang di negara ini atau di negara mana pun, hanya uang yang bisa bertindak. Kita hanya tunggu kehadiran mereka yang mendapat undangan untuk sidang, dan pengadilan yang memutuskan."


"Mas, kalau boleh tau berapa nominalnya?"


Tanya Bagas polos.


"Kenapa, mau kamu cicil dari sekarang?"


"Eh enggak, eh iya mas. Bukan, maksudnya aku udah banyak sekali berhutang Budi sama mas. Nah malah ini hutang uang lagi."


Mita tertawa mendengar ucapan adik iparnya.


"Gas, apakah tadi mas Anton ada bilang kalau kamu harus bayar?" Sambil tertawa Mita berbicara.


"Enggak sih kak." Menggaruk tengkuknya.


"Gas, kalau pun kamu berhutang kamu tuh berhutang sama mas, bukan berhutang sama Budi."


Krik..Krik..


"Apaan sih mas, garing!!" Berdiri dan berjalan ke arah belakang. "Kak masak apa? Ana laper?" Meninggalkan mereka semua yang masih duduk di sofa.


"Ya udah makan. Liat aja di lemari. Alif ayo kita sama bunda aja, biar pakde sama ayahmu disini."


Alif mengangguk dan mengikuti bunda dan budenya ke belakang.


Laper? Perasaan tadi baru aja makan nasi soto. Batin Bagas yang melihat istrinya sudah mencari makanan lagi.


"Na? Apa kamu belum makan tadi?"

__ADS_1


"Ana enggak masak kak, belum ada belanja, kan baru kemarin juga pulang ke rumah."


"Oh, jadi Alif belum makan juga?"


"Udah tadi, pas jalan kesini mampir ke warung nasi soto dekat pinggir jalan." Sambil mengunyah timun yang ia ambil di kulkas, di makan bersama dengan garam.


"Lalu, kenapa kamu enggak ikut makan juga? Jaga lah kesehatan kamu na, kamu kan lagi hamil." Mita memperingati adiknya dengan lembut.


"Ya ana ikut makan kok kak, malah pengen nambah."


"Ha? Jadi kenapa kamu bilang lapar tadi?"


"Hehe, iya."


Ana merengek minta dibuatkan agar-agar santan oleh kakaknya. Mita tidak bisa menolak, ini juga permintaan bayinya, pikirnya begitu. Untungnya semua bahan ada di rumah, jadi enggak perlu repot buat belanja lagi.


"Kakak masih ikut senam itu?" Kali ini ia mencocol kecap dengan tangan.


"Itu apalagi yang kamu makan sih na?" Geleng-geleng melihat ulah adiknya. "Enggak, itu hanya berlaku sampai dua bulan saja, ya kakak sih tetap senam biasa di rumah, senam kebugaran. Hanya cek up ke dokter aja yang rutin. Kakak berharap ya semoga kali ini bisa hamil na." Menunduk sedih.


"Udah kakak yang sabar. Kak, kalau nanti anak ana ini udah lahir, kakak boleh kok untuk mengurusnya." Menatap adiknya dengan serius. "Iya, soalnya ana pengen kerja kak, Bagas kan udah enggak kerja, jadi ya ana pikir ana harus bantu. Jadi kakak bisa jagain anak ana."


"Enggak-enggak, kamu ini. Kita enggak ada yang tau rezeki kita na. Kakak enggak setuju kalau kamu mau kerja. Lalu Alif juga nanti gimana? Bukankah ia juga harus masuk TK?"


Diana diam memikirkan perkataan kakaknya.


"Iya sih kak. Cuma ana pengen aja kerja gitu, biar banyak pergaulan."


"Niat kamu apa? Balas dendam? Itu enggak baik na!!"


Bentaknya.


"Enggak lah kak."


"Lalu apa? Na, anak kamu sebentar lagi akan nambah, jadi dua, bukan hanya Alif. Kamu harus memperhatikan anak-anakmu dengan ekstra. Kalau kamu berkerja, iya kakak bisa jaga mereka, tapi bukan kah kasih sayang orang tua akan lebih baik untuk pertumbuhannya?"


Diana terdiam.


"Udah, kamu banyak berdoa aja. Jangan pikirkan masalah ekonomi, insyaallah kakak masih bisa bantu kalian. Kalau sampai Alif masuk TK Bagas belum mendapat pekerjaan yang tetap, kakak janji, semua biayanya mulai dari uang jajan, kakak yang tanggung."


"Kak?" Diana sangat terharu, sangat. Ia memeluk kakaknya, tempat pengaduannya sebagai pengganti orang tuanya. Ia sampai meneteskan air matanya.


"Udah, jadi kamu jangan mikirin apa-apa lagi." Mengelus punggung adiknya dengan lembut. "Sekarang kakak tanya, dan kamu harus jawab dengan jujur. Apakah saat ini kamu menyesal telah memaafkan Bagas?"


Menggeleng dengan tertunduk menghapus sisa air matanya.


"Kak, insyaallah apa keputusan yang ana ambil saat ini akan menjadi hal baik untuk kedepannya. Biarlah masa lalu tetap ada luka, tapi ana udah berhasil melakukan apa yang di pesan kan emak kepada kita, menjadi wanita yang kuat." Mita tersenyum mendengar perkataan adiknya.


Sungguh anak-anak emak selalu ingat, walaupun sudah bertahun-tahun lamanya emak memberi pesan itu. Semoga emak tersenyum di surganya Allah, Mita.


"Bunda, ini agar-agar nya udah jadi?" Ternyata sejak tadi Alif menunggu di depan kulkas, mungkin ia juga bosan mendengar percakapan orang dewasa, yang kadang tertawa dan bisa juga tiba-tiba menangis.


"Oh iya sayang. Ya udah ayo kita bawa ke depan, biar ayah sama pakde ikut makan."


Oh tak sadar, ternyata satu jam lamanya kakak beradik ini berada di dapur, meninggalkan dua lelaki yang duduk hanya berbincang tanpa adanya suguhan air dan cemilan.


"Apa kalian di dapur membahas masalah proyek?"


"Iya mas kok tau." Jawab Diana.


"Iya soalnya sampai satu tahun kalian di belakang."


Mereka kompak menertawakan Anton yang terlihat syirik karena ditinggalkan.


"Bunda Alif mau." Mulutnya sudah tak sabar ingin segera memakan agar-agar santan yang terlihat segar.


"Iya sayang, bunda ambilkan ya?"


"Kamu selama ngidam enggak pengen yang aneh-aneh na? Entah misal pengen liat Bagas renang di sungai, atau memanjat tiang tower gitu?" Anton kembali memulai.


"Enggak kok mas."


"Atau makanan?"


"Enggak juga, Alhamdulillah anaknya baik, ya palingan pengen makan tapi enggak yang aneh-aneh sih." Mengambil sepotong agar-agar yang siap ia masukkan ke dalam mulut.


"Oh sayang sekali ya?" Anton manggut-manggut.


"Sayang apanya?" Menjawab dengan mulut penuh.


"Sayang kalau makan jangan sambil bicara nanti tersedak." Bagas mengingatkan.


Dengan cepat Diana menelan semua agar-agar yang berada di dalam mulutnya.


"Biarin aja, yang tersedak kan ana. Ayah tuh yang harus hati-hati makannya supaya enggak tersedak di hantui sama arwah tanaman!"

__ADS_1


"Kenapa masih di bahas, ya udah nanti pulang dari sini kita beli ya?"


"Enggak ah, udah gak mood." Menjawab dengan cueknya.


"Kenyataan di mulai." Gumam Anton sambil tertawa geli, dan yang mendengarnya hanya Mita.


Bagas hanya menghela nafas dan membuangnya dengan perlahan.


Sore hari Bagas dan Diana pamit untuk pulang. Alif tidak mau ketika di ajak untuk pulang, karena Anton membisikan sesuatu di telinganya.


"Sini aja, nanti malam kita jalan-jalan dan beli mainan yang banyak."


Tentu anak seusianya tergiur mendengar nama mainan. Alhasil hanya Bagas dan Diana saja yang pulang ke rumah.


...***...


Pukul 8 malam. Diana kembali mengomel hanya karena Bagas lupa mematikan TV. Kembali ke kamar, dan kembali lagi ke ruangan TV hanya untuk mengomeli suaminya.


"Besok-besok gas aja ya yah yang enggak di matikan, biar bledak terus gosong mukanya."


"Sayang, maaf ya ampun."


Kembali duduk dan menekan tombol remote berkali-kali, memindah saluran tv. Padahal tidak ada yang ia tonton. Sampai bosan sendiri Diana menyandarkan kepalanya di kursi, dan menatap lurus ke depan. Kemudian ia tersadar.


"Itu lukisan apa yah?" Nadanya kembali melembut, tidak seperti 2 menit yang lalu.


"Oh itu, itu lukisan yang ayah buat waktu itu, mencontoh dari foto kita." Pindah duduk untuk lebih dekat dengan istrinya.


"Ayah juga udah unggah ke sosmed, kamu enggak liat?"


Berdiri dan mengambil lukisan itu agar bisa melihat lebih dekat.


"Bagus. Tapi kenapa? Kenapa di unggah di sosmed segala yah? Biar di puji gitu, iya? Terus nanti ada wanita yang nanya-nanya terus ujungnya minta di lukiskan juga dianya, gitu ya?" Diana memang sangat berubah saat ini, entah mungkin bawaan bayi dalam perutnya, atau pun memang rasa takut untuk terjadi kedua kalinya.


"Ya ampun sayang enggak gitu lah." Bagas frustasi, karena satu hari ini sudah entah berapa kali melihat istrinya marah-marah.


"Ya udah coba buka aja ada enggak yang kayak gitu."


"Ya udah sini HP ayah." Menerima dan langsung membukanya.


Komentar pertama, berasal dari laki-laki teman satu kantornya dulu.


"Wah, keren sekali gas. Mau dong di lukis begini."


Diana langsung meminta Bagas melihatnya.


"Liat, liat. Tuh benarkan? Pasti ada yang minta di lukiskan!!"


"Sayang, tapi itu kan laki-laki. Coba kamu lihat komentar yang lain?" Pintanya dengan lembut.


Dan ada begitu banyak komentar yang menuai dengan pujian untuk Bagas. Bahkan ada yang ingin membayar mahal hanya karena ingin rumahnya di lukis.


Komentar terakhir yang terbawah, mereka melihat merasa tak asing.


Komentar:


"Wah, sehabis risigne ternyata mau jadi tukang lukis keliling ya?"


Melihat nama pemilik sosmed tersebut. "Darma Joehari"


Bagas langsung merebut HP nya dan memblokirnya.


"Kenapa di blokir yah?" Tanyanya.


"Udah, ayah malas liat wajahnya walau hanya melalui foto."


"Oh. Ana ngantuk yah, mau tidur. Alif enggak akan pulang, udah jam segini, pasti dia nginap di rumah kakak."


"Ya udah. Ayah matikan TV dulu ya, nanti kamu marah lagi gara-gara lupa matikan TV."


"Lampu juga sekalian jangan lupa!" Teriaknya sembari berjalan menuju kamar.


Mereka sudah berada di kamarnya saat ini. Diana meminta Bagas tetap menghidupkan lampu, biasanya hanya menggunakan lampu tidur.


"Kenapa sayang?"


"Enggak mau gelap."


"Ya udah iya." Hanya bisa menuruti semua kemauan istrinya.


Bagas memeluk Diana dari belakang. Mencium tengkuk leher istrinya, Diana menggeliat. Mulai melaksanakan aksinya, perlahan tapi pasti. Sebuah gairah yang ia tahan selama berbulan-bulan. Diana juga terbuai atas sentuhan suaminya, erangan panjang keluar dari mulutnya. Tapi ketika Bagas akan memulai, dengan seenaknya Diana berkata, "Kamu bau sekali sih yah, mandi dulu lah sana."


Bagas yang mendengar hanya bisa pasrah dan turun dari ranjang. Melaksanakan perintah istrinya demi bayi kecilnya yang sudah meronta karena sudah lama berpuasa. Saat kembali Bagas melihat Diana yang sudah tertidur dengan pulasnya, bahkan sampai mengeluarkan dengkuran.


Subhanallah, aku masih harus puasa ternyata.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2